Misteri Punden Joko Selining: Situs Keramat Tanpa Tumbal di Tengah Kebun Tebu Mojokerto
- Jejak Spiritual
- calendar_month Senin, 8 Jun 2026

NusaSpirit.com – Di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, tepatnya di tengah hamparan perkebunan tebu terdapat sebuah situs yang dikeramatkan oleh warga setempat.
Situs tersebut berupa sebuah batu yang dibalut kain poleng hitam-putih dan dikenal dengan nama Punden Joko Selining.
Batu yang berada di bawah cungkup sederhana ini tidak hanya dianggap sebagai benda bersejarah biasa, tetapi juga sarat dengan kisah tradisional dan aura mistis yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tak sedikit warga, baik dari wilayah sekitar maupun luar daerah, datang berkunjung ke lokasi ini untuk tujuan ngalap berkah dengan harapan memperoleh jalan keluar atas berbagai persoalan hidup, mulai dari masalah ekonomi, kemunduran usaha, hingga persoalan utang piutang.
Seorang sesepuh Dusun Bendo yang akrab disapa Mbah Min mengaku telah puluhan tahun mengenal dan menjaga lokasi tersebut. Ia menceritakan bahwa banyak orang datang ke Punden Joko Selining dengan berbagai keluhan.
“Rata-rata orang yang datang ke sini karena masalah finansial dan mengaku berhasil mendapatkan solusi. Meskipun hasil akhirnya tidak dapat dijamin karena kehendak Tuhan, banyak dari mereka yang kembali membawa kabar baik,” jelasnya.
Menurut Mbah Min, sebagian pengunjung bahkan rela datang untuk bermalam di kawasan punden, terutama pada malam Jumat Kliwon.
Mereka biasanya membawa beberapa perlengkapan ubo rampe, termasuk kembang telon, minyak Jafaron, rokok klobot, kemenyan, hingga dupa. Benda-benda ini dipercaya sebagai sarana pendukung untuk kelancaran prosesi doa.
Di sekitar bagian bawah batu juga tampak sejumlah peralatan sajen, seperti kendi dan wadah kecil, yang tertata rapi, mengisyaratkan bahwa lokasi ini masih aktif digunakan hingga kini.
Dalam masyarakat Jawa, sarana-sarana seperti kendi yang berisi air, bunga tabur, dan lain-lain tetap dipakai karena telah menjadi bagian dari uri-uri budaya nenek moyang dan diyakini sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur serta danyang atau penunggu yang menjaga lokasi tersebut.
Jejak Batu Kuno di Tengah Perkebunan Tebu
Perjalanan menuju lokasi Punden Joko Selining tidaklah mudah. Pengunjung harus melewati area perkebunan tebu dan jalan setapak di tengah lahan pertanian. Letaknya yang relatif tersembunyi justru menambah kesan sakral di mata masyarakat.
Di kawasan tersebut terdapat sebuah batu yang diyakini merupakan arca kuno, meski bentuknya tidak lagi utuh akibat kerusakan di masa lalu. Mbah Min mengaku pernah terlibat dalam upaya konservasi arca yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) daerah agar arca tidak hilang atau rusak lebih parah.
Menurut penuturannya, nama Joko Selining bukanlah nama asli arca tersebut. Istilah itu muncul dari penyebutan masyarakat terhadap bentuk arca yang tidak utuh atau hanya menyerupai sebagian tubuh manusia.
“Kalau dilihat dari struktur batunya hanya separuh atau tidak sempurna. Orang Jawa sering mengaitkan nama dengan bentuk benda, akhirnya disebut Joko Selining,” katanya.
Selain Punden Joko Selining, kawasan Dusun Bendo juga memiliki sejumlah titik yang dianggap bersejarah, seperti Situs Kumitir, Punden Mbah Saguh, hingga batu berbentuk kursi yang keberadaannya telah dikenal warga sejak lama.
Cerita Mistis dan Legenda yang Masih Hidup
Selain nilai sejarah, kawasan ini lekat dengan cerita mistis yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu kisah paling dikenal adalah suara derap kaki kuda yang konon sering terdengar pada malam-malam tertentu.
Menurut Mbah Min, fenomena itu dahulu kerap didengar warga sebelum listrik masuk desa. Suara kuda berlari disertai bunyi kerincingan disebut melintasi permukiman, terutama pada malam Jumat Legi dan Jumat Kliwon.
“Pada zaman dulu, suara seperti itu masih wajar dan sering terdengar hampir seluruh warga kampung. Ada yang percaya itu adalah penghuni gaib penjaga desa yang sedang berkeliling,” ungkapnya.
Di sekitar area situs juga tumbuh pohon-pohon besar yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun, seperti randu dan kepuh.
Warga meyakini pohon-pohon tersebut tidak boleh ditebang sembarangan. Menurut penuturan Mbah Min, dahulu pernah ada tiga orang remaja yang melakukan pembakaran terhadap pohon kepuh. Namun, nahas, usai kejadian itu, mereka tiba-tiba dinyatakan meninggal.
“Iya, dulu ada tiga remaja, entah iseng atau apa, tiba-tiba mereka membakar pohonnya. Setelah pohon itu tumbang dan mereka sudah berada di rumah masing-masing, saat itu juga mereka tidak sadarkan diri dan meninggal. Entah takdir atau bukan, yang jelas peristiwa itu terjadi tepat setelah mereka membakar pohon,” kata Mbah Min.
Dalam tradisi lokal, penebangan pohon besar yang dianggap wingit biasanya didahului selamatan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan leluhur.
Keyakinan Sebagai Lokasi Ritual Penglarisan
Hal yang membedakan Punden Joko Selining dari sejumlah lokasi ritual lain yang kerap disalahartikan dengan kesan negatif adalah adanya keyakinan bahwa tempat ini tidak menuntut syarat-syarat yang terkesan ekstrem.
Pengunjung hanya diminta berdoa sesuai keyakinan mereka, tanpa kewajiban persembahan tertentu yang memberatkan.
“Tidak pernah ada cerita soal tumbal. Setidaknya selama saya tahu dan mendampingi orang ke sini, tidak pernah ada permintaan seperti itu,” ucap Mbah Min. Peran Mbah Min juga sebatas mengarahkan pengunjung, sementara niat dipanjatkan langsung oleh pribadi masing-masing.
Di luar kisah mistisnya, Desa Kumitir secara historis memang bukan wilayah asing dalam kajian sejarah Jawa Timur. Hal ini diperkuat dengan berbagai penemuan berupa situs purbakala yang diidentifikasi arkeolog sebagai peninggalan dari pendharmaan Mahesa Cempaka, yang merupakan salah satu tokoh penting zaman Singasari sekaligus kakek dari Raden Wijaya, pendiri Majapahit.
- Penulis: Ferdi Diningrat
- Editor: M. Ilman Arif
- Sumber: https://youtu.be/SBXYGogTAoU?si=mFaN4u41GpwnaKg-

Add your first comment to this post