Filosofi Tosan Aji Kuku Bima dan Jejak Spiritual Erwin Pandaan
- Berita Budaya
- calendar_month 5 jam yang lalu

NusaSpirit.com – Kisah-kisah mistis dan spiritual selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi mereka yang tertarik pada dunia supranatural dan tradisi leluhur.
Salah satunya datang dari sebuah perbincangan menarik yang membahas pengalaman bernuansa gaib dari seorang kolektor pusaka asal Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Percakapan itu berlangsung di kawasan Candi Belahan atau yang dikenal juga sebagai Sumber Tetek, situs bersejarah peninggalan Kerajaan Kahuripan yang berada di lereng Gunung Penanggungan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.
Pria yang mengaku bernama Erwin tersebut menuturkan pengalamannya yang telah melalang buana lebih dari 15 tahun menjalani perjalanan spiritual dengan mendatangi berbagai lokasi sakral di Jawa Timur.
Mulai dari kawasan Blambangan di Banyuwangi, Goa Istana Alas Purwo, hingga telaga Rowo Bayu yang disebutnya sebagai tempat paling berkesan dalam perjalanan batinnya.
Tak hanya mengangkat cerita spiritualnya, dalam sesi ngobrol santai itu, Erwin juga memperlihatkan sejumlah benda pusaka miliknya yang diklaim memiliki energi mistis. Mulai dari keris, pusaka Semar, hingga tongkat kayu stigi.
Di antara semua itu, ada satu benda khusus yang menurut Erwin paling berharga, yaitu sebuah pusaka bernama “Kuku Bima” yang disebut memiliki aroma harum khas yang tidak pernah hilang.
Sebagai informasi, Bima atau Werkudara dalam tokoh pewayangan merupakan salah satu anggota Pandawa yang konon memiliki kekuatan layaknya dewa. Oleh karena itu, jejak peninggalan yang berhubungan dengan tokoh ini sering dikaitkan dengan unsur kesaktian.
Sementara itu, Candi Belahan sendiri merupakan situs petirtaan peninggalan Raja Airlangga yang hingga kini masih kerap dikunjungi peziarah maupun pelaku spiritual dari berbagai daerah.
Mengaku Mendapat “Petunjuk” Spiritual dari Rowo Bayu Banyuwangi
Dalam perbincangan itu, Erwin mengaku kisah pengalaman spiritualnya yang masih melekat kuat dalam memorinya saat ia berada di kawasan Rowo Bayu, Banyuwangi.
Lokasi tersebut diyakini oleh sebagian masyarakat Banyuwangi sebagai petilasan Prabu Tawang Alun, tokoh legendaris yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Blambangan.
Tak hanya itu, lokasi yang terletak di lereng Gunung Raung ini sudah sejak lama terkenal dengan aura mistisnya. Bahkan, banyak warga menyebut kawasan itu identik dengan tempat pertapaan dari Raja Blambangan dan tokoh penting kerajaan zaman dulu.
Saat melakukan perjalanan supranaturalnya, ia menceritakan pernah melihat cahaya terang ketika bermeditasi di kawasan tersebut. Cahaya itu disebut berbeda dengan cahaya biasa dan memunculkan sensasi ketenangan luar biasa.
“Saya melihat cahaya yang tidak bisa dijelaskan, yang tiba-tiba muncul begitu saja tepat di hadapanku, di alam bawah sadar. Bukan seperti lampu atau bulan. Rasanya sangat damai dan tenang,” katanya.
Menurutnya, pengalaman itu datang setelah beberapa hari dirinya mengalami dengungan di telinga dan dorongan batin untuk mendatangi Rowo Bayu. Ia menyebut pengalaman itu sebagai bagian dari beberapa kisah yang menurutnya tidak bisa dijelaskan secara akal dan logika biasa.

Doc. Foto Tosan Aji Kuku Bima
Menurut Erwin, benda-benda pusaka miliknya banyak ia dapatkan di aliran sungai, pemberian orang dan beberapa lokasi yang dianggap memiliki jejak sejarah leluhur.
Seperti “Kuku Bima”, yang berbentuk menyerupai bilah besi kuno kecil yang telah membatu. Erwin mengklaim benda itu berfungsi untuk meningkatkan kewibawaan, dan perlindungan diri. Bahkan, aromanya tetap bertahan meski tanpa diberi minyak wangi tambahan.
“Kalau filosofi Kuku Bima itu untuk kewibawaan, derajat, dan pagar badan,” kata dia.
Kisah Burung Perkutut Ketakutan Saat Pusaka Dibawa Masuk Rumah
Salah satu cerita yang paling membuatnya takjub adalah ketika Erwin memperlihatkan tosan aji berbentuk Semar Sungkem yang disebut ditemukan di aliran sungai kawasan Pandaan.
Menurut pengakuannya, setiap kali benda sakral itu dibawa masuk ke rumah, burung-burung perkutut peliharaannya langsung terlihat ketakutan dan beterbangan.
“Saya masuk rumah bawa pusaka itu, burung perkutut langsung geber semua seperti ketakutan,” ujarnya.
Karena penasaran, ia kemudian mencoba menaruhnya di luar rumah. Setelah pusaka dijauhkan, burung-burung itu disebut kembali tenang seperti biasa.
Erwin menduga ada energi tertentu yang membuat hewan-hewan tersebut menjadi sensitif. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti jenis “khodam” atau energi yang dipercaya berada di dalam Semar Sungkem.
Selain Semar Sungkem, ia juga menunjukkan pusaka lain berbentuk Semar Mesem yang disebut memiliki fungsi sebagai sarana pengasihan atau daya tarik sosial.
“Kalau yang ini untuk pengasihan, supaya disenangi orang,” katanya sambil memperlihatkan pusaka yang diklaim ditemukan di wilayah Banyuwangi.
Di akhir perbincangan, kolektor asal Pandaan itu berpesan supaya menjaga budaya dan nilai-nilai leluhur Jawa di tengah perkembangan zaman modern.
Menurutnya, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kemampuan masyarakatnya menjaga tata krama, kejujuran, dan warisan budaya.
“Kalau ingin negara maju, keluhurannya harus dijaga. Budaya Jawa itu luar biasa, dari tata krama sampai nilai kehidupan,” ujarnya.
Ia juga menilai generasi muda perlu mengenal pusaka dan budaya leluhur bukan dimaknai sebagai benda mistis, melainkan bagian dari sejarah panjang Nusantara yang memiliki nilai filosofi tinggi.
- Penulis: Ferdi Diningrat
- Editor: M. Ilman Arif
- Sumber: https://youtu.be/0xLsgVGOWf8?si=T_WfTpusGkO2irp2

Add your first comment to this post