Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Beranda » Berita Budaya » Filosofi Tosan Aji Kuku Bima dan Jejak Spiritual Erwin Pandaan

Filosofi Tosan Aji Kuku Bima dan Jejak Spiritual Erwin Pandaan

NusaSpirit.com – Kisah-kisah mistis dan spiritual selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi mereka yang tertarik pada dunia supranatural dan tradisi leluhur.

Salah satunya datang dari sebuah perbincangan menarik yang membahas pengalaman bernuansa gaib dari seorang kolektor pusaka asal Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Percakapan itu berlangsung di kawasan Candi Belahan atau yang dikenal juga sebagai Sumber Tetek, situs bersejarah peninggalan Kerajaan Kahuripan yang berada di lereng Gunung Penanggungan, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.

Pria yang mengaku bernama Erwin tersebut menuturkan pengalamannya yang telah melalang buana lebih dari 15 tahun menjalani perjalanan spiritual dengan mendatangi berbagai lokasi sakral di Jawa Timur.

Mulai dari kawasan Blambangan di Banyuwangi, Goa Istana Alas Purwo, hingga telaga Rowo Bayu yang disebutnya sebagai tempat paling berkesan dalam perjalanan batinnya.

Tak hanya mengangkat cerita spiritualnya, dalam sesi ngobrol santai itu, Erwin juga memperlihatkan sejumlah benda pusaka miliknya yang diklaim memiliki energi mistis. Mulai dari keris, pusaka Semar, hingga tongkat kayu stigi.

Di antara semua itu, ada satu benda khusus yang menurut Erwin paling berharga, yaitu sebuah pusaka bernama “Kuku Bima” yang disebut memiliki aroma harum khas yang tidak pernah hilang.

Sebagai informasi, Bima atau Werkudara dalam tokoh pewayangan merupakan salah satu anggota Pandawa yang konon memiliki kekuatan layaknya dewa. Oleh karena itu, jejak peninggalan yang berhubungan dengan tokoh ini sering dikaitkan dengan unsur kesaktian.

Sementara itu, Candi Belahan sendiri merupakan situs petirtaan peninggalan Raja Airlangga yang hingga kini masih kerap dikunjungi peziarah maupun pelaku spiritual dari berbagai daerah.

Mengaku Mendapat “Petunjuk” Spiritual dari Rowo Bayu Banyuwangi

Dalam perbincangan itu, Erwin mengaku kisah pengalaman spiritualnya yang masih melekat kuat dalam memorinya saat ia berada di kawasan Rowo Bayu, Banyuwangi.

Lokasi tersebut diyakini oleh sebagian masyarakat Banyuwangi sebagai petilasan Prabu Tawang Alun, tokoh legendaris yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Blambangan.

Tak hanya itu, lokasi yang terletak di lereng Gunung Raung ini sudah sejak lama terkenal dengan aura mistisnya. Bahkan, banyak warga menyebut kawasan itu identik dengan tempat pertapaan dari Raja Blambangan dan tokoh penting kerajaan zaman dulu.

Saat melakukan perjalanan supranaturalnya, ia menceritakan pernah melihat cahaya terang ketika bermeditasi di kawasan tersebut. Cahaya itu disebut berbeda dengan cahaya biasa dan memunculkan sensasi ketenangan luar biasa.

“Saya melihat cahaya yang tidak bisa dijelaskan, yang tiba-tiba muncul begitu saja tepat di hadapanku, di alam bawah sadar. Bukan seperti lampu atau bulan. Rasanya sangat damai dan tenang,” katanya.

Menurutnya, pengalaman itu datang setelah beberapa hari dirinya mengalami dengungan di telinga dan dorongan batin untuk mendatangi Rowo Bayu. Ia menyebut pengalaman itu sebagai bagian dari beberapa kisah yang menurutnya tidak bisa dijelaskan secara akal dan logika biasa.

Doc. Foto Tosan Aji Kuku Bima

Doc. Foto Tosan Aji Kuku Bima

Menurut Erwin, benda-benda pusaka miliknya banyak ia dapatkan di aliran sungai, pemberian orang dan beberapa lokasi yang dianggap memiliki jejak sejarah leluhur.

Seperti “Kuku Bima”, yang berbentuk menyerupai bilah besi kuno kecil yang telah membatu. Erwin mengklaim benda itu berfungsi untuk meningkatkan kewibawaan, dan perlindungan diri. Bahkan, aromanya tetap bertahan meski tanpa diberi minyak wangi tambahan.

“Kalau filosofi Kuku Bima itu untuk kewibawaan, derajat, dan pagar badan,” kata dia.

Kisah Burung Perkutut Ketakutan Saat Pusaka Dibawa Masuk Rumah

Salah satu cerita yang paling membuatnya takjub adalah ketika Erwin memperlihatkan tosan aji berbentuk Semar Sungkem yang disebut ditemukan di aliran sungai kawasan Pandaan.

Menurut pengakuannya, setiap kali benda sakral itu dibawa masuk ke rumah, burung-burung perkutut peliharaannya langsung terlihat ketakutan dan beterbangan.

“Saya masuk rumah bawa pusaka itu, burung perkutut langsung geber semua seperti ketakutan,” ujarnya.

Karena penasaran, ia kemudian mencoba menaruhnya di luar rumah. Setelah pusaka dijauhkan, burung-burung itu disebut kembali tenang seperti biasa.

Erwin menduga ada energi tertentu yang membuat hewan-hewan tersebut menjadi sensitif. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti jenis “khodam” atau energi yang dipercaya berada di dalam Semar Sungkem.

Pusaka Semar Sungkem

Doc. Foto Pusaka Semar Sungkem

Selain Semar Sungkem, ia juga menunjukkan pusaka lain berbentuk Semar Mesem yang disebut memiliki fungsi sebagai sarana pengasihan atau daya tarik sosial.

“Kalau yang ini untuk pengasihan, supaya disenangi orang,” katanya sambil memperlihatkan pusaka yang diklaim ditemukan di wilayah Banyuwangi.

Di akhir perbincangan, kolektor asal Pandaan itu berpesan supaya menjaga budaya dan nilai-nilai leluhur Jawa di tengah perkembangan zaman modern.

Menurutnya, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga kemampuan masyarakatnya menjaga tata krama, kejujuran, dan warisan budaya.

“Kalau ingin negara maju, keluhurannya harus dijaga. Budaya Jawa itu luar biasa, dari tata krama sampai nilai kehidupan,” ujarnya.

Ia juga menilai generasi muda perlu mengenal pusaka dan budaya leluhur bukan dimaknai sebagai benda mistis, melainkan bagian dari sejarah panjang Nusantara yang memiliki nilai filosofi tinggi.

 

Add your first comment to this post

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi batu punden Joko Selining

    Misteri Punden Joko Selining: Situs Keramat Tanpa Tumbal di Tengah Kebun Tebu Mojokerto

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, tepatnya di tengah hamparan perkebunan tebu terdapat sebuah situs yang dikeramatkan oleh warga setempat. Situs tersebut berupa sebuah batu yang dibalut kain poleng hitam-putih dan dikenal dengan nama Punden Joko Selining. Batu yang berada di bawah cungkup sederhana ini tidak hanya dianggap […]

  • Masjid Al Faqih, pusat Pasulukan Tarekat Naqsyabandiyah di Dukuh Bandung, Tlogo, Kanigoro, Blitar.

    Mengenal KH Imam Faqih, Perintis Pasulukan Tarekat Naqsyabandiyah di Tlogo, Kanigoro, Blitar

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com — Di balik berkembangnya ajaran Tarekat Naqsyabandiyah di wilayah Blitar, Jawa Timur, tersimpan sosok ulama yang namanya masih hidup dalam ingatan masyarakat setempat, yakni KH Imam Faqih. Meski jejak tertulis tentang beliau tidak banyak ditemukan, kisah hidupnya terus diwariskan dari generasi ke generasi melalui cerita keluarga dan para sesepuh desa. Dari sanalah potret perjuangan […]

  • Suasana sebuah tempat usaha yang terlihat lengang dan sepi secara tiba-tiba.

    Solusi Mengatasi Usaha yang Diduga Terkena Santet, dari Tanda-Tanda hingga Cara Penanganan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, banyak pelaku bisnis yang mengaku pernah mengalami kondisi yang terasa janggal. Mulai dari omzet yang tiba-tiba turun drastis, suasana tempat usaha yang mendadak tidak nyaman, sampai munculnya konflik tanpa sebab yang jelas. Di masyarakat Indonesia, kejadian seperti ini sering dikaitkan dengan hal-hal non-fisik, seperti santet, teluh, […]

  • Patung Bung Karno setinggi lima meter yang menjadi ikon baru kawasan Istana Gebang, Kota Blitar.

    Renovasi Istana Gebang Rampung, Megawati Resmikan Jejak Sejarah Bung Karno di Kota Blitar

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Renovasi Istana Gebang, tempat kediaman Presiden Soekarno yang berada di Jalan Sultan Agung, Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, kini telah rampung. Bangunan yang didirikan pada tahun 1884 pada masa kolonial Belanda tersebut diresmikan secara langsung oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, pada Senin (15/6/2026). Sebelumnya, proses restorasi bangunan telah berlangsung selama enam […]

  • Relief batu diduga peninggalan candi kuno ditemukan di hutan jati Ngawi. Struktur dan ukiran mengarah pada jejak peradaban Hindu abad ke-10.

    Diduga Situs Candi Kuno, Reruntuhan Bersejarah Ditemukan di Hutan Jati Ngawi

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Penemuan reruntuhan bangunan yang diduga sebagai situs candi kembali mengemuka di wilayah Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Temuan ini berada di kawasan hutan jati Desa Pandean, Kecamatan Karanganyar, dan langsung menarik perhatian warga serta pemerhati sejarah. Reruntuhan yang ditemukan berupa struktur batu kapur, fragmen bangunan, hingga relief yang diduga berasal dari era kerajaan Hindu […]

  • Kawanan lele memenuhi aliran sungai dangkal di lereng Gunung Cumbri, Dusun Jatisari, Wonogiri, yang dipercaya warga sebagai habitat ikan sakral.

    Lele Sakral di Lereng Gunung Cumbri, Mitos yang Membuat Warga Tak Berani Menangkapnya

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di sebuah aliran sungai dangkal di Dusun Jatisari, Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, terdapat pemandangan yang tidak biasa. Ratusan hingga ribuan ikan lele terlihat hidup bebas di sela-sela bebatuan sungai kecil yang berada di kaki Gunung Cumbri, kawasan perbatasan Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Airnya tidak terlalu deras, bahkan pada […]

expand_less