Jejak Sejarah dan Kisah Mistis Jembatan Cangar di Jalur Pegunungan Batu- Mojokerto Jawa Timur
- Berita Budaya Spiritual
- calendar_month Minggu, 10 Mei 2026

NusaSpirit.com – Di Jawa Timur, berdasarkan data statistik Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) hingga tahun 2026, tercatat sekitar 79 jembatan yang masih berfungsi sebagai jalur penghubung antarwilayah.
Salah satunya adalah Jembatan Cangar, yang berada di kawasan pegunungan pada jalur penghubung antara Kota Batu dan Kabupaten Mojokerto. Jembatan ini terletak di kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo, wilayah yang dikenal memiliki kontur medan terjal serta rawan longsor.
Berada di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, kawasan ini sejak lama menjadi jalur strategis sekaligus menantang, baik bagi warga lokal maupun aktivitas pada masa konflik bersenjata di masa lalu.
Sejarah mencatat, sebelum menjadi akses vital seperti sekarang, jalur Cangar masih berupa jalan setapak di tengah hutan lebat yang dibuka dalam situasi perang dan keterbatasan.
Di balik bentangan beton yang kini dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat, Jembatan Cangar menyimpan rekam jejak panjang yang berkaitan dengan masa pendudukan Jepang hingga agresi militer Belanda.
Jalur Strategis Masa Pendudukan Jepang
Secara historis, awal mula jalur Cangar berkembang pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, yakni 1942–1945.
Saat itu, Jepang membutuhkan akses pintas untuk mobilitas pasukan dan logistik tanpa harus memutar jauh melalui jalur utama di wilayah utara Jawa Timur.
Jalur pegunungan antara Mojokerto dan Batu dinilai lebih efisien, meski harus menembus hutan lebat dan medan terjal.
Pada periode tersebut, jalur ini masih berupa jalan setapak. Belum terdapat jembatan permanen seperti saat ini. Akses hanya dapat dilalui pejalan kaki, hewan angkut, serta gerobak sederhana.
Masyarakat lokal kala itu banyak dilibatkan sebagai tenaga angkut logistik dalam kondisi kerja paksa, seperti yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada masa pendudukan Jepang.
Selain untuk mobilitas, jalur Cangar juga digunakan sebagai akses menuju titik-titik pemantauan di kawasan Gunung Arjuno dan Gunung Welirang yang memiliki posisi strategis di wilayah Malang Raya.
Gua-Gua Jepang dan Jejak Logistik Perang

Salah satu gua peninggalan masa pendudukan Jepang di kawasan Cangar, Kota Batu, Jawa Timur.
Keberadaan gua-gua di sekitar jalur Cangar menjadi bagian dari jejak masa lalu yang masih diperbincangkan hingga kini. Gua tersebut diduga dibangun dengan memanfaatkan tenaga masyarakat lokal.
Sebagian cerita menyebut gua itu digunakan sebagai tempat perlindungan, sementara versi lain menyebutnya sebagai lokasi penyimpanan logistik perang.
Hingga kini, belum ada bukti resmi yang memastikan fungsi utama dari gua-gua tersebut. Namun keberadaannya menjadi bagian dari cerita turun-temurun masyarakat dan memperkuat dugaan bahwa kawasan Cangar memiliki nilai strategis pada masa konflik.
Masa Agresi Militer Belanda
Setelah Jepang menyerah pada 1945, jalur Cangar kembali disebut memiliki peran penting pada masa Agresi Militer Belanda I tahun 1947.
Dalam upaya menguasai wilayah Malang, Belanda diduga memanfaatkan jalur pegunungan melalui Batu. Pada masa ini, masyarakat lokal kembali dilibatkan sebagai penunjuk jalan dan pengangkut logistik.
“Warga dulu sering diminta membawa barang atau menunjukkan jalan karena medan di sini tidak mudah dilalui,” ujar Mbah Supardi, sesepuh warga Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, berdasarkan cerita lisan keluarga yang ia denga, Minggu (10/5/2026).
Antara Jalur Kuno dan Watu Ondo
Sebelum adanya jembatan modern, masyarakat sekitar mengenal jalur ekstrem bernama Watu Ondo, yaitu tebing batu alami yang digunakan sebagai akses naik turun menuju kawasan Pacet.
Jalur ini disebut masih digunakan hingga sekitar 1980-an, sebelum pemerintah mulai membuka jalan yang lebih layak dan aman.
Pembangunan Jalan Modern
Pengembangan jalur Cangar mulai dilakukan pada akhir 1980-an, kemudian berlanjut hingga pengaspalan jalan Mojokerto–Batu pada rentang 1994–1995.
Sejak saat itu, kawasan ini mulai ramai dilalui kendaraan, baik untuk aktivitas ekonomi maupun wisata menuju pemandian air panas Cangar dan kawasan pegunungan sekitar.
Di bawah Jembatan Cangar mengalir sungai berarus deras yang membentuk beberapa air terjun seperti Watu Lumpang, Watu Ondo, dan Coban Cangar. Keindahan alam ini menjadi daya tarik tersendiri, namun juga menyimpan risiko seperti kabut tebal, jurang curam, dan potensi longsor.
Kisah Mistis yang Beredar Kuat di Jembatan Cangar
Selain faktor sejarah, misteri lain yang kini melekat kuat pada Jembatan Cangar adalah aura mistis yang kerap disebut menyelimuti kawasan tersebut.
Area ini sering dikaitkan dengan cerita-cerita masyarakat, mulai dari dugaan keberadaan pasar gaib di bawah jembatan hingga keyakinan sebagian warga dan praktisi spiritual tentang sosok ular siluman besar yang mendiami wilayah itu.
Cerita tersebut semakin menguat setelah beredarnya sebuah video yang menampilkan dugaan penampakan ular berukuran sangat besar, bahkan disebut sebesar batang pohon, yang muncul pada siang hari dan sempat direkam oleh warga yang melintas. Kemunculan itu kemudian dikaitkan dengan penjelmaan makhluk gaib dalam cerita tutur masyarakat.
- Penulis: Danang Setiawan
- Editor: M. Ilman Arif

Add your first comment to this post