Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Beranda » Jejak Spiritual » Mbah Harjo, Sesepuh Blitar yang Diyakini Menguasai Ilmu Pancasona dan Hidup hingga 215 Tahun

Mbah Harjo, Sesepuh Blitar yang Diyakini Menguasai Ilmu Pancasona dan Hidup hingga 215 Tahun

NusaSpirit.com — Pancasona merupakan salah satu ajian yang berasal dari tradisi mistik Jawa kuno, yang hingga kini masih kerap dibicarakan dalam kisah-kisah lisan masyarakat.

Konon, ajian ini dikenal memiliki tingkatan hierarki yang tinggi dalam dunia keilmuan kebatinan Jawa dan sering disejajarkan dengan ajian Rawa Rontek.

Dalam berbagai cerita turun-temurun, Pancasona diyakini memiliki daya magis luar biasa yang membuat penganutnya memiliki ketahanan jasad yang tidak lazim, bahkan disebut sulit meninggal dunia secara alami.

Keyakinan tersebut berkembang seiring dengan kisah para tokoh yang dipercaya menguasai ajian ini dan hidup hingga usia yang jauh melampaui batas kewajaran manusia.

Asal-usul Ajian Pancasona

Secara etimologis, istilah Pancasona berasal dari bahasa Sanskerta. Kata panca berarti lima, sementara sona dimaknai sebagai tempat atau lapisan.

Jika ditafsirkan lebih dalam, Pancasona dipahami sebagai penyatuan lima elemen alam utama, yakni bumi, gunung, langit, samudra, dan surga.

Kelima unsur tersebut dipercaya menjadi sumber kekuatan spiritual yang saling terhubung, membentuk keseimbangan antara jasad, jiwa, dan alam semesta.

Dalam konteks kepercayaan Jawa, ajian Pancasona bukan sekadar ilmu kanuragan, melainkan laku spiritual tingkat tinggi yang menuntut tirakat, pengendalian diri, serta keselarasan dengan hukum alam dan kehendak Tuhan.

Karena itulah, ajian ini tidak sembarangan diwariskan dan hanya dipercaya dimiliki oleh segelintir orang yang telah menempuh perjalanan batin panjang.

Mbah Harjo dalam Sejarah Lisan Blitar

Di Blitar, Jawa Timur, selain Eyang Djojodigdo yang dikenal dengan makam gantungnya, masyarakat juga mengenal sosok lain yang diyakini menguasai keilmuan Pancasona, yakni Mbah Harjo.

Cerita tentang Mbah Harjo hidup dan diwariskan lintas generasi. Sosok ini bukan sekadar figur legenda, melainkan bagian dari sejarah lisan yang masih dijaga melalui tradisi, situs budaya, serta kesaksian keluarga dan masyarakat setempat.

Nama Mbah Harjo kerap disebut sebagai sesepuh yang memiliki peran penting dalam pelestarian nilai budaya Jawa, sekaligus dipercaya menguasai ilmu kanuragan tingkat tinggi seperti Pancasona dan Rawa Rontek.

Klaim Usia Panjang dan Hubungan dengan Perang Diponegoro

Menurut penuturan Kang Suroso, putra almarhum Mbah Harjo, sang ayah diyakini lahir sekitar tahun 1820 di wilayah Mataram.

Perhitungan usia tersebut menempatkan Mbah Harjo sebagai saksi hidup berbagai fase penting sejarah Jawa, termasuk masa sebelum dan sesudah Perang Diponegoro (1825–1830).

“Kalau menurut cerita keluarga, Mbah Harjo lahir sekitar tahun 1820. Itu yang selalu disampaikan para sepuh kepada kami, sehingga beliau sering disebut sebagai saksi hidup masa sebelum dan sesudah Perang Diponegoro,” ujar Kang Suroso.

Ia menambahkan bahwa kisah tentang Mbah Harjo juga berkaitan dengan jaringan penggawa dan demang pendukung Pangeran Diponegoro. Setelah perang berakhir, sebagian tokoh memilih mengamankan diri ke wilayah Blitar dan sekitarnya, termasuk kawasan Gunung Gedang yang kemudian dikenal sebagai situs penting hingga kini.

Kang Suroso, putra almarhum Mbah Harjo, penutur sejarah lisan keluarga.

Kang Suroso, putra almarhum Mbah Harjo, penutur sejarah lisan keluarga.

Tirakat dan Laku Spiritual

Dalam tradisi Jawa, ilmu Pancasona dan Rawa Rontek tidak dipahami semata sebagai kesaktian fisik, melainkan sebagai hasil dari laku spiritual panjang yang dijalani dengan penuh disiplin dan pengendalian diri.

Add your first comment to this post

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jejak sejarah Joko Tingkir, pendiri Kesultanan Pajang di Jawa Tengah.

    Makam Joko Tingkir: Sukoharjo, Sragen, atau Lamongan?

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Mas Karebet, yang lebih dikenal dengan nama Joko Tingkir, adalah tokoh sentral yang dianggap berjasa sebagai pendiri sekaligus Raja Kesultanan Pajang. Kesultanan ini berada di sekitar wilayah Surakarta (Solo) pada abad ke-16, tepatnya antara tahun 1549 hingga 1582 M. Keberadaan makam Mas Karebet sejak lama memunculkan perdebatan di kalangan sejarawan dan masyarakat. Sebagian […]

  • Gerbang utama Padepokan Eyang Djoego di Blitar, Jawa Timur, yang menjadi pintu masuk bagi peziarah dari berbagai daerah dan latar belakang.

    Padepokan Eyang Djoego Blitar: Dari Jejak Perang Diponegoro hingga Ritual Ngalap Berkah

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di lereng perbukitan wilayah Kesamben, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, berdiri sebuah padepokan yang bagi sebagian orang tampak sederhana. Tidak setiap hari tempat ini dipadati pengunjung. Pada hari-hari biasa, suasananya cenderung sepi dan tenang, jauh dari hiruk-pikuk destinasi wisata modern. Namun di balik kesederhanaannya, padepokan yang dikenal sebagai Padepokan Eyang Djoego ini menyimpan kisah […]

  • Ilustrasi prosesi pernikahan adat Jawa yang masih kental dengan tradisi perhitungan hari baik menurut Primbon Jawa.

    Hari Baik Pernikahan Mei 2026 Menurut Primbon Jawa

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Menentukan hari baik pernikahan masih menjadi tradisi yang dijaga oleh sebagian masyarakat Jawa hingga kini. Tradisi ini diyakini sebagai bentuk ikhtiar agar rumah tangga yang dibangun senantiasa diberi keberkahan, kelanggengan, serta dijauhkan dari sengkala. Dalam adat Jawa, Kitab Primbon menjadi rujukan utama dalam menentukan hari baik pernikahan. Perhitungannya melibatkan neptu hari dan pasaran […]

  • Pengemudi Ojek Online

    Kabar Gembira! Mulai 1 Juli 2026 Potongan Komisi Ojol Grab dan Gojek Diklaim Turun Jadi 8 Persen

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Kabar gembira bagi para pengemudi transportasi online di seluruh Indonesia, terutama mitra ojol (ojek online) Grab dan Gojek. Mulai 1 Juli 2026, pemerintah yang telah menjalin kesepakatan dengan pihak aplikator akan menerapkan sistem pembagian komisi baru. Dari yang sebelumnya mitra ojol terpotong 20 persen dalam setiap perjalanan, kini potongan tersebut menjadi 8 persen. […]

  • Truno Lele

    Misteri Goa Ngerong Rengel: Habitat Ikan Keramat dan Mitos Truno Bader dan Lele di Tuban

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di tengah padatnya rumah-rumah warga di wilayah selatan Kabupaten Tuban, Jawa Timur, ada sebuah tempat yang diam-diam menyimpan cerita unik sekaligus bikin penasaran namanya Goa Ngerong. Sekilas memang terlihat biasa saja. Hanya aliran sungai kecil yang masuk ke rongga goa di sekitar permukiman warga. Tapi siapa sangka, di lokasi itu dipercaya sebagai habitat […]

  • Petilasan Syekh Siti Jenar di bawah pohon beringin tua di Lemahbangkulon, Banyuwangi.

    Petilasan Syekh Siti Jenar di Banyuwangi, Situs Sakral di Bawah Beringin Tua yang Menyimpan Jejak Sejarah Blambangan

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di sebuah desa bernama Lemahbangkulon di Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terdapat sebuah situs yang  bernama Lestono dan diyakini sebagai petilasan Syekh Siti Jenar. Lokasi yang berada di bawah pohon beringin purba berusia ratusan tahun itu menjadi tujuan peziarah dari berbagai daerah, hingga luar pulau di Indonesia. Selain terkait dengan tokoh kontroversial […]

expand_less