Jejak Petilasan Raden Wijaya di Trowulan, Kisah Pusaka Keris dan Tombak yang Diyakini Muncul Misterius
- Jejak Spiritual
- calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026

NusaSpirit.com – Di tengah kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sebuah situs yang dikenal sebagai Siti Inggil tidak hanya meninggalkan cerita sejarah.
Di balik itu, kawasan kompleks ini juga menyimpan kisah yang berkaitan erat dengan Kerajaan Majapahit pada masa lampau.
Lokasi ini diyakini sebagai petilasan Raden Wijaya, tokoh penting Kerajaan Majapahit yang sempat memimpin sebagai raja pada era 1293–1309 M.
Pada hari – hari tertentu, areal ini tidak hanya ramai dikunjungi oleh para peziarah, tetapi juga menjadikannya sebagai salah satu tempat destinasi religi yang sarat akan nilai akulturasi budaya.
Situs ini berada di jantung wilayah Trowulan, yang secara geografis dikenal sebagai pusat Kerajaan Majapahit di wilayah barat Kabupaten Mojokerto, berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Surabaya.
Riwayat Raden Wijaya

Petilasan Raja Wijaya sebagai Raja sekaligus Pendiri Kerajaan Majapahit.
Raden Wijaya dikenal sebagai pendiri sekaligus raja pertama Majapahit. Dalam berbagai sumber sejarah, namanya berbeda-beda diantaranya adalah:
1. Kitab sastra Pararaton: Raden Wijaya / Raden Harsawijaya
2. Kitab sastra Negarakertagama: Dyah Wijaya
3. Prasasti Kudadu: Nararya Sanggramawijaya
Gelar resminya sebagai raja adalah Kertarajasa Jayawardhana.
Raden Wijaya masih terkait erat dengan Kerajaan Singosari. Ia dibesarkan di lingkungan Singosari dan merupakan keturunan Wangsa Rajasa yang dikenal sebagai cucu dari Mahisa Campaka (Narasinghamurti).
Namun, terdapat perbedaan sumber sejarah mengenai silsilah ayah Raden Wijaya. Menurut Kitab Pararaton, ia adalah anak dari Mahisa Campaka. Sementara itu, menurut Naskah Wangsakerta, ia merupakan putra dari Rakyan Jayadarma (pangeran dari Kerajaan Sunda-Galuh) dan Dyah Lembu Tal.
Karena itu muncul pendapat bahwa Raden Wijaya memiliki darah Sunda. Berdasarkan Naskah Wangsakerta dan Amanat Galunggung, Ayah Raden Wijaya adalah calon raja Sunda yang meninggal akibat diracun kemudian Ibunya membawa Wijaya ke Singosari. Adapun dari versi ini, Raden Wijaya dianggap sebagai keturunan keluarga kerajaan Sunda-Galuh.
Untuk pernikahanya Raden Wijaya disebut meminang putri-putri Raja Kertanegara dari Singosari, antara lain Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, Gayatri. Ia juga disebut menikahi Dara Petak dari Melayu/Dharmasraya.
Pada tahun 1292 terjadi pemberontakan besar oleh Jayakatwang raja kerajaan Kadiri (Daha) terhadap Singosari hingga runtuhnya dan tewasnya Raja Kertanegara.
Raden Wijaya melarikan diri dan mendapat bantuan dari Arya Wiraraja seorang ahli strategi politik ulung yang menjabat juga sebagai Bupati Sumenep Madura.
Dengan tipu muslihat, Raden Wijaya mendapat izin membuka Hutan Tarik. Di sana dibangun permukiman bernama Majapahit, berasal dari buah maja yang rasanya pahit.
Tahun 1293 pasukan Mongol utusan Kublai Khan datang ke Jawa untuk menghukum Kertanegara yang belum diketahui bahwa dirinya telah gugur pasca peperangan terhadap Jayakatwang. Raden Wijaya memanfaatkan mereka untuk mengalahkan Jayakatwang.
Setelah Jayakatwang kalah, Wijaya justru menyerang balik pasukan Mongol hingga mereka mundur dari Jawa. Setelah berhasil mengusir Mongol, Raden Wijaya menobatkan diri sebagai raja pertama Majapahit. Penobatan itu terjadi pada 12 November 1293.
Sanggar Pamujan, Titik Spiritual yang Dikaitkan dengan Raden Wijaya

Sanggar pamujan yang digunakan sebagai tempat berdoa dan berbagai macam bentuk ritual.
Abdul Gofur, juru kunci (kuncen) setempat, menuturkan bahwa kawasan Siti Inggil yang terletak di Desa Bejijong ini berdiri di atas struktur bata kuno bertingkat setinggi sekitar empat meter.
Struktur purbakala inilah yang diyakini masyarakat sebagai tempat ritual dan berdoa bagi para raja Majapahit serta para leluhur terdahulu. Di tempat itu, pengunjung masih bisa menemukan area yang disakralkan, termasuk Sanggar Pamujan.
Salah satu bagian penting dari kompleks Siti Inggil adalah Sanggar Pamujan, yang menurut Abdul Gofur merupakan tempat Raden Wijaya melakukan semedi dan pertapaan. Di lokasi ini, pengunjung diwajibkan melepas alas kaki sebelum memasuki area yang dianggap sakral itu.
“Ini Sanggar Pamujan, tempat berdoanya Raden Wijaya. Jadi dulu beliau berdoa di sini,” ujar Abdul Gofur, Sabtu (16/5/2026).
Siti Inggil Trowulan dan Jejak Kepercayaan Majapahit
Kompleks Siti Inggil sendiri berada di kawasan yang sangat dekat dengan situs-situs penting peninggalan Majapahit di Trowulan.
Wilayah ini selama bertahun-tahun menjadi pusat penelitian arkeologi karena banyak ditemukan struktur bata kuno, candi, hingga artefak yang mengindikasikan kejayaan kerajaan besar di Nusantara tersebut.

Petilasan Sapu Angin dan Sapu Jagad dikenal sebagai Ajudan dari Raja Wijaya.
Di lokasi ini juga terdapat makam yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai bagian dari tokoh-tokoh yang memiliki keterkaitan dengan Raden Wijaya. Beberapa di antaranya disebut sebagai ajudan sang raja, dengan nama unik seperti Sapu Jagat dan Sapu Angin.
Menurut Abdul Gofur, kedua tokoh tersebut diyakini memiliki peran penting dalam struktur spiritual dan keprajuritan pada masa Majapahit.
“Yang Sapu Angin itu kalau tiba biasanya ditandai dengan datangnya angin besar. Sedangkan Sapu Jagat itu yang menguasai kekuatan alam,” ujarnya.
Kisah Pusaka dan Pengalaman Mistis di Area Petilasan
Selain nilai sejarah dan spiritual, kawasan Siti Inggil juga menyimpan berbagai cerita yang dianggap sebagai pengalaman mistis oleh sebagian penjaga situs.
Abdul Gofur mengaku beberapa kali menyaksikan kejadian yang sulit dijelaskan secara rasional di area tersebut.
“Saya pernah lihat seperti pusaka keluar dari tembok, seperti ular kecil jatuh lalu berbunyi seperti kelonteng. Itu terjadi siang hari,” ungkapnya.
Ia juga menuturkan pernah melihat penampakan benda yang disebut sebagai pusaka, seperti keris atau tombak, yang tampak muncul dan menghilang di area tertentu. Menurutnya, benda tersebut tidak dapat diambil oleh siapa pun yang mencoba melakukannya.
“Pernah ada orang yang mencoba mengambil, tapi tidak bisa dibawa. Biasanya kembali sendiri,” katanya.
Fungsi Situs dan Pelestarian oleh Pemerintah Desa
Secara administratif, situs Siti Inggil berada di bawah pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK), namun pengelolaan harian dilakukan oleh pemerintah desa setempat. Struktur bangunan asli disebut masih dipertahankan, termasuk penggunaan bata kuno yang diyakini berasal dari masa Majapahit.
Di beberapa bagian, struktur bangunan ditutupi atau dilindungi menggunakan kain putih sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai sakral yang diyakini masyarakat. Beberapa area juga hanya dibuka pada waktu tertentu, terutama saat ritual tahunan atau kegiatan adat.
Menurut pengelola, situs ini tidak hanya menjadi objek wisata sejarah, tetapi juga ruang spiritual yang masih aktif digunakan oleh sebagian masyarakat. Aktivitas peziarahan berlangsung hampir setiap hari, bahkan pada malam hari kawasan ini disebut tetap ramai dikunjungi. Jika anda ingin menelusuri jejak- jejak peninggalan sejarah di Jawa Timur bisa melihat salah satunya seperti makam mumbul Sidoarjo
- Penulis: Arief Nugroho

Add your first comment to this post