Amalan Bulan Suro: Gus Mukhlason Rosyid Ajak Masyarakat untuk Khalwat 10 Hari demi Bersihkan Hati
- Lainnya
- calendar_month Rabu, 17 Jun 2026

NusaSpirit.com – Ajakan menjalani khalwat selama 10 hari yang disampaikan Gus Mukhlason Rosyid saat menyambut momen Suroan atau Bulan Suro dinilai memiliki arti khusus.
Bulan Suro sendiri bertepatan dengan 1 Muharram dalam penanggalan Hijriah, yaitu hari istimewa ketika seluruh umat Muslim dianjurkan untuk melakukan introspeksi, memperbaiki diri, serta meningkatkan amal saleh.
Sementara itu, khalwat yang bermakna menyepi untuk mendekatkan diri kepada Allah dipandang sebagai cara yang mustajab untuk mengembalikan orientasi hidup sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
Menurut Gus Mukhlason, banyak orang menganggap semua pencapaian dan bentuk kesuksesan dalam hidup berasal dari usaha mereka sendiri.
Pandangan semacam ini yang justru sering kali membuat seseorang tidak mampu mencapai kedekatan spiritual atau menemukan jalan menuju pintu Makrifat.
Ia mengajak para jamaahnya untuk mengisi waktu khalwat dengan memperbanyak amalan zikir, baik secara lisan maupun zikir qalbi, sambil mengarahkan hati agar meyakini bahwa segala yang terjadi di kehidupan sudah menjadi sebuah ketentuan dalam kehendak Allah.
“Setelah Magrib, bagusnya dimulailah khalwat. Saya minta dalam 10 hari ke depan anda harus menyibukkan rohaniah ini. Hati anda hanya berzikir sirul asrar,” ujar Gus Mukhlason.
Seruan ini tidak hanya ditujukan kepada para santrinya yang tinggal di pondok, melainkan juga kepada masyarakat saat menjalankan aktivitas di keseharian mereka. Ia berujar bahwa khalwat dapat dilakukan di mana saja selama seseorang menjaga fokus batinnya kepada Allah.
Fenomena pencarian hakikat seperti khalwat sendiri bukan hal baru di Indonesia. Dalam ilmu tasawuf, khalwat dikenal sebagai metode penyucian jiwa dengan mengurangi interaksi yang tidak perlu serta memperbanyak ibadah dan zikir.
Namun, Gus Mukhlason dalam hal ini memberikan wejangan yang lebih spesifik, yakni menghilangkan rasa “aku” atau keyakinan bahwa manusia adalah pelaku tunggal dari segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan.
Ia sering mengingatkan para jamaah untuk tidak terjerat dalam kebanggaan memiliki kendali sepenuhnya atas diri mereka sendiri. Menurutnya, kesadaran semacam itu malah dapat menghalangi seseorang untuk mencapai pengalaman batin yang lebih dalam.
“Anda harus menafikan bahwa segala sesuatu yang terjadi itu dikarenakan dari makhluk, kecuali iman itu sendiri yang dianugerahkan oleh Allah,” katanya.
Dalam ceramah itu, Gus Mukhlason, yang juga sebagai pengasuh Pondok Pesantren Jaya Baru Mojokerto, Jawa Timur, mengaitkan pesannya dengan kisah Nabi Yunus. Ia menganalogikan bahwa pengalaman Nabi Yunus berada dalam perut ikan menjadi pelajaran penting tentang proses pertobatan dan larangan bersandar pada siapapun terkecuali hanya Allah.
Meski demikian, konsep Makrifat dalam tradisi Islam umumnya dipahami sebagai pengalaman spiritual yang bersifat personal. Karenanya, individu yang tengah mencari jalan tersebut, lanjut Gus Mukhlason, harus mengikuti berbagai proses pembelajaran yang berkesinambungan.
Tahapan ini dimulai dari memperdalam pengetahuan agama, memperbaiki karakter, serta menjaga keseimbangan antara hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia) serta meningkatkan kualitas iman dalam diri.
Gus Mukhlason menilai, kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah tidak boleh ditunda. Sebab, menurutnya, tidak seorang pun mengetahui kapan ajal akan datang.
“Jangan meninggal sebelum ketemu Gusti Allah. Lekas kembali kepada Allah sebelum datang kematianmu,” paparnya.
- Penulis: Danang Setiawan
- Editor: M. Ilman Arif
- Sumber: https://youtu.be/cbiug097_xQ?si=WBRQLXZDjUITHPLK

Add your first comment to this post