Menengok Desa Wonokerso, Kampung Adat Tengger yang Menjaga Tradisi Karo di Lereng Bromo
- Berita Budaya
- calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026

NusaSpirit.com – Di lereng pegunungan kawasan Bromo yang sejuk dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, terdapat sebuah kampung adat yang masih menjaga tradisi leluhur hingga kini.
Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menjadi salah satu permukiman masyarakat Tengger yang tetap mempertahankan budaya, bahasa, serta tradisi turun-temurun di tengah perkembangan zaman.
Berada pada ketinggian diatas 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl), desa ini tidak hanya menawarkan panorama pegunungan yang indah, tetapi juga kehidupan masyarakatnya yang dikenal ramah dan terbuka terhadap pendatang.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertahun 2024 jumlah penduduk Desa Wonokerso tercatat sebanyak 2.264 jiwa, terdiri dari 1.130 laki-laki dan 1.134 perempuan.
Sedangkan untuk menunjang perekonomian bagi keluarga, banyak di antara mereka yang menggantungkan hidup melalui bertani, terutama penanaman tanaman pangan seperti sayuran, dan buah-buahan, menjadi sumber utama mata pencaharian bagi penduduk desa.
Bagi penduduk asli Wonokerso, tata krama dan menjaga warisan nenek moyang menjadi bagian penting dalam struktur sosial mereka.
Hal itu terlihat dalam keseharian warga maupun saat pelaksanaan berbagai ritual adat, salah satunya Tradisi Karo yang menjadi perayaan penting bagi masyarakat Tengger setiap tahunnya.
Suasana permukiman tampak terlihat berbeda dibandingkan desa pegunungan pada umumnya. Rumah-rumah permanen tersusun rapi di lereng perbukitan dengan kondisi yang terlihat megah dan terawat.
Pemandangan tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang ke kawasan ini. Dari berbagai sudut desa, hamparan pegunungan dan lembah dapat terlihat jelas dengan udara yang tetap sejuk sepanjang hari.
Tradisi Karo yang Masih Terjaga
Selain panorama alamnya, kehidupan budaya masyarakat Tengger menjadi daya tarik utama Desa Wonokerso. Salah satu tradisi yang masih dijalankan hingga kini adalah Upacara Karo yang dikenal sebagai hari raya terbesar masyarakat Tengger.
Setiap tahun, tradisi ini dilaksanakan pada tanggal 15 bulan Karo menurut kalender Saka Suku Tengger, yang umumnya jatuh pada bulan Agustus dalam penanggalan Masehi.
Seorang warga Desa Wonokerso yang memperkenalkan diri sebagai Suwoto menjelaskan bahwa Tradisi Karo dilaksanakan sebagai momen sakral untuk mempererat hubungan antar keluarga maupun antar tetangga.
“Kalau Karo, biasanya saling mengunjungi rumah warga baik itu tetangga atau sanak saudara. Siapa pun yang datang harus makan. Walaupun itu cuman sedikit,” kata Suwoto.

Foto: Tangkapan Layar Kanal YouTube Lensa Kehidupan
Menurutnya, adat tersebut berlangsung dalam rentang beberapa hari karena setiap keluarga saling berkunjung ke rumah anggota masyarakat lain secara bergantian. Terkadang satu keluarga harus menyediakan makanan dalam jumlah besar untuk menyambut kedatangan tamu.
“Ada kalanya acara berlangsung hingga enam hari atau lebih. Bagi keluarga besar, biaya yang dikeluarkan untuk menyambut tamu bisa sangat besar,” ujarnya.
Sebelum acara dimulai, warga mempersiapkan segala kebutuhan dengan menyiapkan tumpeng dan mengadakan doa bersama di balai desa.
Prosesi tersebut dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur serta doa untuk keselamatan masyarakat dan hasil pertanian yang melimpah.
Lebaran Orang Tengger
Dalam tradisi masyarakat Tengger, Karo sering disebut sebagai “Lebaran Orang Tengger”. Sebutan tersebut muncul karena suasana perayaan yang mirip dengan tradisi silaturahmi saat Hari Raya Idulfitri.
Warga akan saling mengunjungi rumah kerabat, tetangga, hingga keluarga yang tinggal di desa lain. Kebersamaan menjadi nilai utama dalam perayaan tersebut sehingga hubungan sosial antarwarga tetap terjaga dengan baik.
Secara budaya, Upacara Karo berkaitan dengan penghormatan terhadap leluhur masyarakat Tengger yang diyakini berasal dari legenda Rara Anteng dan Jaka Seger. Keduanya dikenal sebagai tokoh penting dalam asal-usul masyarakat Tengger yang mendiami kawasan pegunungan Bromo hingga saat ini.
Tradisi ini juga menjadi sarana memperkuat identitas budaya masyarakat Tengger yang masih bertahan di wilayah Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Lumajang.
Selain Karo, masyarakat Tengger juga masih melestarikan sejumlah ritual adat lainnya seperti Kasada, Unan-Unan, Entas-Entas, Tugel Kuncung, hingga ritual Ngiring Kucing yang berkaitan dengan permohonan hujan.

Salah satu ritual adat Desa Wonokerso
Kampung Tengger dengan Julukan Sunrise on The Window
Desa Wonokerso tidak hanya terkenal sebagai kampung adat, tetapi juga diakui dalam program Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kementerian Pariwisata dengan sebutan “Sunrise on The Window”.
Julukan itu berasal dari aktifitas pengunjung yang ingin menikmati pemandangan matahari terbit secara langsung dari daerah permukiman atau homestay tanpa perlu mendaki ke puncak gunung.
Pada saat cuaca cerah, cahaya matahari pagi langsung menyinari rumah-rumah warga yang berada di lereng bukit. Pemandangan ini menjadi daya tarik bagi para wisatawan yang gemar dengan alam dan fotografi.
Kondisi geografis dataran tinggi membuat desa ini memiliki suhu udara relatif dingin dibanding wilayah lain di Kabupaten Probolinggo.
Tidak jauh dari desa ini terdapat destinasi yang mulai dikenal wisatawan, yakni Puncak Pundhak Lembu atau P30. Dengan elevasi sekitar 2.635 mdpl dan menawarkan panorama kawasan Gunung Bromo dari sudut yang berbeda.
Pertanian Menjadi Penopang Ekonomi Warga
Di balik keindahan panorama dan rumah-rumah megah yang terlihat di lereng perbukitan, sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Desa Wonokerso.
Hamparan lahan pertanian kentang, kubis, bawang daun, serta berbagai tanaman hortikultura terlihat mendominasi kawasan sekitar desa. Komoditas tersebut memang cocok dibudidayakan di dataran tinggi dengan suhu udara yang rendah.
Aktivitas pertanian berlangsung hampir sepanjang tahun. Hasil panen kemudian dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Timur hingga luar provinsi melalui jaringan perdagangan yang telah berkembang selama puluhan tahun.
Keberhasilan sektor pertanian inilah yang menjadi salah satu faktor meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Tidak sedikit rumah warga yang telah dibangun secara permanen dengan ukuran cukup besar meski berada di kawasan pegunungan.
Selain bertani, sebagian masyarakat juga mulai mengembangkan sektor wisata berbasis budaya dan alam melalui penyediaan homestay, jasa pemandu wisata, hingga usaha kuliner lokal.
Bahasa dan Toleransi yang Menjadi Ciri Khas
Masyarakat Tengger di Wonokerso juga dikenal masih mempertahankan penggunaan Bahasa Jawa Tengger dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu contoh yang masih digunakan warga adalah pengucapan kata “ono” yang berubah menjadi “ana”. Ada beberapa perbedaan dalam pelafalan Bahasa ini jika dibandingkan dengan Bahasa Jawa secara umum.
Selain bahasa, masyarakat Tengger juga dikenal memiliki tingkat toleransi antar umat beragama yang tinggi. Warga dengan latar belakang Hindu dan Islam dapat hidup berdampingan dan ikut terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Kondisi tersebut membuat kawasan Tengger sering menjadi contoh kerukunan warga tetap bertahan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
- Penulis: Danang Setiawan
- Editor: M. Ilman Arif
- Sumber: https://youtu.be/T6YATqeJ7gs?si=WdsiauyAOoyiCg9V

Add your first comment to this post