Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Beranda » Berita Budaya » Menengok Desa Wonokerso, Kampung Adat Tengger yang Menjaga Tradisi Karo di Lereng Bromo

Menengok Desa Wonokerso, Kampung Adat Tengger yang Menjaga Tradisi Karo di Lereng Bromo

NusaSpirit.com – Di lereng pegunungan kawasan Bromo yang sejuk dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, terdapat sebuah kampung adat yang masih menjaga tradisi leluhur hingga kini.

Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menjadi salah satu permukiman masyarakat Tengger yang tetap mempertahankan budaya, bahasa, serta tradisi turun-temurun di tengah perkembangan zaman.

Berada pada ketinggian diatas 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl), desa ini tidak hanya menawarkan panorama pegunungan yang indah, tetapi juga kehidupan masyarakatnya yang dikenal ramah dan terbuka terhadap pendatang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertahun 2024 jumlah penduduk Desa Wonokerso tercatat sebanyak 2.264 jiwa, terdiri dari 1.130 laki-laki dan 1.134 perempuan.

Sedangkan untuk menunjang perekonomian bagi keluarga, banyak di antara mereka yang menggantungkan hidup melalui bertani, terutama penanaman tanaman pangan seperti sayuran, dan buah-buahan, menjadi sumber utama mata pencaharian bagi penduduk desa.

Bagi penduduk asli Wonokerso, tata krama dan menjaga warisan nenek moyang menjadi bagian penting dalam struktur sosial mereka.

Hal itu terlihat dalam keseharian warga maupun saat pelaksanaan berbagai ritual adat, salah satunya Tradisi Karo yang menjadi perayaan penting bagi masyarakat Tengger setiap tahunnya.

Suasana permukiman tampak terlihat berbeda dibandingkan desa pegunungan pada umumnya. Rumah-rumah permanen tersusun rapi di lereng perbukitan dengan kondisi yang terlihat megah dan terawat.

Pemandangan tersebut menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang ke kawasan ini. Dari berbagai sudut desa, hamparan pegunungan dan lembah dapat terlihat jelas dengan udara yang tetap sejuk sepanjang hari.

Tradisi Karo yang Masih Terjaga

Selain panorama alamnya, kehidupan budaya masyarakat Tengger menjadi daya tarik utama Desa Wonokerso. Salah satu tradisi yang masih dijalankan hingga kini adalah Upacara Karo yang dikenal sebagai hari raya terbesar masyarakat Tengger.

Setiap tahun, tradisi ini dilaksanakan pada tanggal 15 bulan Karo menurut kalender Saka Suku Tengger, yang umumnya jatuh pada bulan Agustus dalam penanggalan Masehi.

Seorang warga Desa Wonokerso yang memperkenalkan diri sebagai Suwoto menjelaskan bahwa Tradisi Karo dilaksanakan sebagai momen sakral untuk mempererat hubungan antar keluarga maupun antar tetangga.

“Kalau Karo, biasanya saling mengunjungi rumah warga baik itu tetangga atau sanak saudara. Siapa pun yang datang harus makan. Walaupun itu cuman sedikit,” kata Suwoto.

Penduduk desa Wonokerso

Foto: Tangkapan Layar Kanal YouTube Lensa Kehidupan

Menurutnya, adat tersebut berlangsung dalam rentang beberapa hari karena setiap keluarga saling berkunjung ke rumah anggota masyarakat lain secara bergantian. Terkadang satu keluarga harus menyediakan makanan dalam jumlah besar untuk menyambut kedatangan tamu.

“Ada kalanya acara berlangsung hingga enam hari atau lebih. Bagi keluarga besar, biaya yang dikeluarkan untuk menyambut tamu bisa sangat besar,” ujarnya.

Sebelum acara dimulai, warga mempersiapkan segala kebutuhan dengan menyiapkan tumpeng dan mengadakan doa bersama di balai desa.

Prosesi tersebut dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur serta doa untuk keselamatan masyarakat dan hasil pertanian yang melimpah.

Lebaran Orang Tengger

Dalam tradisi masyarakat Tengger, Karo sering disebut sebagai “Lebaran Orang Tengger”. Sebutan tersebut muncul karena suasana perayaan yang mirip dengan tradisi silaturahmi saat Hari Raya Idulfitri.

Warga akan saling mengunjungi rumah kerabat, tetangga, hingga keluarga yang tinggal di desa lain. Kebersamaan menjadi nilai utama dalam perayaan tersebut sehingga hubungan sosial antarwarga tetap terjaga dengan baik.

Secara budaya, Upacara Karo berkaitan dengan penghormatan terhadap leluhur masyarakat Tengger yang diyakini berasal dari legenda Rara Anteng dan Jaka Seger. Keduanya dikenal sebagai tokoh penting dalam asal-usul masyarakat Tengger yang mendiami kawasan pegunungan Bromo hingga saat ini.

Tradisi ini juga menjadi sarana memperkuat identitas budaya masyarakat Tengger yang masih bertahan di wilayah Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Lumajang.

Selain Karo, masyarakat Tengger juga masih melestarikan sejumlah ritual adat lainnya seperti Kasada, Unan-Unan, Entas-Entas, Tugel Kuncung, hingga ritual Ngiring Kucing yang berkaitan dengan permohonan hujan.

Ritual tradisi desa Wonokerso

Salah satu ritual adat Desa Wonokerso

Kampung Tengger dengan Julukan Sunrise on The Window

Desa Wonokerso tidak hanya terkenal sebagai kampung adat, tetapi juga diakui dalam program Jejaring Desa Wisata (Jadesta) Kementerian Pariwisata dengan sebutan “Sunrise on The Window”.

Julukan itu berasal dari aktifitas pengunjung yang ingin menikmati pemandangan matahari terbit secara langsung dari daerah permukiman atau homestay tanpa perlu mendaki ke puncak gunung.

Pada saat cuaca cerah, cahaya matahari pagi langsung menyinari rumah-rumah warga yang berada di lereng bukit. Pemandangan ini menjadi daya tarik bagi para wisatawan yang gemar dengan alam dan fotografi.

Kondisi geografis dataran tinggi membuat desa ini memiliki suhu udara relatif dingin dibanding wilayah lain di Kabupaten Probolinggo.

Tidak jauh dari desa ini terdapat destinasi yang mulai dikenal wisatawan, yakni Puncak Pundhak Lembu atau P30. Dengan elevasi sekitar 2.635 mdpl dan menawarkan panorama kawasan Gunung Bromo dari sudut yang berbeda.

Pertanian Menjadi Penopang Ekonomi Warga

Di balik keindahan panorama dan rumah-rumah megah yang terlihat di lereng perbukitan, sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat Desa Wonokerso.

Hamparan lahan pertanian kentang, kubis, bawang daun, serta berbagai tanaman hortikultura terlihat mendominasi kawasan sekitar desa. Komoditas tersebut memang cocok dibudidayakan di dataran tinggi dengan suhu udara yang rendah.

Aktivitas pertanian berlangsung hampir sepanjang tahun. Hasil panen kemudian dipasarkan ke berbagai daerah di Jawa Timur hingga luar provinsi melalui jaringan perdagangan yang telah berkembang selama puluhan tahun.

Keberhasilan sektor pertanian inilah yang menjadi salah satu faktor meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Tidak sedikit rumah warga yang telah dibangun secara permanen dengan ukuran cukup besar meski berada di kawasan pegunungan.

Selain bertani, sebagian masyarakat juga mulai mengembangkan sektor wisata berbasis budaya dan alam melalui penyediaan homestay, jasa pemandu wisata, hingga usaha kuliner lokal.

Bahasa dan Toleransi yang Menjadi Ciri Khas

Masyarakat Tengger di Wonokerso juga dikenal masih mempertahankan penggunaan Bahasa Jawa Tengger dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu contoh yang masih digunakan warga adalah pengucapan kata “ono” yang berubah menjadi “ana”. Ada beberapa perbedaan dalam pelafalan Bahasa ini jika dibandingkan dengan Bahasa Jawa secara umum.

Selain bahasa, masyarakat Tengger juga dikenal memiliki tingkat toleransi antar umat beragama yang tinggi. Warga dengan latar belakang Hindu dan Islam dapat hidup berdampingan dan ikut terlibat dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Kondisi tersebut membuat kawasan Tengger sering menjadi contoh kerukunan warga tetap bertahan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Add your first comment to this post

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi kalender Jawa sebagai bagian dari sistem penanggalan tradisional yang digunakan dalam budaya Nusantara.

    Weton Jawa: Arti, Perhitungan, Watak, dan Pengaruhnya dalam Kehidupan

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Dalam tradisi Jawa, kelahiran seseorang tidak hanya dicatat sebagai tanggal dan bulan. Ada sistem penanggalan yang lebih dalam dan sarat makna, yang dikenal sebagai weton Jawa. Weton dipercaya sebagai penanda watak dasar, arah rezeki, hingga kecenderungan hidup seseorang. Karena itulah, hingga hari ini weton masih sering dijadikan rujukan dalam berbagai perhitungan, mulai dari […]

  • Kang Suroso di kompleks makam Mbah Harjo, Blitar, Jawa Timur.

    Mbah Harjo, Sesepuh Blitar yang Diyakini Menguasai Ilmu Pancasona dan Hidup hingga 215 Tahun

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com — Pancasona merupakan salah satu ajian yang berasal dari tradisi mistik Jawa kuno, yang hingga kini masih kerap dibicarakan dalam kisah-kisah lisan masyarakat. Konon, ajian ini dikenal memiliki tingkatan hierarki yang tinggi dalam dunia keilmuan kebatinan Jawa dan sering disejajarkan dengan ajian Rawa Rontek. Dalam berbagai cerita turun-temurun, Pancasona diyakini memiliki daya magis luar […]

  • Ilustrasi batu punden Joko Selining

    Misteri Punden Joko Selining: Situs Keramat Tanpa Tumbal di Tengah Kebun Tebu Mojokerto

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, tepatnya di tengah hamparan perkebunan tebu terdapat sebuah situs yang dikeramatkan oleh warga setempat. Situs tersebut berupa sebuah batu yang dibalut kain poleng hitam-putih dan dikenal dengan nama Punden Joko Selining. Batu yang berada di bawah cungkup sederhana ini tidak hanya dianggap […]

  • Ilustrasi Makam Ki Ageng Keninten

    Wisata Religi Makam Ki Ageng Keninten Nganjuk: Kisah Sungai Berpindah hingga Kutukan Kera

    • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Sebuah makam di Desa Karangsemi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menjadi salah satu destinasi wisata religi yang konon menyimpan beragam cerita legenda yang hingga saat ini masih dikenang oleh masyarakat setempat. Makam dengan panjang seukuran orang dewasa bertubuh jangkung dan berbalut kain putih tersebut dipercaya sebagai pusara Ki Ageng Ronggo Keninten. Sosok […]

  • Ayam Cemani dengan bulu hitam legam yang menjadi ciri khas ras langka asal Indonesia.

    Misteri Ayam Cemani: Fakta Ilmiah, Legenda Ki Ageng Makukuhan, dan Mitos Tolak Bala

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Ayam cemani adalah jenis ras langka Indonesia yang memiliki gen unik yang membuat warna seluruh tubuhnya, mulai dari bulu, kuku, paruh hingga daging, menjadi hitam pekat. Secara genetika, ayam ini muncul karena adanya mutasi genetik yang disebut fibromelanosis, yaitu adanya duplikasi gen Endothelin-3 (EDN3) yang menyebabkan produksi pigmen melanin meningkat lebih banyak daripada […]

  • Patung Bung Karno setinggi lima meter yang menjadi ikon baru kawasan Istana Gebang, Kota Blitar.

    Renovasi Istana Gebang Rampung, Megawati Resmikan Jejak Sejarah Bung Karno di Kota Blitar

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Renovasi Istana Gebang, tempat kediaman Presiden Soekarno yang berada di Jalan Sultan Agung, Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, kini telah rampung. Bangunan yang didirikan pada tahun 1884 pada masa kolonial Belanda tersebut diresmikan secara langsung oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, pada Senin (15/6/2026). Sebelumnya, proses restorasi bangunan telah berlangsung selama enam […]

expand_less