Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Beranda » Jejak Spiritual » Menapaki Wisata Gunung Kelud: Antara Keindahan Alam, Sejarah, dan Legenda Mistis Lembu Suro

Menapaki Wisata Gunung Kelud: Antara Keindahan Alam, Sejarah, dan Legenda Mistis Lembu Suro

NusaSpirit.comGunung Kelud, sebuah dataran tinggi yang berada di kawasan perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, masih menjadi salah satu primadona tujuan wisata bagi para traveler untuk melihat keindahan alam yang alami.

Dengan memiliki ketinggian sekitar 1.731 meter di atas permukaan laut, gunung yang dinyatakan masih aktif hingga sekarang ini, tidak hanya menawarkan pesona memukau, tetapi juga menyimpan berbagai fakta unik yang masih jarang terungkap oleh masyarakat luas.

Meski pernah mengalami letusan besar pada 2014 silam, vegetasi di lereng gunung kini perlahan pulih. Hamparan hijau kembali menyelimuti kawasan yang dahulu dipenuhi material vulkanik, menghadirkan keindahan luar biasa yang menjadikannya sebagai salah satu ikon destinasi wisata alam terbaik yang dimiliki oleh provinsi Jawa Timur.

Bagi wisatawan yang ingin memulai perjalanan menuju Gunung Kelud bisa dilakukan dari gerbang wisata yang berada di wilayah Kabupaten Kediri.

Ilustrasi rute Gunung Kelud

Ilustrasi rute Gunung Kelud

Jika melalui jalur Kota Kediri, wisatawan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam perjalanan darat melewati kawasan perkebunan dan lereng pegunungan.

Rute menuju lokasi relatif sedang dengan jalur aspal, serta di beberapa titik jalan mulai menanjak dan berkelok tajam.

Sedangkan mengenai harga tiket di tahun 2026, pengunjung hanya akan dikenakan tarif Rp8 ribu pada hari biasa dan Rp10 ribu saat akhir pekan. Sementara tarif parkir motor dipatok Rp3 ribu, mobil Rp5 ribu, hingga bus besar Rp15 ribu.

Fenomena Kawah dan Jalur Menuju Jalan Misteri

Memasuki kawasan lereng Kelud, hembusan angin pegunungan langsung terasa di kulit. Di sepanjang perjalanan, para pelancong akan menemukan kawasan perkebunan Margomulyo yang dahulu dikenal sebagai lahan kopi dan karet peninggalan masa lampau yang kini disulap dan dikembangkan menjadi kawasan agrowisata dan jalur off road.

Namun saat menyusuri lintasan terdapat sejumlah bangunan wisata yang tampak terbengkalai. Bekas taman, pos tiket lama, hingga bangunan kosong yang berdiri sunyi di area tepi jalan.

Salah satu titik rute paling unik di sepanjang perjalanan disaat pengunjung sedang melintasi sebuah medan yang disebut “jalan misteri”. Jalur ini berada saat pengunjung sedang berkendara menuju kawasan atas Kelud.

Lokasi ini viral karena kendaraan yang diposisikan netral ataupun keadaan off disebut bisa bergerak sendiri meski tampak berada di jalan menanjak.

Fenomena aneh ini banyak yang mengaitkan dengan medan magnet bumi, meski sebagian lain menganggapnya sebagai ilusi optik akibat kontur jalan yang mengecoh pandangan.

Tak sekadar itu, aura misteri juga terasa lebih kental. Di tengah semilir angin sejuk dan kabut yang sesekali turun dari punggung lereng, suasana kawasan nampak begitu magis jika memasuki waktu menuju senja.

Pengalaman ini pastinya membuat para pengunjung merasa mendapatkan sensasi menegangkan dan juga terhipnotis karena hawa mistis yang menyelimuti jalan yang diapit oleh pepohonan bukit.

Di balik udara sejuk di lerengnya, Gunung Kelud juga memiliki jalur yang terkenal cukup ekstrem yang membuat para wisatawan harus ekstra hati-hati saat menuju ke arah bukit gunung.

Ilustrasi kawah Gunung Kelud

Ilustrasi kawah Gunung Kelud

Namun, rasa lelah dan letih para pengunjung akan langsung terbayar begitu tiba di area kawah utama. Wisatawan akan disuguhkan dengan pemandangan kawah raksasa yang eksotis dipadukan dengan tebing yang menjulang tinggi menghidupkan suasana seolah memasuki negeri dongeng.

Menembus Lereng Kelud dengan Ojek Wisata

Perjalanan menuju kawah utama tidak bisa ditempuh kendaraan pribadi hingga titik akhir. Wisatawan harus berhenti di rest area atau parkiran utama sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan jasa ojek wisata.

Tarif ojek pulang-pergi dipatok sekitar Rp40 ribu untuk wisatawan domestik. Jalur yang ditempuh cukup curam dengan tikungan tajam.

Sepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhi berbagai titik pemandangan yang bakal membuat terpukau.

Jalur wisata gunung Kelud

Jalur wisata gunung Kelud

Beberapa diantaranya bahkan menjadi spot favorit bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen istimewa mereka dengan ponsel sebelum tiba di lokasi area kawah.

Di suatu sisi gunung, terlihat jalur pendakian yang menuju Puncak Sejati Kelud. Jalur tersebut sering digunakan oleh para pendaki profesional yang ingin menjelajahi sisi lain gunung selain kawasan kawah wisata.

Sementara pada area lainnya, terdapat Tebing Sumbing yang merupakan salah satu ikon visual Gunung Kelud.

Tebing tersebut memiliki formasi batu berlapis yang terbentuk dari material erupsi purba. Dari sana, pengunjung dapat menikmati pemandangan kawah dan pegunungan yang terhampar di kejauhan. Saat cuaca cerah, siluet Gunung Kawi dan Gunung Wilis terlihat samar di balik cakrawala.

Terowongan Ganesa dan Jejak Hindia Belanda

Sebelum tiba di kawah utama, wisatawan akan melewati Terowongan Inlet Ganesha, sebuah lorong bersejarah yang dibangun pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1923 hingga 1926. Terowongan sepanjang sekitar 100 hingga 200 meter itu dahulu digunakan sebagai saluran pengendali air kawah untuk mengurangi risiko banjir lahar.

Asal nama Ganesha berasal dari lambang kebijaksanaan dalam agama Hindu. Lorong tersebut menyaksikan bagaimana Gunung Kelud telah lama dianggap sebagai gunung yang perlu diwaspadai sekaligus dihormati.

Suasana di dalam terowongan terasa lembab dan dingin. Dinding batu cor yang masih kokoh menghadirkan kesan seperti memasuki lorong masa lampau. Banyak wisatawan berhenti sejenak di area ini untuk merasakan atmosfer sejarah yang masih melekat kuat.

Ilustrasi terowongan Ganesha

Ilustrasi terowongan Ganesha

Keluar dari terowongan, pemandangan kawah Gunung Kelud langsung terbentang megah. Danau kawah berwarna hijau tosca tampak dikelilingi tebing batu raksasa. Air kawah memantulkan cahaya matahari seperti tirta kehijauan yang tersimpan di cekungan gunung purba.

Bentang alam itu menjadi bukti bagaimana Kelud terus berubah akibat aktivitas vulkaniknya. Sebelum letusan 2007, kawasan kawah sempat memiliki anak gunung yang muncul di tengah danau. Namun letusan besar 2014 membuat bentuk kawah berubah total dan anak gunung tersebut menghilang.

Namun dengan seiring berjalannya waktu saat ini, bentuk kawah sudah mulai kembali normal dan di penuhi oleh air danau yang muncul secara alami.

Gunung Aktif dengan Sejarah Letusan Abu Vulkanik

Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api yang paling aktif di Indonesia, menurut catatan sejarah, gunung ini telah meletus lebih dari 30 kali sejak abad ke-11. Letusan paling dahsyat terjadi pada tahun 1919 yang menyebabkan ribuan orang tidak selamat  akibat banjir lahar. Sementara itu, letusan pada tahun 2014 dianggap sebagai salah satu letusan terbesar di era modern.

Abu vulkanik dari Gunung Kelud bahkan mencapai Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Barat, serta menyebabkan penutupan sejumlah bandara di Pulau Jawa.

Ilustrasi suasana pegunungan

Ilustrasi suasana pegunungan

Nama “Kelud” sendiri diyakini berasal dari istilah Jawa kuno yang berarti sapu, menggambarkan kekuatan letusan gunung yang mampu menyapu segala sesuatu di sekitarnya.

Meskipun terdapat ancaman dari Gunung Kelud, tanah di sekitar lerengnya sangat subur berkat endapan abu vulkanik, membuatnya cocok untuk perkebunan kopi, cengkeh, nanas, dan sayuran dataran tinggi. Banyak warga sekitar yang kini menggantungkan hidup dari sektor pariwisata dan pertanian.

Legenda Lembu Suro dan Kutukan Gunung Kelud

Gunung Kelud dikenal tidak hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kisah legenda yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Salah satu cerita yang paling terkenal adalah legenda tentang Lembu Suro dan Putri Dewi Kilisuci pada masa Kerajaan Kediri.

Konon, Lembu Suro berhasil memenuhi syarat untuk memenangkan hati sang putri dalam sebuah sayembara. Namun, akhirnya ia tertipu dan dikubur hidup-hidup di sebuah sumur di puncak gunung.

Sebelum meninggal, Lembu Suro diyakini meninggalkan kutukan dan sumpah serapah yang kemudian dikaitkan oleh sebagian masyarakat dengan letusan Gunung Kelud.

Meskipun kebenaran cerita tersebut masih diragukan, legenda ini telah menjadi bagian dari budaya lokal yang membuat Gunung Kelud semakin menarik untuk dipelajari.

Hingga saat ini, sejumlah ritual larung sesaji masih sering dilakukan oleh warga sekitar sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan nenek moyang. Tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Kelud yang memadukan kepercayaan lokal dengan nilai spiritual Jawa kuno.

 

 

Add your first comment to this post

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mbah Nardi menunjukkan sejumlah pusaka koleksinya di Pasar Burung Joyo Madiun. Tangkapan layar YouTube Pakdhe Yadi.

    Di Balik Riuh Pasar Burung Joyo Madiun: Kisah Mbah Nardi Menjaga Tradisi Kejawen Lewat Benda Bertuah

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di tengah deretan penjual burung dan perlengkapan hewan peliharaan, terdapat lapak sederhana yang justru dipadati pengunjung karena menjajakan benda-benda antik, pusaka, hingga perlengkapan bernuansa mistis dan spiritual Jawa. Lapak itu milik seorang pedagang yang memperkenalkan dirinya sebagai Mbah Nardi. Ia dikenal sebagai penjual barang-barang klenik yang hanya membuka pajangan dagangnya setiap hari Minggu […]

  • Jejak sejarah Joko Tingkir, pendiri Kesultanan Pajang di Jawa Tengah.

    Makam Joko Tingkir: Sukoharjo, Sragen, atau Lamongan?

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Mas Karebet, yang lebih dikenal dengan nama Joko Tingkir, adalah tokoh sentral yang dianggap berjasa sebagai pendiri sekaligus Raja Kesultanan Pajang. Kesultanan ini berada di sekitar wilayah Surakarta (Solo) pada abad ke-16, tepatnya antara tahun 1549 hingga 1582 M. Keberadaan makam Mas Karebet sejak lama memunculkan perdebatan di kalangan sejarawan dan masyarakat. Sebagian […]

  • Ubo rampe atau sesajen dalam tradisi Jawa

    Makna Ubo Rampe atau Sesajen Dalam Tradisi Jawa beserta Macam-macamnya

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Bagi masyarakat Jawa, istilah ubo rampe masih sangat familiar di kalangan tradisional. Namun, di era modern seperti sekarang, tidak sedikit masyarakat yang belum memahami sepenuhnya makna dari ubo rampe. Ubo rampe, merujuk dari naskah klasik Jawa Serat Centhini yang disusun pada abad ke-19, dikenal sebagai rangkaian sesaji atau hasil sedekah bumi. Ubo rampe […]

  • Ilustrasi foto keris melambangkan pusaka gaib.

    Sering Alami Peristiwa Mistis dan Sulit Jodoh? Kenali 6 Tanda Pusaka Gaib Menyatu dalam Raga

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Konsep pusaka dalam pandangan budayawan Jawa tidak selalu merujuk pada objek fisik, seperti keris, tombak, atau mustika yang dapat dilihat dan disentuh. Di kalangan penganut Kejawen, khususnya mereka yang menekuni bidang spiritual, terdapat kepercayaan mengenai adanya pusaka gaib yang dapat melebur dengan raga seseorang tanpa tampak secara kasat mata. Banyak orang tidak menyadari […]

  • Ilustrasi kalender Jawa sebagai bagian dari sistem penanggalan tradisional yang digunakan dalam budaya Nusantara.

    Weton Jawa: Arti, Perhitungan, Watak, dan Pengaruhnya dalam Kehidupan

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Dalam tradisi Jawa, kelahiran seseorang tidak hanya dicatat sebagai tanggal dan bulan. Ada sistem penanggalan yang lebih dalam dan sarat makna, yang dikenal sebagai weton Jawa. Weton dipercaya sebagai penanda watak dasar, arah rezeki, hingga kecenderungan hidup seseorang. Karena itulah, hingga hari ini weton masih sering dijadikan rujukan dalam berbagai perhitungan, mulai dari […]

  • pasangan romantis sebagai ilustrasi tanda jodoh menurut primbon Jawa

    7 Tanda Segera Menemukan Jodoh Menurut Ilmu Titen dan Primbon Jawa

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • 0Komentar

    Nusaspirit.com – Menikahi seseorang yang dicintai merupakan impian banyak orang. Namun, bagi mereka yang masih sendiri, menantikan kehadiran sosok yang kelak dianggap sebagai jodoh bukanlah hal yang mudah dan sering kali sulit ditebak. Meski demikian, dalam tradisi Jawa dikenal salah satu warisan pengetahuan leluhur yang hingga kini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat, yaitu ilmu titen. […]

expand_less