Menapaki Wisata Gunung Kelud: Antara Keindahan Alam, Sejarah, dan Legenda Mistis Lembu Suro
- Jejak Spiritual
- calendar_month 34 menit yang lalu

NusaSpirit.com – Gunung Kelud, sebuah dataran tinggi yang berada di kawasan perbatasan Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, masih menjadi salah satu primadona tujuan wisata bagi para traveler untuk melihat keindahan alam yang alami.
Dengan memiliki ketinggian sekitar 1.731 meter di atas permukaan laut, gunung yang dinyatakan masih aktif hingga sekarang ini, tidak hanya menawarkan pesona memukau, tetapi juga menyimpan berbagai fakta unik yang masih jarang terungkap oleh masyarakat luas.
Meski pernah mengalami letusan besar pada 2014 silam, vegetasi di lereng gunung kini perlahan pulih. Hamparan hijau kembali menyelimuti kawasan yang dahulu dipenuhi material vulkanik, menghadirkan keindahan luar biasa yang menjadikannya sebagai salah satu ikon destinasi wisata alam terbaik yang dimiliki oleh provinsi Jawa Timur.
Bagi wisatawan yang ingin memulai perjalanan menuju Gunung Kelud bisa dilakukan dari gerbang wisata yang berada di wilayah Kabupaten Kediri.

Ilustrasi rute Gunung Kelud
Jika melalui jalur Kota Kediri, wisatawan membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam perjalanan darat melewati kawasan perkebunan dan lereng pegunungan.
Rute menuju lokasi relatif sedang dengan jalur aspal, serta di beberapa titik jalan mulai menanjak dan berkelok tajam.
Sedangkan mengenai harga tiket di tahun 2026, pengunjung hanya akan dikenakan tarif Rp8 ribu pada hari biasa dan Rp10 ribu saat akhir pekan. Sementara tarif parkir motor dipatok Rp3 ribu, mobil Rp5 ribu, hingga bus besar Rp15 ribu.
Fenomena Kawah dan Jalur Menuju Jalan Misteri
Memasuki kawasan lereng Kelud, hembusan angin pegunungan langsung terasa di kulit. Di sepanjang perjalanan, para pelancong akan menemukan kawasan perkebunan Margomulyo yang dahulu dikenal sebagai lahan kopi dan karet peninggalan masa lampau yang kini disulap dan dikembangkan menjadi kawasan agrowisata dan jalur off road.
Namun saat menyusuri lintasan terdapat sejumlah bangunan wisata yang tampak terbengkalai. Bekas taman, pos tiket lama, hingga bangunan kosong yang berdiri sunyi di area tepi jalan.
Salah satu titik rute paling unik di sepanjang perjalanan disaat pengunjung sedang melintasi sebuah medan yang disebut “jalan misteri”. Jalur ini berada saat pengunjung sedang berkendara menuju kawasan atas Kelud.
Lokasi ini viral karena kendaraan yang diposisikan netral ataupun keadaan off disebut bisa bergerak sendiri meski tampak berada di jalan menanjak.
Fenomena aneh ini banyak yang mengaitkan dengan medan magnet bumi, meski sebagian lain menganggapnya sebagai ilusi optik akibat kontur jalan yang mengecoh pandangan.
Tak sekadar itu, aura misteri juga terasa lebih kental. Di tengah semilir angin sejuk dan kabut yang sesekali turun dari punggung lereng, suasana kawasan nampak begitu magis jika memasuki waktu menuju senja.
Pengalaman ini pastinya membuat para pengunjung merasa mendapatkan sensasi menegangkan dan juga terhipnotis karena hawa mistis yang menyelimuti jalan yang diapit oleh pepohonan bukit.
Di balik udara sejuk di lerengnya, Gunung Kelud juga memiliki jalur yang terkenal cukup ekstrem yang membuat para wisatawan harus ekstra hati-hati saat menuju ke arah bukit gunung.

Ilustrasi kawah Gunung Kelud
Namun, rasa lelah dan letih para pengunjung akan langsung terbayar begitu tiba di area kawah utama. Wisatawan akan disuguhkan dengan pemandangan kawah raksasa yang eksotis dipadukan dengan tebing yang menjulang tinggi menghidupkan suasana seolah memasuki negeri dongeng.
Menembus Lereng Kelud dengan Ojek Wisata
Perjalanan menuju kawah utama tidak bisa ditempuh kendaraan pribadi hingga titik akhir. Wisatawan harus berhenti di rest area atau parkiran utama sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan jasa ojek wisata.
Tarif ojek pulang-pergi dipatok sekitar Rp40 ribu untuk wisatawan domestik. Jalur yang ditempuh cukup curam dengan tikungan tajam.
Sepanjang perjalanan, wisatawan akan disuguhi berbagai titik pemandangan yang bakal membuat terpukau.

Jalur wisata gunung Kelud
Beberapa diantaranya bahkan menjadi spot favorit bagi pengunjung yang ingin mengabadikan momen istimewa mereka dengan ponsel sebelum tiba di lokasi area kawah.
Di suatu sisi gunung, terlihat jalur pendakian yang menuju Puncak Sejati Kelud. Jalur tersebut sering digunakan oleh para pendaki profesional yang ingin menjelajahi sisi lain gunung selain kawasan kawah wisata.
Sementara pada area lainnya, terdapat Tebing Sumbing yang merupakan salah satu ikon visual Gunung Kelud.
Tebing tersebut memiliki formasi batu berlapis yang terbentuk dari material erupsi purba. Dari sana, pengunjung dapat menikmati pemandangan kawah dan pegunungan yang terhampar di kejauhan. Saat cuaca cerah, siluet Gunung Kawi dan Gunung Wilis terlihat samar di balik cakrawala.
Terowongan Ganesa dan Jejak Hindia Belanda
Sebelum tiba di kawah utama, wisatawan akan melewati Terowongan Inlet Ganesha, sebuah lorong bersejarah yang dibangun pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1923 hingga 1926. Terowongan sepanjang sekitar 100 hingga 200 meter itu dahulu digunakan sebagai saluran pengendali air kawah untuk mengurangi risiko banjir lahar.
Asal nama Ganesha berasal dari lambang kebijaksanaan dalam agama Hindu. Lorong tersebut menyaksikan bagaimana Gunung Kelud telah lama dianggap sebagai gunung yang perlu diwaspadai sekaligus dihormati.
Suasana di dalam terowongan terasa lembab dan dingin. Dinding batu cor yang masih kokoh menghadirkan kesan seperti memasuki lorong masa lampau. Banyak wisatawan berhenti sejenak di area ini untuk merasakan atmosfer sejarah yang masih melekat kuat.

Ilustrasi terowongan Ganesha
Keluar dari terowongan, pemandangan kawah Gunung Kelud langsung terbentang megah. Danau kawah berwarna hijau tosca tampak dikelilingi tebing batu raksasa. Air kawah memantulkan cahaya matahari seperti tirta kehijauan yang tersimpan di cekungan gunung purba.
Bentang alam itu menjadi bukti bagaimana Kelud terus berubah akibat aktivitas vulkaniknya. Sebelum letusan 2007, kawasan kawah sempat memiliki anak gunung yang muncul di tengah danau. Namun letusan besar 2014 membuat bentuk kawah berubah total dan anak gunung tersebut menghilang.
Namun dengan seiring berjalannya waktu saat ini, bentuk kawah sudah mulai kembali normal dan di penuhi oleh air danau yang muncul secara alami.
Gunung Aktif dengan Sejarah Letusan Abu Vulkanik
Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api yang paling aktif di Indonesia, menurut catatan sejarah, gunung ini telah meletus lebih dari 30 kali sejak abad ke-11. Letusan paling dahsyat terjadi pada tahun 1919 yang menyebabkan ribuan orang tidak selamat akibat banjir lahar. Sementara itu, letusan pada tahun 2014 dianggap sebagai salah satu letusan terbesar di era modern.
Abu vulkanik dari Gunung Kelud bahkan mencapai Yogyakarta dan sebagian wilayah Jawa Barat, serta menyebabkan penutupan sejumlah bandara di Pulau Jawa.

Ilustrasi suasana pegunungan
Nama “Kelud” sendiri diyakini berasal dari istilah Jawa kuno yang berarti sapu, menggambarkan kekuatan letusan gunung yang mampu menyapu segala sesuatu di sekitarnya.
Meskipun terdapat ancaman dari Gunung Kelud, tanah di sekitar lerengnya sangat subur berkat endapan abu vulkanik, membuatnya cocok untuk perkebunan kopi, cengkeh, nanas, dan sayuran dataran tinggi. Banyak warga sekitar yang kini menggantungkan hidup dari sektor pariwisata dan pertanian.
Legenda Lembu Suro dan Kutukan Gunung Kelud
Gunung Kelud dikenal tidak hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kisah legenda yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu cerita yang paling terkenal adalah legenda tentang Lembu Suro dan Putri Dewi Kilisuci pada masa Kerajaan Kediri.
Konon, Lembu Suro berhasil memenuhi syarat untuk memenangkan hati sang putri dalam sebuah sayembara. Namun, akhirnya ia tertipu dan dikubur hidup-hidup di sebuah sumur di puncak gunung.
Sebelum meninggal, Lembu Suro diyakini meninggalkan kutukan dan sumpah serapah yang kemudian dikaitkan oleh sebagian masyarakat dengan letusan Gunung Kelud.
Meskipun kebenaran cerita tersebut masih diragukan, legenda ini telah menjadi bagian dari budaya lokal yang membuat Gunung Kelud semakin menarik untuk dipelajari.
Hingga saat ini, sejumlah ritual larung sesaji masih sering dilakukan oleh warga sekitar sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan nenek moyang. Tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sekitar Gunung Kelud yang memadukan kepercayaan lokal dengan nilai spiritual Jawa kuno.
- Penulis: Arief Nugroho

Add your first comment to this post