De Karanganjar Blitar: Perpaduan Wisata Sejarah Kolonial, Jejak Bung Karno, dan Misteri Lukisan Hidup
- Jejak Spiritual
- calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026

NusaSpirit.com – Di ujung utara pusat Kota Blitar, tepatnya di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, terdapat sebuah destinasi wisata sejarah bernuansa kolonial Belanda yang masih mempertahankan pesona masa lampau.
Objek wisata bernama De Karanganjar ini berdiri di tengah hamparan perkebunan kopi seluas 220 hektare. Kawasan tersebut merupakan peninggalan perusahaan Belanda yang telah dikelola sejak tahun 1874.
Sebelum tiba di area wisata, pengunjung akan melewati jalan pedesaan dengan panorama hijau khas pegunungan yang menghadirkan suasana tenang dan alami.

Pelataran De Karanganjar
Sesampainya di lokasi, udara sejuk langsung terasa di kulit. Deretan bangunan tua bergaya vintage Eropa tempo dulu menyambut pengunjung, menambah nuansa klasik yang mengingatkan pada suasana ratusan tahun silam.
Keanggunan Rumah Lodji dan Jejak Bung Karno
Arsitektur bangunannya masih tampak megah, mulai dari langit-langit yang menjulang tinggi, ventilasi berukuran besar, hingga pintu kayu raksasa yang tetap kokoh dan terawat.
Aroma kayu tua yang berpadu dengan hawa dingin perkebunan menciptakan nuansa lawas yang membuat pengunjung seolah diajak kembali ke lorong waktu.
Memasuki area utama, pengunjung langsung berada di dalam rumah Lodji dengan berbagai benda antik yang tertata apik.
Di dalamnya terdapat mesin tik jadul, meja kayu besar, piano tua, hingga lukisan-lukisan bergaya Eropa klasik yang memenuhi dinding ruangan.
Salah satu bagian yang dikenal cukup sakral adalah kamar 806 yang disebut pernah menjadi tempat singgah Presiden pertama RI, Ir. Soekarno.
Di ruangan tersebut terdapat tempat tidur jadul dan sejumlah properti lawas yang masih tersimpan rapi. Di beberapa sudut tempat juga terlihat interior berupa ukiran kayu khas Jawa dan Bali, guci antik, hingga seperangkat gamelan tradisional.
Edukasi Sejarah di Museum Nugroho
Tidak jauh dari Lodji, terdapat Museum Nugroho yang menampung berbagai koleksi pribadi milik Herry Nugroho, mantan Bupati Blitar pada periode 2006-2016. Museum itu dibuka untuk umum sejak 2021 dan kini sering menjadi tujuan wisata edukasi sejarah.
Isi museumnya cukup beragam para pengunjung dapat melihat piagam penghargaan, foto-foto kenegaraan, pakaian dinas, hingga benda pusaka yang berkaitan dengan sejarah Jawa dan perjuangan nasional.
Beberapa koleksi lainnya antara lain keris kuno, tongkat komando, topi demang, wayang golek, topeng barongan, sampai kain batik klasik.
Di antara berbagai koleksi itu terdapat satu benda yang dianggap sakral dan dikeramatkan yang bernama Gong Mbah Gimbal.

Doc. Foto
Dengan diiringi alunan musik campursari yang diputar pelan di dalam ruangan membuat suasana museum terasa lebih kental khas Jawa.
Namun, ada satu lokasi yang paling sering memancing rasa penasaran wisatawan, yakni area makam Belanda di tengah perkebunan kopi.
Untuk menuju tempat itu, pengunjung harus melewati jalan rindang dan gerbang tua yang dipenuhi pepohonan besar.
Di area pemakaman yang sunyi tersebut, terdapat makam tua bertuliskan nama “W. Smith” dengan tahun wafat 1897, yang dipercaya sebagai salah satu pengelola awal perkebunan ini.
Sisi Mistis dan Misteri Lukisan Hidup
Terlepas dari nuansa estetik dan sejarahnya, kompleks bangunan kuno ini juga menyimpan berbagai cerita misteri.
Sejumlah kisah mistis muncul dari pengalaman beberapa wisatawan yang mengaku merasakan aura berbeda ketika berada di dalam rumah Lodji maupun museum tua.
Bahkan ada pula yang menyebut lukisan-lukisan klasik di sana seolah “hidup” dan matanya bergerak ketika dipandangi terlalu lama saat senja tiba.
Cerita misteri ini juga melekat pada kamar khusus Bung Karno yang digunakan untuk mengenang kunjungan beliau ke perkebunan tersebut pada tahun 1957.

Lukisan Ir. Soekarno
Di dalam kamar terdapat lukisan besar Soekarno sedang termenung yang dibuat pada tahun 2011 oleh seorang pelukis asal Blitar yang menetap di Bali.
Lukisan itu sempat viral di media sosial karena sejumlah pengguna TikTok mengaku melihat bayangan di belakang sosok Soekarno bergerak sendiri saat video berputar.
Tidak jauh dari sana, terdapat kamar keluarga lama perkebunan yang menyimpan potret seorang pria bangsawan tua yang sering membuat pengunjung merinding.
Ada pula koleksi lukisan kuno karya pelukis Belanda bernama Isac Israel. Dengan suasana gelap dan ekspresi tokoh yang suram, banyak pengunjung menyamakan nuansa lukisan itu dengan film horor Silent Hill.
Pengelola mengungkapkan bahwa lukisan tersebut diperoleh dari seorang teman yang keluarganya sering mengalami gangguan setelah lukisan dipajang.
Di ruangan yang sama terdapat pula lukisan seorang anak kecil yang dijuluki “boneka setan” karya pelukis lokal tahun 2006, lukisan Dewi Sri yang bernuansa mistis, hingga lukisan laksamana Belanda yang matanya seolah mengikuti pengunjung.
Ada pula lukisan perempuan Pantai Selatan yang dibeli di kawasan Parangkusumo, Yogyakarta, yang konon hanya boleh dimiliki oleh orang yang memiliki pengalaman spiritual serupa dengan sang pelukis.
Menikmati Kopi di OG Cafe
Meski kisahnya terdengar menyeramkan, nuansa horor ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin berkunjung di sini.
Setelah puas menguji nyali dan belajar sejarah, pengunjung dapat bersantai di OG Cafe. Area coffee shop ini menjadi salah satu spot favorit karena berada di tengah bangunan peninggalan era kolonial.
Di tempat ini, pengunjung dapat menikmati secangkir kopi hitam khas hasil perkebunan Karanganjar sendiri sambil bersantai di ruangan bergaya vintage dengan meja kayu tua.
Uniknya, para waiters-nya justru merupakan bule-bule dari luar negeri yang mendedikasikan untuk magang di tempat ini.
Adapun beberapa menu minuman khas yang menjadi pilihan terbaik yang disediakan seperti kopi arabica, robusta, Excelsa, dan Babota.
Sementara untuk tiket masuknya dikenakan gratis, namun pengunjung disarankan untuk membeli kartu voucher senilai Rp25.000 yang dapat digunakan untuk berbagai fasilitas dan pembelian produk.
Sebagian besar pengunjung datang bukan hanya untuk berfoto, tetapi untuk merasakan langsung suasana dari salah satu jejak perkebunan kopi tertua di Jawa Timur.
- Penulis: Arief Nugroho

Add your first comment to this post