Wisata Religi Makam Syekh Jangkung ‘Saridin’ di Pati, Intip Kisah Karomah dan Warisan Budayanya
- Jejak Spiritual
- calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026

NusaSpirit.com – Nama Syekh Jangkung, atau lebih dikenal sebagai Saridin oleh masyarakat Pati, tentunya sudah sangat akrab di telinga mereka.
Beliau tidak hanya dikenal sebagai salah satu tokoh penyebar agama Islam pada masanya, tetapi juga karena perjalanan spiritualnya yang dinilai nyeleneh dan penuh karomah.
Kisah-kisah tersebut justru menginspirasi banyak orang, termasuk para cendekiawan Muslim hingga saat ini.
Kompleks makamnya yang terletak di Desa Landoh, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, hingga kini masih menjadi salah satu destinasi wisata religi yang ramai dikunjungi peziarah, baik dari Pati maupun berbagai daerah lainnya.
Para pengunjung yang datang ke lokasi ini memiliki beragam tujuan, mulai dari mengenal sejarah Islam, berziarah, hingga menjalankan tradisi ngalap berkah yang masih hidup di tengah masyarakat.
Tak hanya itu, nama Syekh Jangkung juga kerap muncul dalam berbagai pagelaran seni dan budaya. Kisah hidupnya sering diangkat ke dalam pementasan wayang klasik, cerita rakyat, ketoprak, teater seni, serta tercatat dalam berbagai naskah sejarah, termasuk Babad Tanah Jawa.
Untuk menuju lokasi pemakaman, pengunjung dapat menempuh perjalanan sekitar 30 menit dari pusat Kota Pati. Akses menuju kawasan tersebut juga tergolong mudah karena berada di jalur utama Pati–Purwodadi.
Kondisi jalan yang telah beraspal dengan baik membuat kawasan ini dapat dilalui berbagai jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor, mobil, hingga bus pariwisata.
Sebelum memasuki area kompleks makam, pengunjung akan menjumpai deretan pedagang yang menjajakan berbagai hasil bumi termasuk bunga tabur, aneka kerajinan tangan, hingga beragam oleh-oleh khas daerah.
Di kawasan utama makam Syekh Jangkung, terdapat pula sebuah pendopo yang difungsikan sebagai tempat beristirahat bagi para peziarah.
Bangunan ini dihiasi berbagai ornamen tradisional bernuansa masa lampau. Pendopo tersebut juga memiliki keunikan pada tiang penyangganya yang terbuat dari bambu berukuran besar, sehingga menciptakan kesan unik dan menarik bagi para pengunjung.
Salah satu pedagang bunga yang ditemui di sekitar kawasan makam mengatakan bahwa jumlah peziarah biasanya meningkat pada hari-hari tertentu, terutama menjelang pengajian maupun saat peringatan haul Syekh Jangkung.
“Kalau sudah menjelang malam Jumat Legi atau acara haul besar, area ini penuh sesak. Dagangan bunga saya bisa ludes dalam hitungan jam,” ujar Sulastri, salah satu penjual bunga di area makam.
Kisah Karomah Syekh Jangkung
Menurut literatur sejarah Babad Tanah Jawa, Syekh Jangkung pernah mendalami agama Islam dengan berguru kepada sejumlah tokoh Wali Songo, di antaranya Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga.
Salah satu kisah yang paling tersohor dan masih melekat dalam ingatan masyarakat adalah filosofi tentang ikan. Dalam cerita tersebut, beliau pernah mengatakan bahwa setiap air pasti ada ikannya.
Jejak kisah ini berkaitan dengan masa ketika beliau berguru di padepokan Sunan Kudus, yang menunjukkan kedalaman pemahaman tauhid serta keyakinannya terhadap kekuasaan Allah SWT.
Selain itu, terdapat kisah unik lain yang tidak kalah melegenda. Syekh Jangkung konon mampu menimba air menggunakan keranjang yang berlubang. Secara ajaib, wadah anyaman tersebut tetap terisi penuh tanpa bocor sedikit pun hingga mampu memenuhi bak mandi di padepokan.
Peninggalan Syekh Jangkung
Di sekitar kompleks makam utama, para peziarah maupun pemerhati sejarah dapat menemukan beberapa benda yang telah dimuseumkan dan diyakini sebagai jejak peninggalan Syekh Jangkung.
Salah satunya ialah kumpulan tulang yang konon berasal dari Kebo Landoh, seekor kerbau yang sering muncul dalam cerita perjalanan hidup beliau.
Tulang-tulang tersebut disimpan dengan baik di dalam etalase kaca sehingga pengunjung dapat melihat struktur dan keunikan setiap bagiannya secara langsung.
Banyak orang datang bukan hanya untuk berziarah, tetapi juga untuk melihat peninggalan-peninggalan yang masih dilestarikan sebagai bentuk penghormatan sekaligus warisan budaya.
Menurut cerita warga sekitar, Kebo Landoh merupakan hewan yang sangat dekat dengan Syekh Jangkung. Bahkan, ada satu riwayat yang menyebutkan bahwa Kebo Landoh pernah mati lalu hidup kembali atas izin Allah SWT melalui karomah yang dimiliki Syekh Jangkung.
Petuah Moral Syekh Jangkung
Di balik berbagai kisah karomah yang melekat pada dirinya, Syekh Jangkung sesungguhnya lebih dikenal karena pesan-pesan moral yang diwariskannya kepada masyarakat.
Salah satu petuah yang sering dikaitkan dengan beliau berbunyi, “Ojo njupuk nek ora dikongkon, ojo njaluk nek dudu duweke,” yang dimaknai sebagai larangan mengambil sesuatu yang bukan haknya serta tidak meminta sesuatu yang bukan miliknya.
Prinsip-prinsip itulah yang membuat nama Syekh Jangkung tetap harum dan dikenang hingga sekarang, bukan hanya sebagai tokoh yang dihormati karena perannya dalam menyebarkan agama Islam, tetapi juga sebagai sosok yang mengajarkan etika hidup kepada masyarakat.
Lokasi Makam Syekh Jangkung:
- Penulis: Ferdi Diningrat
- Editor: M. Ilman Arif
- Sumber: https://youtu.be/UMLZqa-hUXc?si=iuV6V7ekZP5moOIt

Add your first comment to this post