Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Beranda » Berita Budaya » Di Balik Riuh Pasar Burung Joyo Madiun: Kisah Mbah Nardi Menjaga Tradisi Kejawen Lewat Benda Bertuah

Di Balik Riuh Pasar Burung Joyo Madiun: Kisah Mbah Nardi Menjaga Tradisi Kejawen Lewat Benda Bertuah

NusaSpirit.com – Di tengah deretan penjual burung dan perlengkapan hewan peliharaan, terdapat lapak sederhana yang justru dipadati pengunjung karena menjajakan benda-benda antik, pusaka, hingga perlengkapan bernuansa mistis dan spiritual Jawa.

Lapak itu milik seorang pedagang yang memperkenalkan dirinya sebagai Mbah Nardi. Ia dikenal sebagai penjual barang-barang klenik yang hanya membuka pajangan dagangnya setiap hari Minggu di kawasan Pasar Burung Srijaya, Kota Madiun, Jawa Timur.

Pria sepuh ini memiliki beragam koleksi yang tersusun rapi di meja kayu dan rak sederhananya, mulai dari patung Semar Kuncung, Nyi Blorong, tombak trisula, keris Sabuk Inten, hingga batu buntet dengan nilai harga yang tergolong tinggi.

Keberadaan lapak itu cukup menarik perhatian bagi orang lewat. Banyak pengunjung yang penasaran karena Mbah Nardi menawarkan barang-barang yang dipercaya memiliki nilai kesakralan tersendiri.

Tidak sedikit pembeli datang hanya untuk melihat-lihat, namun ada pula yang sengaja mencari benda tertentu untuk koleksi, pajangan rumah, hingga penunjang usaha dan perdagangan.

Suasana transaksi antara pembeli dan penjual tampak berlangsung santai dan penuh candaan khas Jawa. Mbah Nardi beberapa kali menjelaskan fungsi benda-benda yang dijualnya kepada pengunjung, termasuk adanya kepercayaan masyarakat terhadap manfaat spiritual dari benda itu.

“Barang-barang antik, barang unik, klenik, semua ada di sini,” ujar Mbah Nardi.

Berbagai Pusaka dan Benda Spiritual Dipajang Terbuka

Pasar Burung Srijaya atau lebih populer dengan nama Joyo berada di wilayah Kota Madiun, Jawa Timur. Lokasinya cukup dikenal masyarakat karena menjadi pusat jual beli burung, hewan peliharaan, dan barang-barang unik sejak lama. Setelah sebelumnya sempat mengalami kebakaran beberapa tahun lalu, aktivitas pasar kini kembali ramai didatangi pengunjung.

Di lapak Mbah Nardi, benda-benda yang dijual tidak hanya berupa barang kuno biasa. Beberapa di antaranya disebut memiliki unsur spiritual dan dipercaya membawa keberuntungan. Dalam tradisi Jawa, hal ini biasa disebut dengan istilah yoni atau tuah khusus yang bersemayam di dalam suatu benda yang dikeramatkan.

Di antara koleksi milik Mbah Nardi ada yang cukup unik yakni Semar Kuncung, sebuah patung kecil tokoh Semar yang dalam ilmu pewayangan digambarkan sebagai sosok yang memiliki jiwa welas asih. Benda ini menjadi salah satu koleksi yang paling ikonik. Harga benda itu ditawarkan sekitar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu tergantung bentuk dan ukuran.

Selain itu ada pula patung Nyi Blorong, figur mitologi Jawa yang digambarkan sebagai sosok ular berkepala manusia yang identik dengan kisah pesugihan dan kekayaan. Mbah Nardi menjual benda itu dengan harga ratusan ribu rupiah.

“Niki Nyi Blorong, sami Rp500 ribu,” katanya kepada pengunjung.

Doc. Foto

Doc. Foto

Tidak hanya patung, berbagai jenis keris dan senjata tradisional juga memenuhi meja dagangannya. Ada yang berbentuk lurus, memiliki luk (lekukan), hingga menyerupai trisula.

Dalam dunia perkerisan, kualitas dan harga keris tidak ditentukan oleh jumlah luknya, melainkan dari keutuhan material besi, keindahan pamor (pola guratan logam), nilai sejarah, serta tingkat kerumitan tempaan sang Empu. Semakin rapi garapan dan semakin langka pamornya, maka akan semakin tinggi pula kualitas dan nilai jual keris tersebut. Harga yang ditawarkan bervariasi mulai ratusan ribu rupiah hingga jutaan rupiah tergantung bentuk dan usia benda.

Salah satu koleksi yang paling mahal ialah sebilah keris bertuah yang disebut “Sabuk Inten”. Keris luk 11 yang dipercaya membawa aura kemakmuran ini dibungkus kain khusus dan ditawarkan seharga Rp1 juta.

Dipercaya Memiliki Tuah untuk Dagang dan Tolak Bala

Sebagian besar benda yang dijual di lapak milik Mbah Nardi disebut memiliki fungsi spiritual tertentu menurut kepercayaan masyarakat Jawa.

Beberapa batu keong buntet misalnya dipercaya bisa membantu melancarkan usaha dan perdagangan. Mbah Nardi menyebut benda itu banyak dicari pedagang karena diyakini membawa keberuntungan.

“Kanggo dagang, ben laris manis,” ucapnya sambil menunjukkan batu kecil menyerupai siput yang sudah berbentuk fosil berwarna gelap kepada pengunjung.

Selain batu buntet, ada pula “pring combong”, sejenis bambu berlubang alami yang dipercaya memiliki fungsi tolak bala. Bentuk lubangnya disebut menyerupai tombak.

“Tolak bala,” kata Mbah Nardi singkat saat menjelaskan fungsi benda tersebut.

Ia juga menjual kayu stigi, minyak kasturi, hingga bambu berbentuk “patil lele” yang dipercaya bisa digunakan sebagai pagar rumah dan penolak energi negatif.

Meski sebagian orang menganggap benda-benda tersebut hanya merupakan koleksi atau barang antik biasa, tidak sedikit masyarakat Jawa yang masih percaya terhadap unsur spiritual di baliknya.

Kepercayaan semacam ini memang telah lama menjadi bagian dari tradisi budaya Jawa peninggalan nenek moyang yang masih dilestarikan oleh sebagian penduduk, terutama yang berkaitan dengan pusaka, benda bertuah, dan simbol perlindungan diri.

Tradisi Kejawen Masih Bertahan di Tengah Modernisasi

Fenomena perdagangan benda klenik di pasar tradisional sebenarnya bukan hal baru di Jawa Timur. Sejumlah daerah seperti Madiun, Ponorogo, Kediri, Blitar, Surabaya hingga Tulungagung dikenal masih memiliki komunitas pecinta pusaka dan benda spiritual.

Bagi sebagian kolektor, benda-benda tersebut bukan hanya memiliki nilai estetik dan mistis, tetapi juga nilai sejarah dan seni. Keris misalnya, telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia karena dianggap memiliki filosofi dan teknik pembuatan khas Nusantara.

Di lapak Mbah Nardi, unsur budaya Jawa terasa sangat kuat. Percakapan berlangsung menggunakan bahasa Jawa ngoko dan krama campuran. Banyak pengunjung tampak akrab berdiskusi soal tuah benda, kecocokan energi, hingga fungsi spiritual masing-masing barang.

Meski demikian, transaksi tetap dilakukan layaknya jual beli biasa. Pengunjung bebas menawar harga dan memilih barang sesuai minat mereka.

“Harga bisa nego, pokoke cocok,” ujar Mbah Nardi sambil tertawa.

Ia juga mengaku sebagian barang yang dijual merupakan koleksi lama dan temuan alami, bukan hasil rekayasa. Karena itu, beberapa kolektor disebut rela datang dari luar kota hanya untuk mencari benda tertentu.

Jadi Daya Tarik Tersendiri di Pasar Burung Joyo

Keberadaan lapak barang klenik di Pasar Burung Joyo kini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Banyak orang datang bukan hanya untuk membeli barang, tetapi juga penasaran dengan cerita dan mitos di balik setiap benda yang dipajang.

Beberapa pengunjung terlihat sibuk memotret koleksi keris dan patung Semar, sementara yang lain memilih berbincang santai dengan Mbah Nardi mengenai sejarah barang-barang tersebut.

Di tengah derasnya modernisasi dan perkembangan teknologi, keberadaan lapak seperti ini menunjukkan bahwa tradisi kejawen dan kepercayaan terhadap benda pusaka masih tetap hidup di tengah masyarakat.

Bagi sebagian orang, benda-benda itu mungkin hanya barang antik biasa. Namun bagi yang mempercayainya, setiap pusaka diyakini memiliki cerita, filosofi, bahkan energi tersendiri yang diwariskan turun-temurun.

Add your first comment to this post

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi batu punden Joko Selining

    Misteri Punden Joko Selining: Situs Keramat Tanpa Tumbal di Tengah Kebun Tebu Mojokerto

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, tepatnya di tengah hamparan perkebunan tebu terdapat sebuah situs yang dikeramatkan oleh warga setempat. Situs tersebut berupa sebuah batu yang dibalut kain poleng hitam-putih dan dikenal dengan nama Punden Joko Selining. Batu yang berada di bawah cungkup sederhana ini tidak hanya dianggap […]

  • Kang Suroso di kompleks makam Mbah Harjo, Blitar, Jawa Timur.

    Mbah Harjo, Sesepuh Blitar yang Diyakini Menguasai Ilmu Pancasona dan Hidup hingga 215 Tahun

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com — Pancasona merupakan salah satu ajian yang berasal dari tradisi mistik Jawa kuno, yang hingga kini masih kerap dibicarakan dalam kisah-kisah lisan masyarakat. Konon, ajian ini dikenal memiliki tingkatan hierarki yang tinggi dalam dunia keilmuan kebatinan Jawa dan sering disejajarkan dengan ajian Rawa Rontek. Dalam berbagai cerita turun-temurun, Pancasona diyakini memiliki daya magis luar […]

  • Ilustrasi tradisi Lawadan di Tulungagung: warga mengarak sesaji dan hasil bumi dalam upacara adat

    Ritual Lawadan Tulungagung: Jejak Sejarah, Mitos Buaya Putih, dan Tradisi Bersih Desa yang Terus Dilestarikan

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Tidak banyak daerah di Jawa Timur yang memiliki tradisi bersih desa dengan latar sejarah, mitos, dan ritual sekompleks Desa Wates, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Dalam penuturan masyarakat setempat, Desa Wates dikenal memiliki sebuah upacara adat yang dahulu digelar pada awal Bulan Suro dan disebut sebagai Ritual Lawadan. Bagi warga lokal, ritual ini bukan […]

  • Ilustrasi

    7 Ciri Mata Batin Terbuka Sempurna, Benarkah Bisa Dirasakan? Ini Penjelasannya

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Pernah nggak sih kamu merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirimu? Entah itu perasaan jadi lebih tenang, lebih peka terhadap sekitar, atau bahkan seperti “menangkap” hal-hal yang sebelumnya nggak pernah kamu sadari. Banyak orang mengaitkan pengalaman seperti ini dengan apa yang disebut sebagai terbukanya mata batin. Istilah ini memang sudah lama dikenal, terutama […]

  • Suasana Kamojang Hill Bridge yang dikenal warga sebagai Jembatan Kuning, jalur pegunungan yang menyimpan cerita mistis dan kecelakaan berulang.

    Jembatan Kuning Kamojang, Panorama Eksotis dengan Cerita Mistis yang Terus Melegenda

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di jalur pegunungan Kamojang yang menghubungkan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, Jawa Barat, berdiri sebuah jembatan yang dikenal luas dengan nama Jembatan Kuning. Selain menawarkan panorama alam yang memukau, lokasi ini juga menyimpan berbagai cerita mistis yang hingga kini terus menjadi perbincangan masyarakat. Jembatan yang berada di jalur Lingkar Kamojang ini kerap dilalui […]

  • Suasana jembatan menuju Gunung Kombang di kawasan Pantai Ngliyep, Malang Selatan.

    Menguak Misteri Gunung Kombang: Tempat Petilasan Sakral dan Jejak Ritual Nyi Roro Kidul di Pesisir Malang

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Siapa di sini yang tidak tahu Pantai Ngliyep? Pantai legendaris di pesisir selatan Kabupaten Malang ini memang terkenal dengan keindahan tebing-tebing karangnya yang gagah dan deburan ombak khas Samudra Hindia yang menggulung tinggi. Namun, jika Anda berjalan sedikit menyusuri area pantai ini, mata Anda akan tertuju pada sebuah bukit yang menjorok ke laut. […]

expand_less