Lele Sakral di Lereng Gunung Cumbri, Mitos yang Membuat Warga Tak Berani Menangkapnya
- Jejak Spiritual
- calendar_month Jumat, 15 Mei 2026

NusaSpirit.com – Di sebuah aliran sungai dangkal di Dusun Jatisari, Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, terdapat pemandangan yang tidak biasa.
Ratusan hingga ribuan ikan lele terlihat hidup bebas di sela-sela bebatuan sungai kecil yang berada di kaki Gunung Cumbri, kawasan perbatasan Kabupaten Wonogiri dan Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Airnya tidak terlalu deras, bahkan pada musim kemarau hanya setinggi mata kaki. Namun jumlah ikan yang memenuhi sungai itu membuat banyak orang terkejut ketika pertama kali melihatnya.
Keberadaan kawanan lele tersebut sudah lama menjadi perbincangan warga sekitar. Bukan hanya karena jumlahnya yang banyak, tetapi juga karena munculnya mitos yang berkaitan erat dengan kutukan bagi siapa saja yang berani mengambil atau mengusik ikan-ikan tersebut.
Warga percaya ikan-ikan itu tidak boleh diambil ataupun dimakan. Menurut cerita turun-temurun, siapa pun yang nekat menangkap lele dari sungai itu disebut-sebut akan mengalami musibah. Sebagian masyarakat setempat bahkan menamai kawasan tersebut dengan sebutan “Kedung Lele Sakral”.
Lokasi ini berada di kawasan pedesaan yang masih dikelilingi perbukitan dan lahan hijau. Dari arah perbatasan Ponorogo-Wonogiri, pengunjung harus melewati jalan kecil menuju lereng Gunung Cumbri.
Kawasan tersebut bukan tempat wisata resmi. Tidak ada loket masuk maupun pengelolaan khusus seperti objek wisata pada umumnya. Namun hampir setiap hari ada warga luar daerah yang datang untuk melihat langsung keberadaan lele-lele yang dianggap berbeda dari ikan biasa.
Menurut penuturan warga, bentuk ikan di sungai itu memang tidak sama seperti lele yang umum dijual di pasar. Ukurannya lebih besar, warna tubuhnya bervariasi, dan beberapa warga mengaku pernah melihat lele berwarna merah, kuning, hingga hijau menyerupai ikan koi.
Sungai Dangkal dengan Ribuan Lele

Sejumlah lele berukuran besar muncul ke permukaan air saat pengunjung memberi makan di aliran sungai kaki Gunung Cumbri, Wonogiri.
Aliran sungai tempat hidupnya ikan-ikan tersebut berada tidak jauh dari permukiman warga. Di beberapa titik, sungai hanya berupa genangan air dangkal yang dipenuhi batu-batu kecil. Meski demikian, ikan lele terlihat memenuhi hampir seluruh aliran sungai.
Seorang warga setempat bernama Sobiri mengatakan keberadaan lele itu sudah ada sejak dirinya kecil. Ia bahkan menyebut orang tuanya juga sudah mengenal habitat ikan tersebut sejak puluhan tahun lalu.
“Sudah sangat lama, bahkan sejak zaman orang tua dulu. Dulu katanya ada yang warnanya merah, hijau, kuning seperti koi,” ujar Sobiri saat ditemui di Dusun Jatisari, Jumat (15/5/2026).
Ia menuturkan, warga sekitar memilih membiarkan ikan-ikan itu hidup bebas tanpa diganggu. Selain karena faktor mitos, masyarakat setempat juga menganggap keberadaan lele tersebut sebagai bagian dari cerita leluhur desa.
“Warga sini takut mengambil. Dari dulu sudah ada pesan agar tidak mengusik atau menangkap ikan di sini,” katanya.
Di sepanjang sungai, pengunjung bisa melihat ikan lele berukuran besar bersembunyi di sela bebatuan. Ketika ada orang datang membawa makanan, puluhan lele akan langsung muncul ke permukaan air. Pemandangan itulah yang sering menarik perhatian para pendatang.
Beberapa pengunjung memilih memberi makan menggunakan kerupuk atau potongan roti. Aktivitas tersebut dilakukan sekadar untuk melihat kawanan lele berkumpul di permukaan sungai.
Mitos Pengambil Lele Akan Tertimpa Musibah
Cerita yang paling sering terdengar dari lokasi tersebut adalah larangan mengambil ikan dari sungai. Menurut penuturan warga, mitos itu sudah ada sejak lama dan terus diwariskan secara lisan.
Sobiri mengaku pernah mendengar sejumlah cerita tentang orang luar daerah yang nekat menangkap ikan di lokasi itu. Menurut kabar yang beredar, sebagian dari mereka disebut mengalami kejadian tidak menyenangkan setelah membawa pulang ikan tersebut.
“Katanya kalau ada yang mengambil, risikonya ditanggung sendiri. Ada yang percaya bisa membawa musibah,” ujarnya.
Meski demikian, hingga kini belum ada bukti resmi yang dapat memastikan kebenaran cerita tersebut. Sebagian warga menganggapnya sebagai bentuk kearifan lokal agar habitat ikan tetap terjaga dan tidak dieksploitasi.
Selain itu, masyarakat setempat juga percaya bahwa dampak buruk tidak selalu menimpa orang yang mengambil ikan. Dalam cerita yang berkembang, musibah disebut-sebut bisa berimbas kepada lingkungan sekitar apabila pelaku dianggap memiliki “pelindung” tertentu.
Kepercayaan serupa sebenarnya cukup banyak ditemukan di sejumlah daerah di Pulau Jawa. Beberapa wilayah memiliki cerita tentang hewan tertentu yang dianggap keramat dan tidak boleh diganggu. Biasanya kisah tersebut berkembang bersamaan dengan cerita sejarah desa, makam tua, maupun petilasan yang dianggap sakral.
Dekat Makam Tua dan Lereng Gunung
Tidak jauh dari sungai, terdapat area makam tradisional tua yang berada di antara pepohonan dan bebatuan. Lokasinya masih berada di sekitar aliran sungai tempat hidupnya lele-lele tersebut.
Keberadaan makam itu turut memperkuat nuansa mistis di kawasan tersebut. Meski begitu, warga sekitar tetap menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa. Rumah-rumah penduduk berdiri tidak jauh dari sungai, bahkan beberapa di antaranya hanya berjarak beberapa meter dari lokasi habitat ikan.
Pada malam hari, sebagian warga mengaku kerap mendengar suara percikan air dari arah sungai. Namun mereka menganggap suara tersebut berasal dari pergerakan ikan lele yang aktif di sela bebatuan.
“Kalau malam kadang terdengar suara seperti ada lele lompat-lompat di air,” kata Sobiri.
Gunung Cumbri sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan perbukitan yang berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Lokasinya cukup populer di kalangan pendaki karena menawarkan pemandangan alam dari ketinggian. Namun di balik panorama alam tersebut, masyarakat sekitar juga menyimpan banyak cerita rakyat yang berkembang secara turun-temurun.
Sebagian masyarakat percaya kawasan lereng gunung memiliki hubungan erat dengan cerita spiritual dan tradisi lama masyarakat Jawa. Karena itulah, berbagai kisah mistis di sekitar Gunung Cumbri masih sering menjadi bahan perbincangan hingga sekarang.
Fenomena Serupa Ditemukan di Daerah Lain
Terlepas dari itu semua, mitos tentang hewan yang tidak boleh diambil juga ditemukan di sejumlah daerah lain di Jawa Timur. Di antaranya berada di Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, serta destinasi wisata Telaga Rambut Monte di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar.
Di kawasan Rengel, Tuban, terdapat sungai kecil di dekat mulut gua yang dipenuhi ikan bader atau yang lebih dikenal sebagai ikan tawes. Warga setempat juga mempercayai adanya larangan mengambil ikan dari sungai tersebut.
Menariknya, kawasan itu berada dekat permukiman warga dan sekolah dasar. Pengunjung yang datang biasanya membeli pakan ikan dari pedagang sekitar untuk diberikan kepada kawanan ikan yang memenuhi aliran sungai.
Selain ribuan ikan, kawasan gua di Rengel juga menjadi habitat kelelawar dalam jumlah besar. Aroma khas dari kotoran kelelawar sangat terasa di sekitar lokasi. Sungai kecil itu diketahui mengalir langsung dari dalam gua menuju permukaan.

Ribuan ikan bader terlihat berenang di dekat mulut gua kawasan Rengel, Tuban, yang juga menjadi habitat kelelawar dalam jumlah besar
Sementara itu, di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar yang menjadi lokasi destinasi wisata Telaga Rambut Monte, dikenal adanya spesies ikan sengkaring yang oleh warga setempat kerap dijuluki sebagai “ikan dewa”.
Menurut cerita, ikan tersebut diyakini sebagai penjelmaan para penggawa Mbah Monte yang dahulu ditugaskan menjaga telaga pada masa Kerajaan Majapahit.
Konon, para penggawa itu dianggap melanggar amanah hingga akhirnya mendapat kutukan dan berubah menjadi ikan. Uniknya, jumlah ikan di telaga tersebut dipercaya tidak pernah bertambah maupun berkurang hingga sekarang.

Suasana jernih Telaga Rambut Monte di Blitar yang menjadi habitat ikan sengkaring dan kerap dikaitkan dengan cerita legenda peninggalan Majapahit.
Kabar mengenai larangan mengambil hewan tertentu memang sering ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan mitos penjaga tempat, sementara sebagian lain menganggapnya sebagai cara tradisional menjaga ekosistem alam agar tetap lestari.
Kedung Lele Sakral Menjadi Daya Tarik Wisata Mistis
Meski belum dikelola sebagai objek wisata resmi, keberadaan lele sakral di Dusun Jatisari kini mulai dikenal luas melalui media sosial dan video dokumentasi warga. Banyak orang datang karena penasaran ingin melihat langsung ikan-ikan yang disebut berbeda dari lele biasa.
Sebagian pengunjung menganggap tempat itu unik karena memadukan suasana alam pedesaan dengan cerita mistis yang berkembang di masyarakat. Namun warga tetap berharap siapa pun yang datang bisa menjaga sikap dan tidak merusak lingkungan sekitar.
Hingga kini belum ada penelitian khusus mengenai jenis ikan yang hidup di sungai tersebut maupun asal-usul kemunculannya. Namun satu hal yang pasti, keberadaan lele di kaki Gunung Cumbri telah menjadi bagian dari identitas lokal masyarakat Dusun Jatisari.
- Penulis: Danang Setiawan
- Editor: M. Ilman Arif

Add your first comment to this post