Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Beranda » Berita Budaya » Menapaki 666 Km, Kisah Haru dan Toleransi Saat Biksu Tudong Singgah di Candi Brahu

Menapaki 666 Km, Kisah Haru dan Toleransi Saat Biksu Tudong Singgah di Candi Brahu

NusaSpirit.com – Suasana di sekitar Candi Brahu, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, mendadak padat pengunjung pada Minggu (17/5/2026).

Puluhan Biksu Tudong yang berasal dari berbagai negara di Asia Tenggara tampak memasuki kawasan situs peninggalan Kerajaan Majapahit tersebut.

Kedatangan mereka langsung berhasil menyedot perhatian masyarakat setempat, bahkan hingga luar daerah.

Bagaimana tidak, para biksu ini sedang menjalani laku spiritual yang terkenal cukup ekstrem. Mereka berjalan kaki sejauh 666 kilometer dari Pulau Bali menuju Candi Borobudur, Magelang, untuk menyambut Hari Raya Waisak yang jatuh pada 31 Mei 2026 mendatang.

Rombongan biksu yang hanya bermodalkan bekal dan alas kaki seadanya serta membawa bendera masing-masing negara ini sudah memulai langkah pertama mereka sejak 9 Mei 2026 dari Bali.

Setelah berjalan berhari-hari melintasi jalanan Jawa Timur, mereka akhirnya tiba di wilayah Mojokerto dan langsung menggelar ritual doa di Candi Brahu.

Candi Brahu sendiri merupakan situs peninggalan umat Buddha yang dibangun sekitar abad ke-10 oleh Raja Mpu Sindok dan memiliki tinggi sekitar 20 meter dari permukaan tanah.

Kehadiran mereka bukan cuma menjadi momen religius, tetapi juga simbol toleransi umat beragama yang sangat kuat di tanah bekas pusat peradaban Majapahit itu.

Bagi para biksu, memilih Candi Brahu sebagai tempat persinggahan tentu bukan tanpa alasan. Candi yang dibangun dari bata merah ini dulunya juga merupakan tempat suci untuk ritual keagamaan pada masa kejayaan Majapahit.

Saat prosesi berlangsung, suasana terasa sakral namun tetap bersahaja. Dengan jubah khas berwarna oranye kecokelatan, para biksu merenung dan berdoa di pelataran candi.

Warga lokal dan berbagai komunitas lintas agama juga berkumpul. Sebagian warga sibuk mengabadikan momen langka ini, sementara yang lain memilih diam sebagai bentuk penghormatan.

Kehangatan makin terasa saat organisasi Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia memberikan cenderamata kepada para biksu.

Mengenal Tradisi Tudong

Bagi masyarakat awam, berjalan kaki ratusan kilometer mungkin terdengar mustahil. Namun, dalam ajaran Buddha, hal ini merupakan praktik spiritual kuno yang disebut tradisi Tudong.

Dalam tradisi ini, para biksu melatih diri untuk hidup secara sederhana. Mereka hanya membawa perlengkapan dasar dan menggantungkan kebutuhan makan serta minum dari pemberian ikhlas masyarakat yang mereka temui di perjalanan.

Tak sekadar itu, latihan fisik dan mental juga ditempa untuk mengikis ego, melatih kesabaran, serta mempererat hubungan batin manusia dengan alam dan sesamanya. Sepanjang rute di Pulau Jawa, keteguhan hati para biksu ini berhasil menyentuh hati siapa saja yang menyaksikannya.

Mojokerto dan Trowulan memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan nilai-nilai persatuan, mengingat tradisi Sumpah Palapa lahir di wilayah ini melalui ikrar yang diucapkan oleh Patih Gajah Mada. Kedatangan para Biksu Tudong seolah menghidupkan kembali semangat toleransi yang telah tertanam di tanah ini sejak ratusan tahun lalu.

Romo Sariono, selaku pengurus Mahavihara Mojopahit dan tokoh yang menyambut rombongan tersebut, mengucapkan rasa syukurnya atas kedatangan para pejalan spiritual ini. Thudong kali ini membawa misi mulia bertajuk “Walk for Peace” atau perjalanan untuk perdamaian dunia.

Bagi Romo Sariono, kehadiran para biksu dalam perjalanan ini menjadi momen refleksi yang sangat berharga bagi masyarakat modern. Setiap langkah kaki yang mereka ambil menunjukkan pesan kuat tentang perdamaian dan cara menghargai sesama manusia.

“Kami sangat senang dan bangga bisa dikunjungi dalam perjalanan Thudong kali ini. Ini bukanlah perjalanan biasa. Terdapat pesan-pesan tentang ketekunan, perdamaian, dan penghormatan terhadap sesama yang disampaikan melalui setiap langkah mereka,” ujar Romo Sariono.

Setelah menyelesaikan ritual doa dan beristirahat sejenak, rombongan Biksu Tudong kembali menggendong perlengkapan mereka. Mereka melanjutkan sisa perjalanan panjang menuju titik akhir di Candi Borobudur.

Add your first comment to this post

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi hutan Alas Roban yang menyimpan banyak cerita mistis yang melegenda.

    Misteri Alas Roban Hutan Penuh Cerita Mistis hingga Diangkat ke Film Horor Indonesia

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Terletak di Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terdapat sebuah hutan belantara yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Dikatakan, kawasan ini tidak hanya terkenal karena rimbunnya pepohonan, tetapi juga aura mistis yang begitu kental menyelimuti wilayahnya. Alas Roban memiliki kisah keangkeran yang bukan sebatas cerita turun-temurun. Banyak penduduk lokal maupun pengendara yang melintasi […]

  • Ayam Cemani dengan bulu hitam legam yang menjadi ciri khas ras langka asal Indonesia.

    Misteri Ayam Cemani: Fakta Ilmiah, Legenda Ki Ageng Makukuhan, dan Mitos Tolak Bala

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Ayam cemani adalah jenis ras langka Indonesia yang memiliki gen unik yang membuat warna seluruh tubuhnya, mulai dari bulu, kuku, paruh hingga daging, menjadi hitam pekat. Secara genetika, ayam ini muncul karena adanya mutasi genetik yang disebut fibromelanosis, yaitu adanya duplikasi gen Endothelin-3 (EDN3) yang menyebabkan produksi pigmen melanin meningkat lebih banyak daripada […]

  • Suasana sebuah tempat usaha yang terlihat lengang dan sepi secara tiba-tiba.

    Solusi Mengatasi Usaha yang Diduga Terkena Santet, dari Tanda-Tanda hingga Cara Penanganan

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, banyak pelaku bisnis yang mengaku pernah mengalami kondisi yang terasa janggal. Mulai dari omzet yang tiba-tiba turun drastis, suasana tempat usaha yang mendadak tidak nyaman, sampai munculnya konflik tanpa sebab yang jelas. Di masyarakat Indonesia, kejadian seperti ini sering dikaitkan dengan hal-hal non-fisik, seperti santet, teluh, […]

  • Ilustrasi Sumur Tiban di Bulukidul, Boyolali, yang konon dijaga oleh entitas gaib Raden Ayu Sri Raharjo

    Misteri Lima Sumur Tiban di Lereng Gunung Merapi, Konon Dijaga Raden Ayu Sri Raharjo

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Fenomena mistis terjadi di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Bulukidul, Desa Surotelang, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kawasan yang dikenal sarat cerita gaib ini menyimpan kisah janggal tentang kemunculan lima sumur misterius yang hingga kini sulit dijelaskan secara logika. Menurut penuturan Mbah Citro, salah satu sesepuh desa, sebelum era 1970-an masyarakat […]

  • Dialog spiritual ruqyah syariah antara Mongol Stres dan Ustaz Faisar di kanal Youtube Meja Mongol

    Dialog Mongol Stres dan Ustaz Faisar, Mengulas Ruqyah Syariah dan Fenomena Gangguan Nonmedis

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Fenomena gangguan nonmedis yang kerap dikaitkan dengan aspek spiritual kembali menjadi perbincangan menarik dalam dialog antara komedian Rony Imanuel, yang dikenal luas dengan nama panggung Mongol Stres, dan praktisi ruqyah Ustaz Muhammad Faisar. Dialog tersebut tersaji dalam kanal YouTube Meja Mongol dan langsung menyedot perhatian warganet karena mengungkap sejumlah pengalaman ekstrem yang jarang […]

  • Wanita memakai mahkota sebagai simbol kenaikan derajat hidup menurut primbon Jawa

    7 Tanda Seseorang Akan Dinaikkan Derajatnya Menurut Primbon Jawa, Kenali Sejak Awal

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang berkecukupan, baik dalam hal materi maupun kebahagiaan batin. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan proses panjang yang tidak selalu mudah. Ada fase-fase sulit yang harus dilalui, bisa berupa cobaan yang datang silih berganti, bahkan kegagalan yang terkadang membuat seseorang ingin menyerah. Dalam […]

expand_less