Dialog Mongol Stres dan Ustaz Faisar, Mengulas Ruqyah Syariah dan Fenomena Gangguan Nonmedis
- Berita Budaya
- calendar_month 45 menit yang lalu

NusaSpirit.com – Fenomena gangguan nonmedis yang kerap dikaitkan dengan aspek spiritual kembali menjadi perbincangan menarik dalam dialog antara komedian Rony Imanuel, yang dikenal luas dengan nama panggung Mongol Stres, dan praktisi ruqyah Ustaz Muhammad Faisar.
Dialog tersebut tersaji dalam kanal YouTube Meja Mongol dan langsung menyedot perhatian warganet karena mengungkap sejumlah pengalaman ekstrem yang jarang dibicarakan secara terbuka.
Berbagai isu diulas dalam perbincangan itu, mulai dari praktik ruqyah syar’i hingga tanda-tanda yang kerap dialami pasien sebagai indikasi adanya gangguan nonmedis.
Tak hanya itu, Ustaz Faisar juga membagikan pengalamannya menangani beragam kasus ruqyah, mulai dari gangguan metafisik hingga kejadian yang sulit dijelaskan secara medis.
Salah satu kisah yang paling mengejutkan adalah seorang anak sekolah dasar yang mengalami muntah paku dan jarum disertai keluarnya darah, tanpa adanya luka fisik atau diagnosis klinis yang jelas.
Ruqyah Syariah dalam Perspektif Islam
Menurut Ustaz Faisar, ruqyah secara bahasa berarti bacaan atau jampi. Namun dalam Islam, ruqyah harus berada dalam koridor syariat, yang dikenal sebagai ar-ruqyah asy-syariyyah. Ruqyah ini hanya menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an dan doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, tanpa unsur kesyirikan, mantra mistik, maupun praktik klenik.
Ia menegaskan bahwa ruqyah bukan sekadar ritual pengusiran makhluk halus, melainkan metode penyembuhan holistik yang menyentuh aspek fisik, mental, dan spiritual.
Karena itu, sebelum ruqyah dilakukan, proses konseling atau anamnesis menjadi tahap penting untuk memahami kondisi pasien secara menyeluruh.
“Banyak orang merasa terkena santet atau sihir, padahal setelah diverifikasi dengan ayat-ayat ruqyah tertentu, tidak muncul reaksi apa pun. Biasanya itu gangguan psikologis atau self-diagnosis,” ujar Ustaz Faisar mengutip kanal Youtube Meja Mongol, (12/5/2026).
Penyakit Batin dan Gangguan Spiritual
Dalam praktiknya, mayoritas pasien yang datang bukan karena praktik pesugihan atau persekutuan, melainkan akibat gangguan batin yang menumpuk.
Trauma, kesedihan mendalam, dendam, dan kekecewaan disebut sebagai “penyakit hati” yang dapat membuka celah gangguan spiritual.
Ustaz Faisar mengibaratkan hubungan antara penyakit hati dan gangguan setan seperti “ular yang saling melilit”. Ketika batin seseorang rapuh, kondisi spiritualnya menjadi tidak stabil sehingga lebih mudah terganggu.
Menariknya, pasien ruqyah justru didominasi perempuan. Menurutnya, perempuan cenderung memendam emosi lebih lama, berbeda dengan laki-laki yang lebih ekspresif dalam meluapkan perasaan.
Pengalaman Kasus Ekstrem
Selain kasus anak yang muntah paku, Ustaz Faisar juga menceritakan pengalamannya menangani seorang gadis yang mengeluarkan darah dari pori-pori kulit tanpa luka. Kasus tersebut bahkan ditangani bersama tim medis dan diobservasi selama sebulan di rumah sakit, namun tidak ditemukan penyakit apa pun.
Kasus lain yang tak kalah mengejutkan adalah seorang perempuan yang kehilangan kesadaran selama bertahun-tahun dan mampu berbicara bahasa Arab dengan aksen Mesir, padahal tidak pernah mempelajarinya. Menurut Ustaz Faisar, fenomena tersebut bukan gangguan disosiatif, melainkan indikasi adanya entitas lain yang memengaruhi kesadaran.
“Kasus itu membutuhkan waktu hampir sepuluh tahun hingga Allah memberi kesembuhan. Tidak instan, tetapi melalui proses panjang,” ungkapnya.
Ruqyah untuk Semua Kalangan
Dalam dialog tersebut juga terungkap bahwa ruqyah syariah tidak hanya ditujukan bagi umat Islam. Ustaz Faisar mengaku kerap menangani pasien nonmuslim, dengan catatan mereka memahami bahwa proses penyembuhan dilakukan menggunakan bacaan Al-Qur’an.
Respons pasien pun beragam. Ada yang cukup sekali menjalani ruqyah, ada pula yang kembali untuk terapi lanjutan.
Sementara itu, Mongol Stres meski beragama Kristen mengaku mengagumi nilai-nilai keteladanan Nabi Muhammad SAW, seperti bakti kepada orang tua, keikhlasan, dan empati terhadap sesama.
Ia menegaskan bahwa tujuan hidupnya tidak semata mengejar popularitas, melainkan menjadi pribadi yang lebih baik. Menurut Ustaz Faisar, kondisi Mongol tidak menunjukkan adanya gangguan spiritual, melainkan kesadaran batin yang sehat dan reflektif.
Ustaz Faisar juga menjelaskan bahwa tidak semua teriakan, histeria, atau luapan emosi pada seseorang yang diduga terkena sihir disebabkan oleh jin. Banyak di antaranya merupakan bentuk katarsis atau pelepasan emosi yang terpendam.
Karena itu, ruqyah syariah yang sehat justru menggabungkan pendekatan spiritual dan psikoterapi Islam, dengan tujuan akhir membersihkan jiwa dan menguatkan iman, bukan sekadar mengusir sesuatu yang tak kasatmata.
- Penulis: Arief Nugroho

Add your first comment to this post