Mbah Harjo, Sesepuh Blitar yang Diyakini Menguasai Ilmu Pancasona dan Hidup hingga 215 Tahun
- Spiritual
- calendar_month Selasa, 13 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NusaSpirit.com — Pancasona merupakan salah satu ajian yang berasal dari tradisi mistik Jawa kuno, yang hingga kini masih kerap dibicarakan dalam kisah-kisah lisan masyarakat.
Konon, ajian ini dikenal memiliki tingkatan hierarki yang tinggi dalam dunia keilmuan kebatinan Jawa dan sering disejajarkan dengan ajian Rawa Rontek.
Dalam berbagai cerita turun-temurun, Pancasona diyakini memiliki daya magis luar biasa yang membuat penganutnya memiliki ketahanan jasad yang tidak lazim, bahkan disebut sulit meninggal dunia secara alami.
Keyakinan tersebut berkembang seiring dengan kisah para tokoh yang dipercaya menguasai ajian ini dan hidup hingga usia yang jauh melampaui batas kewajaran manusia.
Asal-usul Ajian Pancasona
Secara etimologis, istilah Pancasona berasal dari bahasa Sanskerta. Kata panca berarti lima, sementara sona dimaknai sebagai tempat atau lapisan.
Jika ditafsirkan lebih dalam, Pancasona dipahami sebagai penyatuan lima elemen alam utama, yakni bumi, gunung, langit, samudra, dan surga.
Kelima unsur tersebut dipercaya menjadi sumber kekuatan spiritual yang saling terhubung, membentuk keseimbangan antara jasad, jiwa, dan alam semesta.
Dalam konteks kepercayaan Jawa, ajian Pancasona bukan sekadar ilmu kanuragan, melainkan laku spiritual tingkat tinggi yang menuntut tirakat, pengendalian diri, serta keselarasan dengan hukum alam dan kehendak Tuhan.
Karena itulah, ajian ini tidak sembarangan diwariskan dan hanya dipercaya dimiliki oleh segelintir orang yang telah menempuh perjalanan batin panjang.
Mbah Harjo dalam Sejarah Lisan Blitar
Di Blitar, Jawa Timur, selain Eyang Djojodigdo yang dikenal dengan makam gantungnya, masyarakat juga mengenal sosok lain yang diyakini menguasai keilmuan Pancasona, yakni Mbah Harjo.
Cerita tentang Mbah Harjo hidup dan diwariskan lintas generasi. Sosok ini bukan sekadar figur legenda, melainkan bagian dari sejarah lisan yang masih dijaga melalui tradisi, situs budaya, serta kesaksian keluarga dan masyarakat setempat.
Nama Mbah Harjo kerap disebut sebagai sesepuh yang memiliki peran penting dalam pelestarian nilai budaya Jawa, sekaligus dipercaya menguasai ilmu kanuragan tingkat tinggi seperti Pancasona dan Rawa Rontek.
Klaim Usia Panjang dan Hubungan dengan Perang Diponegoro
Menurut penuturan Kang Suroso, putra almarhum Mbah Harjo, sang ayah diyakini lahir sekitar tahun 1820 di wilayah Mataram.
Perhitungan usia tersebut menempatkan Mbah Harjo sebagai saksi hidup berbagai fase penting sejarah Jawa, termasuk masa sebelum dan sesudah Perang Diponegoro (1825–1830).
“Kalau menurut cerita keluarga, Mbah Harjo lahir sekitar tahun 1820. Itu yang selalu disampaikan para sepuh kepada kami, sehingga beliau sering disebut sebagai saksi hidup masa sebelum dan sesudah Perang Diponegoro,” ujar Kang Suroso.
Ia menambahkan bahwa kisah tentang Mbah Harjo juga berkaitan dengan jaringan penggawa dan demang pendukung Pangeran Diponegoro. Setelah perang berakhir, sebagian tokoh memilih mengamankan diri ke wilayah Blitar dan sekitarnya, termasuk kawasan Gunung Gedang yang kemudian dikenal sebagai situs penting hingga kini.

Kang Suroso, putra almarhum Mbah Harjo, penutur sejarah lisan keluarga.
Tirakat dan Laku Spiritual
Dalam tradisi Jawa, ilmu Pancasona dan Rawa Rontek tidak dipahami semata sebagai kesaktian fisik, melainkan sebagai hasil dari laku spiritual panjang yang dijalani dengan penuh disiplin dan pengendalian diri.


Add your first comment to this post