Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Beranda » Berita Budaya » Sakralnya Bulan Suro: Dari Larung Sesaji Hingga Penjamasan Benda Pusaka

Sakralnya Bulan Suro: Dari Larung Sesaji Hingga Penjamasan Benda Pusaka

NusaSpirit.com – Bulan Suro, atau sering disebut Suroan, dipandang sebagai momen yang identik dengan hal-hal mistis dan supranatural. Sebagian masyarakat, khususnya suku Jawa, menyambut peristiwa ini dengan menggelar berbagai ritual khusus, seperti penjamasan benda pusaka, larung sesaji, sedekah bumi, hingga bersih desa.

Berbagai ritual adat tersebut dilakukan sebagai upaya menciptakan keselarasan hubungan antara manusia, alam, dan leluhur. Selain itu, ritual ini menjadi bentuk doa agar masyarakat terhindar dari segala bentuk sengkolo (kesialan) maupun pagebluk (wabah) yang melanda suatu wilayah.

Puncak kesakralan bulan Suro umumnya dirasakan saat memasuki malam satu Suro, yang bertepatan dengan 1 Muharram dalam penanggalan Hijriah. Pada waktu tersebut, momen ini dianggap sakral karena batas antara dunia nyata dan dunia spiritual diyakini saling bergesekan, sehingga suasana malam terasa lebih hening dan sunyi dibandingkan hari-hari biasa.

Karena itu, tak sedikit warga memilih mengurangi aktivitas di luar rumah. Mereka memperbanyak doa serta melakukan laku tirakat guna menyongsong tahun baru dengan hati yang bersih. Tradisi tersebut masih dijalankan hingga kini, terutama oleh mereka yang berupaya nguri-uri warisan leluhur kejawen. Dalam pelaksanaannya, ritual ini kerap berpadu dengan praktik keagamaan Islam, seperti tahlilan dan doa bersama keluarga.

Jejak Sejarah Malam Satu Suro

Malam satu Suro mempunyai akar sejarah yang panjang. Penetapan bulan Suro tidak terlepas dari perpaduan kalender Saka dan kalender Hijriah yang diperkenalkan oleh Sultan Agung, penguasa Kerajaan Mataram Islam, pada abad ke-17. Sejak saat itu, bulan Suro diposisikan sebagai waktu dengan nilai spiritual dan mistisisme yang tinggi.

Dalam pandangan kalangan Keraton Yogyakarta dan budayawan, bulan Suro bukanlah waktu yang tepat untuk hura-hura atau pesta pora. Sebaliknya, bulan ini dimaknai sebagai periode untuk menahan diri, melakukan laku prihatin, introspeksi, serta membersihkan batin dari pengaruh negatif.

Ritual malam satu Suro biasanya diawali dengan persiapan beragam sesaji yang sarat akan makna filosofis kehidupan. Nasi tumpeng yang mengerucut ke atas menjadi simbol kedekatan manusia dengan Sang Pencipta. Ayam kampung yang dimasak utuh (ingkung) menjadi simbol harapan agar keluarga senantiasa rukun dan damai.

Air putih menjadi lambang kesucian dan kejernihan hati, sementara bunga-bungaan serta wewangian dipercaya membantu menciptakan suasana yang lebih sakral. Kemenyan yang dibakar hingga asapnya membumbung perlahan dimaknai sebagai pengantar doa sekaligus unsur pembersihan energi negatif.

Rangkaian ritual kemudian dilanjutkan dengan doa bersama, zikir, serta tirakat seperti puasa atau lek-lekan (tidak tidur semalaman). Semua dijalankan dalam suasana hening dan penuh khidmat sebagai bentuk ikhtiar kepada Tuhan.

Di sejumlah daerah, momentum ini juga kerap diiringi dengan kesenian tradisional seperti wayang kulit, ketoprak, atau tarian-tarian khas Jawa tempo dulu. Masyarakat percaya bahwa mengisi malam suroan dengan berbagai kegiatan positif akan membawa kebaikan serta keberkahan bagi kehidupan di masa depan.

Mitos dan Larangan yang Masih Dipatuhi

Di balik ritual tersebut, berkembang pula berbagai mitos dan larangan yang hingga kini masih dipercayai oleh sebagian masyarakat. Salah satunya adalah larangan keluar rumah pada malam satu Suro, terutama bagi mereka yang memiliki weton tertentu. Konon, pada malam satu Suro energi negatif diyakini sangat kuat, sehingga masyarakat lebih memilih berada di dalam rumah untuk menghindari gangguan makhluk halus.

Selain itu, menggelar hajatan besar seperti pernikahan atau khitanan pada bulan Suro juga dianggap dapat mengundang marabahaya dan kesialan bagi keluarga yang bersangkutan. Oleh karena itu, banyak orang memilih menunda acara-acara penting tersebut hingga bulan berikutnya agar terhindar dari nasib buruk.

Larung Sesaji Sebagai Wujud Syukur Atas Limpahan Rezeki

Pada hari-hari berikutnya, rangkaian tradisi Suroan dilanjutkan dengan berbagai prosesi adat di sejumlah daerah. Khususnya di kawasan pesisir Pantai Selatan, seperti yang dilakukan oleh masyarakat pantai Tambakrejo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan turut menggelar ritual larung sesaji ke laut.

Melansir catatan resmi Disbudpar Kabupaten Blitar, upacara adat ini memiliki latar belakang sejarah yang kuat. Tradisi di Pantai Tambakrejo tersebut berawal dari laku ritual yang dipelopori oleh Wira Atmajaya (Atmo Wijoyo), seorang prajurit Mataram sekaligus anak buah Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke pesisir selatan dan membuka wilayah tersebut menjadi pemukiman.

Sesaji yang dilarung biasanya berupa kepala sapi atau kerbau, dilengkapi ubo rampe seperti nasi tumpeng, jajanan pasar, hasil palawija, serta ingkung ayam. Prosesi diawali dengan kirab tumpeng yang diarak menggunakan tandu dan melibatkan para nelayan, tokoh adat, hingga pemuka agama.

Setelah didoakan oleh sesepuh desa, sesaji utama yang berupa kepala hewan dan hasil bumi lainnya kemudian dilarung ke tengah laut menggunakan perahu nelayan.

Larung sesaji ke laut sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat pesisir.

Larung sesaji ke laut sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat pesisir.

Bagi para nelayan, ritual ini dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil laut, sekaligus sebagai sedekah bumi untuk menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dan alam.

Penjamasan Benda Pusaka Dalam Menjaga Tradisi Nenek Moyang

Selain larung sesaji, ritual lain yang masih sering dijalankan pada suroan adalah penjamasan benda pusaka. Pada umumnya, benda pusaka seperti tosan aji, termasuk keris, menjalani perawatan fisik sekaligus penyucian untuk menjaga pamor dan menghilangkan korosi.

Proses pembersihan dilakukan dengan tata cara adat yang ketat. Berbagai perlengkapan disiapkan, seperti kembang telon, dupa, air, dan jeruk nipis. Tata laku diawali dengan pembakaran dupa dan pembacaan doa, sebelum bilah keris dikeluarkan dari warangkanya untuk dimandikan.

Keris kemudian direndam dalam air yang telah diberi taburan bunga, dibersihkan dari karat menggunakan jeruk nipis, lalu dijemur sebelum kembali dimasukkan ke dalam wadah keris.

Penjamasan benda pusaka sebagai bagian dari tradisi Suroan.

Penjamasan benda pusaka sebagai bagian dari tradisi Suroan.

Penjamasan bertujuan merawat pusaka secara lahir dan batin. Secara fisik, keris dijaga agar pamornya tetap terawat. Secara spiritual, prosesi ini diyakini dapat memperkuat tuah yoni atau daya magis yang terkandung di dalamnya. Seluruh rangkaian penjamasan dilakukan dengan penuh kekhusyukan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, sekaligus upaya menjaga keberkahan serta kekuatan benda pusaka tersebut.

Ritual penjamasan, larung sesaji, sedekah bumi, dan ritual lainnya pada bulan Suro menjadi bukti bahwa warisan budaya leluhur masih dijaga dengan baik hingga kini. Meski tidak semua daerah melaksanakannya, tradisi ini tetap dipertahankan sebagai simbol melestarikan ajaran nenek moyang yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Add your first comment to this post

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi

    7 Ciri Mata Batin Terbuka Sempurna, Benarkah Bisa Dirasakan? Ini Penjelasannya

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Pernah nggak sih kamu merasa ada sesuatu yang berbeda dalam dirimu? Entah itu perasaan jadi lebih tenang, lebih peka terhadap sekitar, atau bahkan seperti “menangkap” hal-hal yang sebelumnya nggak pernah kamu sadari. Banyak orang mengaitkan pengalaman seperti ini dengan apa yang disebut sebagai terbukanya mata batin. Istilah ini memang sudah lama dikenal, terutama […]

  • Gerbang masuk Makam Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung dari kejauhan

    Misteri Makam Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung di Sidoarjo dengan Keajaiban dan Doa yang Terkabulkan

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di Desa Terung Wetan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, terdapat sebuah makam keramat yang dikenal luas sebagai Makam Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung. Tempat ini menjadi lokasi ziarah sekaligus menyimpan sejarah, misteri, dan keajaiban yang memikat banyak orang. Nama Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung sering terdengar di masyarakat setempat, tetapi kisah di […]

  • pasangan romantis sebagai ilustrasi tanda jodoh menurut primbon Jawa

    7 Tanda Segera Menemukan Jodoh Menurut Ilmu Titen dan Primbon Jawa

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • 0Komentar

    Nusaspirit.com – Menikahi seseorang yang dicintai merupakan impian banyak orang. Namun, bagi mereka yang masih sendiri, menantikan kehadiran sosok yang kelak dianggap sebagai jodoh bukanlah hal yang mudah dan sering kali sulit ditebak. Meski demikian, dalam tradisi Jawa dikenal salah satu warisan pengetahuan leluhur yang hingga kini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat, yaitu ilmu titen. […]

  • Pemandangan wisata desa Wonokerso

    Menengok Desa Wonokerso, Kampung Adat Tengger yang Menjaga Tradisi Karo di Lereng Bromo

    • calendar_month Sabtu, 30 Mei 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di lereng pegunungan kawasan Bromo yang sejuk dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, terdapat sebuah kampung adat yang masih menjaga tradisi leluhur hingga kini. Desa Wonokerso, Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menjadi salah satu permukiman masyarakat Tengger yang tetap mempertahankan budaya, bahasa, serta tradisi turun-temurun di tengah perkembangan zaman. Berada pada ketinggian diatas […]

  • Ilustrasi lokasi Prapat Kurung Surabaya dengan pohon bidara dan teralis besi.

    Misteri Prapat Kurung Surabaya dan Sejarah Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Tak jauh dari jantung Kota Surabaya, terdapat sebuah lokasi yang sejak lama diyakini keramat oleh warga setempat, tidak hanya oleh masyarakat umum, tetapi terutama oleh komunitas Muslim keturunan Tionghoa. Tempat itu bernama Prapat Kurung, terletak di sebuah taman kota di kawasan Prapat Tegal, Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya. Lokasi ini tidak […]

  • Suasana Kamojang Hill Bridge yang dikenal warga sebagai Jembatan Kuning, jalur pegunungan yang menyimpan cerita mistis dan kecelakaan berulang.

    Jembatan Kuning Kamojang, Panorama Eksotis dengan Cerita Mistis yang Terus Melegenda

    • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di jalur pegunungan Kamojang yang menghubungkan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, Jawa Barat, berdiri sebuah jembatan yang dikenal luas dengan nama Jembatan Kuning. Selain menawarkan panorama alam yang memukau, lokasi ini juga menyimpan berbagai cerita mistis yang hingga kini terus menjadi perbincangan masyarakat. Jembatan yang berada di jalur Lingkar Kamojang ini kerap dilalui […]

expand_less