Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Beranda » Jejak Spiritual » Saksi Bisu Pemberontakan PETA, Mengapa Eks SMPN 3 Blitar Kini Dikenal Angker?

Saksi Bisu Pemberontakan PETA, Mengapa Eks SMPN 3 Blitar Kini Dikenal Angker?

NusaSpirit.com – Bagi warga lokal, kompleks eks SMP Negeri 3 Blitar bukan sekadar deretan gedung kosong.

Di balik dinding-dinding tebal peninggalan kolonial Belanda tersebut, ada potongan sejarah yang perlahan mulai terselimuti senyap dan cerita-cerita bernuansa horor.

Kompleks sekolah ini diyakini menjadi salah satu saksi bisu tempat pelatihan tentara Pembela Tanah Air (PETA).

Pasukan bentukan Jepang yang akhirnya melakukan pemberontakan pada Februari 1945, di bawah komando Sudanco Supriyadi.

Namun, pemandangan riuh aktivitas belajar-mengajar di sini sudah tidak ada lagi. Sejak dikosongkan secara bertahap sekitar tahun 2019 lalu, lorong-lorong panjangnya berubah sepi.

Beberapa sudut ruangan tampak gelap gulita saat matahari mulai terbenam. Kondisi inilah yang kemudian memicu suburnya kisah-kisah mistis dari mulut ke mulut.

Suara Langkah Sepatu Lars di Tengah Malam

Suasana mencekam di area ini bukan hal baru bagi Apik, salah satu penjaga yang sehari-hari merawat kompleks bangunan tersebut. Saat ditemui di lokasi, ia bercerita bahwa suasana lingkungan di sini berubah total begitu memasuki waktu magrib.

“Kalau sudah malam, suasananya memang beda mas, senyap sekali. Kadang-kadang seperti ada suara rombongan orang baris, bunyi langkah kaki serentak ‘breg… breg… breg’ gitu. Saya sendiri sudah sering dengar pas giliran jaga malam,” tutur Apik.

Cerita mistis ternyata tidak cuma dialami oleh petugas jaga.

Apik menceritakan kejadian aneh juga sempat dialami oleh salah seorang pengunjung asal luar kota beberapa waktu lalu.

“Dulu pernah ada tamu dari Jawa Barat. Waktu itu dia ke kamar mandi, tiba-tiba keluar sambil lari ketakutan, mukanya pucat. Katanya, pas saya lagi nyapu di luar, dia melihat ada bayangan sosok tegap berpakaian tentara Jepang tanpa kepala berdiri persis di dekat saya. Ya, namanya tempat lama kosong, yang begitu memang ada saja,” tambahnya sambil menunjuk ke arah koridor kelas.

Arsitektur Eropa dan Ruang Pertemuan Rahasia

Jika melepas sejenak kesan horornya, kompleks eks SMPN 3 Blitar ini sebenarnya memiliki nilai arsitektur yang sangat memikat.

Dibangun di era kolonial sekitar tahun 1910 hingga 1911, ciri khas bangunan Eropa lawas masih berdiri kokoh.

Pilar-pilar beton yang besar, jendela kayu jati berukuran tinggi, hingga cerobong asap tua menjadi penanda kuatnya bangunan zaman dulu.

Sebelum dikosongkan karena statusnya ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, lahan luas ini dulunya menampung beberapa sekolah sekaligus, mulai dari SMPN 3, SMPN 5, SMPN 6, hingga SMPN 7.

Pemerintah daerah sengaja merelokasi aktivitas sekolah agar kompleks ini bisa difokuskan sebagai situs wisata sejarah.

Sayangnya, proyek revitalisasi kawasan ini tampaknya belum rampung sepenuhnya. Di beberapa titik, ilalang masih tumbuh tinggi dan penerangan lampu belum merata.

Di salah satu sudut bagian dalam, terdapat sebuah ruangan tua yang paling sering dicari oleh para pencinta sejarah.

Konon, di ruangan tersembunyi itulah Sudanco Supriyadi bersama para petinggi PETA lainnya sering menggelar rapat rahasia untuk menyusun strategi perlawanan terhadap tentara Jepang.

Bahkan hingga kini, di dalam ruangan yang berisi meja dan kursi kayu kuno tersebut, masih sering dijumpai sesaji, dupa, kopi hitam, hingga bendera Merah Putih yang sengaja ditinggalkan oleh pengunjung sebagai bentuk penghormatan spiritual bagi para pahlawan.

Keterikatan Blitar dengan korps PETA memang tidak bisa dipisahkan. Di area sekolah ini pula, sejarah mencatat bahwa bangunan tersebut sempat beralih fungsi menjadi pusat pendidikan militer darurat hingga rumah sakit tentara yang dipimpin oleh dr. Ismail, tokoh yang juga terhubung erat dengan gerakan bawah tanah PETA.

Meski cerita mistis tentang suara perempuan menangis di dekat pohon besar atau bayangan misterius sering kali terdengar di masyarakat, banyak pihak berharap esensi asli tempat ini tidak pudar.

 

Add your first comment to this post

Rekomendasi Untuk Anda

  • Makam Tumenggung Aryo Tedjo Bupati Tuban VII

    Jejak Makam Tumenggung Aryo Tedjo di Parengan, Bupati Tuban yang Disebut Leluhur Sunan Kalijaga

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di tengah kawasan perbukitan dan pedesaan yang tenang di Desa Dagangan, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, terdapat sebuah kompleks makam tua yang menyimpan kisah penting dalam sejarah Islam Jawa. Makam tersebut diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Tumenggung Aryo Tedjo, sosok yang dikenal sebagai Bupati Tuban ke-7 sekaligus leluhur Sunan Kalijaga, salah satu […]

  • Ilustrasi Kalender Jawa

    Tanggal Baik Pernikahan Februari 2026 Menurut Primbon Jawa (Lengkap)

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Penentuan tanggal pernikahan menggunakan kalender Jawa masih dianggap sebagai tradisi nenek moyang yang dilestarikan oleh sebagian masyarakat, khususnya dalam adat Jawa. Tradisi ini dijalankan sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur, sekaligus ikhtiar agar pasangan pengantin dapat meniti kehidupan rumah tangga yang harmonis dan berkelanjutan. Berdasarkan perhitungan dalam Primbon Jawa, terdapat sejumlah tanggal dan […]

  • Ilustrasi foto perempuan tidur saat senja

    Mengapa Orang Tua Jawa Melarang Tidur Saat Magrib? Inilah Alasannya Menurut Petuah Leluhur

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Tidur di siang hari pada dasarnya berfungsi untuk mengembalikan kondisi tubuh yang lelah setelah menjalani aktivitas padat. Secara medis, istirahat singkat justru dapat membantu menjaga konsentrasi dan stamina. Namun, berbeda halnya dengan tidur pada waktu menjelang malam, khususnya saat magrib. Bagi sebagian masyarakat yang masih memegang erat tradisi dan nilai budaya, terutama yang […]

  • Ilustrasi tradisi Lawadan di Tulungagung: warga mengarak sesaji dan hasil bumi dalam upacara adat

    Ritual Lawadan Tulungagung: Jejak Sejarah, Mitos Buaya Putih, dan Tradisi Bersih Desa yang Terus Dilestarikan

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Tidak banyak daerah di Jawa Timur yang memiliki tradisi bersih desa dengan latar sejarah, mitos, dan ritual sekompleks Desa Wates, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Dalam penuturan masyarakat setempat, Desa Wates dikenal memiliki sebuah upacara adat yang dahulu digelar pada awal Bulan Suro dan disebut sebagai Ritual Lawadan. Bagi warga lokal, ritual ini bukan […]

  • Penampakan suasana lawas De Karanganjar dan lukisan foto Presiden Ir. Soekarno.

    De Karanganjar Blitar: Perpaduan Wisata Sejarah Kolonial, Jejak Bung Karno, dan Misteri Lukisan Hidup

    • calendar_month Sabtu, 23 Mei 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di ujung utara pusat Kota Blitar, tepatnya di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, terdapat sebuah destinasi wisata sejarah bernuansa kolonial Belanda yang masih mempertahankan pesona masa lampau. Objek wisata bernama De Karanganjar ini berdiri di tengah hamparan perkebunan kopi seluas 220 hektare. Kawasan tersebut merupakan peninggalan perusahaan Belanda yang telah dikelola sejak […]

  • Wanita memakai mahkota sebagai simbol kenaikan derajat hidup menurut primbon Jawa

    7 Tanda Seseorang Akan Dinaikkan Derajatnya Menurut Primbon Jawa, Kenali Sejak Awal

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang berkecukupan, baik dalam hal materi maupun kebahagiaan batin. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan proses panjang yang tidak selalu mudah. Ada fase-fase sulit yang harus dilalui, bisa berupa cobaan yang datang silih berganti, bahkan kegagalan yang terkadang membuat seseorang ingin menyerah. Dalam […]

expand_less