Saksi Bisu Pemberontakan PETA, Mengapa Eks SMPN 3 Blitar Kini Dikenal Angker?
- Jejak Spiritual
- calendar_month Rabu, 20 Mei 2026

NusaSpirit.com – Bagi warga lokal, kompleks eks SMP Negeri 3 Blitar bukan sekadar deretan gedung kosong.
Di balik dinding-dinding tebal peninggalan kolonial Belanda tersebut, ada potongan sejarah yang perlahan mulai terselimuti senyap dan cerita-cerita bernuansa horor.
Kompleks sekolah ini diyakini menjadi salah satu saksi bisu tempat pelatihan tentara Pembela Tanah Air (PETA).
Pasukan bentukan Jepang yang akhirnya melakukan pemberontakan pada Februari 1945, di bawah komando Sudanco Supriyadi.
Namun, pemandangan riuh aktivitas belajar-mengajar di sini sudah tidak ada lagi. Sejak dikosongkan secara bertahap sekitar tahun 2019 lalu, lorong-lorong panjangnya berubah sepi.
Beberapa sudut ruangan tampak gelap gulita saat matahari mulai terbenam. Kondisi inilah yang kemudian memicu suburnya kisah-kisah mistis dari mulut ke mulut.
Suara Langkah Sepatu Lars di Tengah Malam
Suasana mencekam di area ini bukan hal baru bagi Apik, salah satu penjaga yang sehari-hari merawat kompleks bangunan tersebut. Saat ditemui di lokasi, ia bercerita bahwa suasana lingkungan di sini berubah total begitu memasuki waktu magrib.
“Kalau sudah malam, suasananya memang beda mas, senyap sekali. Kadang-kadang seperti ada suara rombongan orang baris, bunyi langkah kaki serentak ‘breg… breg… breg’ gitu. Saya sendiri sudah sering dengar pas giliran jaga malam,” tutur Apik.
Cerita mistis ternyata tidak cuma dialami oleh petugas jaga.
Apik menceritakan kejadian aneh juga sempat dialami oleh salah seorang pengunjung asal luar kota beberapa waktu lalu.
“Dulu pernah ada tamu dari Jawa Barat. Waktu itu dia ke kamar mandi, tiba-tiba keluar sambil lari ketakutan, mukanya pucat. Katanya, pas saya lagi nyapu di luar, dia melihat ada bayangan sosok tegap berpakaian tentara Jepang tanpa kepala berdiri persis di dekat saya. Ya, namanya tempat lama kosong, yang begitu memang ada saja,” tambahnya sambil menunjuk ke arah koridor kelas.
Arsitektur Eropa dan Ruang Pertemuan Rahasia
Jika melepas sejenak kesan horornya, kompleks eks SMPN 3 Blitar ini sebenarnya memiliki nilai arsitektur yang sangat memikat.
Dibangun di era kolonial sekitar tahun 1910 hingga 1911, ciri khas bangunan Eropa lawas masih berdiri kokoh.
Pilar-pilar beton yang besar, jendela kayu jati berukuran tinggi, hingga cerobong asap tua menjadi penanda kuatnya bangunan zaman dulu.
Sebelum dikosongkan karena statusnya ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya, lahan luas ini dulunya menampung beberapa sekolah sekaligus, mulai dari SMPN 3, SMPN 5, SMPN 6, hingga SMPN 7.
Pemerintah daerah sengaja merelokasi aktivitas sekolah agar kompleks ini bisa difokuskan sebagai situs wisata sejarah.
Sayangnya, proyek revitalisasi kawasan ini tampaknya belum rampung sepenuhnya. Di beberapa titik, ilalang masih tumbuh tinggi dan penerangan lampu belum merata.
Di salah satu sudut bagian dalam, terdapat sebuah ruangan tua yang paling sering dicari oleh para pencinta sejarah.
Konon, di ruangan tersembunyi itulah Sudanco Supriyadi bersama para petinggi PETA lainnya sering menggelar rapat rahasia untuk menyusun strategi perlawanan terhadap tentara Jepang.
Bahkan hingga kini, di dalam ruangan yang berisi meja dan kursi kayu kuno tersebut, masih sering dijumpai sesaji, dupa, kopi hitam, hingga bendera Merah Putih yang sengaja ditinggalkan oleh pengunjung sebagai bentuk penghormatan spiritual bagi para pahlawan.
Keterikatan Blitar dengan korps PETA memang tidak bisa dipisahkan. Di area sekolah ini pula, sejarah mencatat bahwa bangunan tersebut sempat beralih fungsi menjadi pusat pendidikan militer darurat hingga rumah sakit tentara yang dipimpin oleh dr. Ismail, tokoh yang juga terhubung erat dengan gerakan bawah tanah PETA.
Meski cerita mistis tentang suara perempuan menangis di dekat pohon besar atau bayangan misterius sering kali terdengar di masyarakat, banyak pihak berharap esensi asli tempat ini tidak pudar.
- Penulis: Arief Nugroho

Add your first comment to this post