Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Beranda » Jejak Spiritual » Petilasan Syekh Siti Jenar di Banyuwangi, Situs Sakral di Bawah Beringin Tua yang Menyimpan Jejak Sejarah Blambangan

Petilasan Syekh Siti Jenar di Banyuwangi, Situs Sakral di Bawah Beringin Tua yang Menyimpan Jejak Sejarah Blambangan

NusaSpirit.com – Di sebuah desa bernama Lemahbangkulon di Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, terdapat sebuah situs yang  bernama Lestono dan diyakini sebagai petilasan Syekh Siti Jenar.

Lokasi yang berada di bawah pohon beringin purba berusia ratusan tahun itu menjadi tujuan peziarah dari berbagai daerah, hingga luar pulau di Indonesia.

Selain terkait dengan tokoh kontroversial dalam sejarah Islam Jawa, kawasan ini juga dipercaya sebagai tempat pemakaman para bangsawan Kerajaan Blambangan, termasuk sosok yang dikenal sebagai Mas Purbo atau Pangeran Danurejo.

Para peziarah yang ingin mengunjungi kawasan itu dapat melakukan perjalanan dengan menempuh jarak sekitar 18 km dari pusat kota.

Terlihat suasana di area petilasan terasa teduh dan hening. Akar-akar beringin menjuntai ke segala arah, membentuk ruang alami yang menambah kesan mistis dan sakral serta tak jauh dari lokasi juga terdapat makam umum.

Doc. Foto

Doc. Foto

Di sekelilingnya terdapat makam kuno, pelinggihan, musala, sumur tua, dan beberapa fasilitas sederhana bagi para pengunjung.

Meski berada di tengah permukiman warga, situs ini tetap mempertahankan aura spiritual yang melekat kuat karena arsitektur khas bangunannya mencerminkan warisan budaya pada masa lampau.

Sang juru kunci situs, Anton, menjelaskan bahwa petilasan tersebut telah dikenal secara turun-temurun oleh keluarganya. Menurutnya, wilayah Lemahbang mempunyai keterkaitan erat dengan perjalanan Syekh Siti Jenar di Pulau Jawa.

“Yang kami terima dari cerita leluhur, Syekh Siti Jenar pernah singgah dan bertapa di kawasan ini. Dari situlah muncul nama Lemahbang, yang berasal dari kata ‘lemah abang’ atau tanah merah,” kata Anton.

Nama desa tersebut diyakini memiliki hubungan simbolis dengan nama Syekh Siti Jenar.

Dalam bahasa Jawa halus (krama inggil), “siti” berarti tanah, sedangkan “jenar” bermakna merah kekuningan.

Penafsiran itulah yang membuat masyarakat setempat meyakini bahwa Lemahbang bukan hanya nama desa biasa, tetapi dulunya memiliki sejarah yang berhubungan langsung dengan jejak napak tilas dari Syekh Siti Jenar.

Jejak Syekh Siti Jenar dan Filosofi Lemah Abang

Syekh Siti Jenar dikenal luas sebagai tokoh sufisme dan spiritual dalam sejarah Islam pada masa era Kesultanan Demak, atau paruh kedua abad ke-15 hingga awal abad ke-16.

Ia sering dikaitkan dengan aliran yang sedikit berbeda dari ajaran yang dibawa oleh para Wali Songo pada kala itu, sehingga akhirnya menimbulkan beragam perdebatan dari berbagai pihak.

Konsepnya mengusung tentang pemahaman “manunggaling kawula Gusti”, yakni gagasan penyatuan antara manusia dengan Tuhan.

Dari sinilah akhirnya muncul berbagai polemik hingga pertentangan dari sembilan wali lainnya.

Hingga akhirnya, pemikiran inilah yang membuat figur Syekh Siti Jenar menjadi kontroversial di mata masyarakat, tetapi tetap dihormati di banyak daerah, khususnya di Jawa.

Menurut Anton, kawasan petilasan di Lemahbang dianggap sebagai satu kesatuan yang meliputi seluruh area di bawah pohon beringin.

Tidak ada satu titik tunggal yang diyakini sebagai tempat keberadaan Syekh Siti Jenar, melainkan keseluruhan lokasi dipercaya sebagai ruang pertapaan dan tempat beliau beristirahat.

“Kalau petilasannya itu satu kawasan. Beliau diyakini sering bertapa dan berteduh di bawah pohon beringin besar ini,” ujar Anton.

Beringin tua yang menjadi pusat situs diperkirakan telah berusia ratusan tahun. Ukurannya sangat besar, dengan batang kokoh dan akar gantung yang menciptakan pemandangan dramatis.

Bagi sebagian penduduk Jawa, pohon beringin sering dianggap sebagai simbol perlindungan, kebijaksanaan, dan hubungan antara dunia manusia dengan alam spiritual.

Keberadaan pohon tersebut semakin memperkuat keyakinan masyarakat bahwa tempat itu memiliki energi khusus yang istimewa. Banyak pengunjung datang untuk berdoa, bermeditasi, atau hanya mencari ketenangan batin.

Salah satu pengunjung asal Kediri yang datang bersama rombongannya menjelaskan bahwa ia datang ke sini untuk sekadar mencari tahu jejak sejarah Syekh Siti Jenar.

“Tempat ini terasa sangat tenang dan memiliki nilai sejarah yang kuat. Saya datang ke sini karena ingin mengetahui lebih jauh tentang jejak Syekh Siti Jenar,” ungkapnya.

Makam Raja-Raja Blambangan di Kompleks Petilasan

Di kompleks tersebut, selain petilasan Syekh Siti Jenar, juga terdapat beberapa makam kuno yang diyakini sebagai tempat peristirahatan tokoh-tokoh penting dari masa Kerajaan Blambangan.

Salah satu yang paling dikenal adalah makam Mas Purbo, yang setelah dinobatkan menjadi raja mendapat gelar Pangeran Danurejo.

Anton menuturkan bahwa Mas Purbo merupakan keturunan bangsawan yang pernah memimpin wilayah Wijenan (kini masuk wilayah Kecamatan Singojuruh), salah satu pusat kekuasaan penting di era Blambangan.

“Yang di sebelah sini diyakini makam Mas Purbo, atau Pangeran Danurejo. Beliau adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Blambangan,” ujarnya.

Makam Mas Purbo atau Pangeran Danurejo di kompleks petilasan Syekh Siti Jenar, Banyuwangi

Makam Mas Purbo atau Pangeran Danurejo di kompleks petilasan Syekh Siti Jenar, Banyuwangi

Blambangan sendiri merupakan Kerajaan Hindu terakhir di ujung timur Pulau Jawa setelah keruntuhan era Majapahit, yang berpusat di wilayah Banyuwangi, Jawa Timur.

Menurut penuturan yang diwariskan secara turun-temurun, Mas Purbo sempat diasuh oleh seorang perempuan yang dikenal sebagai Mbok Cina sebelum akhirnya kembali ke lingkungan keraton dan diangkat sebagai pemimpin. Setelah memerintah, ia disebut membawa kemakmuran bagi wilayah Wijenan dan sekitarnya.

Anton menyebut bahwa Pangeran Danurejo wafat pada tahun 1736. Di dalam cungkup yang sama terdapat beberapa makam lain yang hingga kini belum sepenuhnya teridentifikasi. Warga meyakini makam-makam tersebut merupakan bagian dari keluarga besar kerajaan.

Dikelola Turun-Temurun Sejak Masa Silam

Anton mengatakan keluarganya telah menjaga situs ini selama beberapa generasi. Berdasarkan kisah leluhur, nenek moyangnya mulai merawat kawasan tersebut sejak ratusan tahun silam.

“Sejak zaman nenek moyang kami, tempat ini sudah dirawat. Kakek dan nenek saya rutin datang untuk membersihkan dan berdoa di sini,” katanya.

Tradisi itu terus berlanjut hingga sekarang. Selain menjaga kebersihan dan fasilitas, keluarga juru kunci juga mendampingi para peziarah yang ingin mengetahui sejarah situs maupun melakukan doa sesuai keyakinan masing-masing.

Di dalam area petilasan terdapat tata tertib yang mengingatkan pengunjung agar menjaga kesopanan dan kebersihan. Pengelola juga menyediakan musala, kamar mandi, dan sumur tua yang masih digunakan hingga kini.

Didatangi Peziarah dari Berbagai Daerah

Menurut Anton, peziarah yang mengunjungi petilasan Syekh Siti Jenar tidak hanya berasal dari Banyuwangi, tetapi juga dari Jawa Tengah, Bali, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatera hingga Kalimantan.

Sebagian dari mereka bahkan ikut bergotong royong memperbaiki fasilitas situs. Ada yang menyumbang tenaga, material, hingga dana sebagai bentuk penghormatan terhadap tokoh yang diyakini memiliki pengaruh besar dalam sejarah spiritual Nusantara.

“Banyak yang datang dari luar daerah. Ada yang merasa memiliki kedekatan batin, lalu membantu membangun tempat ini,” tutur Anton.

Motivasi pengunjung pun beragam. Ada yang ingin berziarah, mempelajari sejarah, mencari ketenangan, hingga melakukan laku spiritual. Meski begitu, kawasan ini tetap terbuka bagi siapa saja yang datang dengan niat baik dan menjaga etika.

Nama Syekh Siti Jenar selama ini identik dengan ajaran tasawuf dan filsafat Jawa yang menekankan penyatuan batin manusia dengan Sang Pencipta. Dalam tradisi masyarakat Jawa, tokoh ini dipandang sebagai simbol pencarian makna hidup yang mendalam.

 

Add your first comment to this post

Rekomendasi Untuk Anda

  • Prosesi adat dalam rangkaian tradisi Bulan Suro.

    Sakralnya Bulan Suro: Dari Larung Sesaji Hingga Penjamasan Benda Pusaka

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Bulan Suro, atau sering disebut Suroan, dipandang sebagai momen yang identik dengan hal-hal mistis dan supranatural. Sebagian masyarakat, khususnya suku Jawa, menyambut peristiwa ini dengan menggelar berbagai ritual khusus, seperti penjamasan benda pusaka, larung sesaji, sedekah bumi, hingga bersih desa. Berbagai ritual adat tersebut dilakukan sebagai upaya menciptakan keselarasan hubungan antara manusia, alam, […]

  • Ilustrasi foto keris melambangkan pusaka gaib.

    Sering Alami Peristiwa Mistis dan Sulit Jodoh? Kenali 6 Tanda Pusaka Gaib Menyatu dalam Raga

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Konsep pusaka dalam pandangan budayawan Jawa tidak selalu merujuk pada objek fisik, seperti keris, tombak, atau mustika yang dapat dilihat dan disentuh. Di kalangan penganut Kejawen, khususnya mereka yang menekuni bidang spiritual, terdapat kepercayaan mengenai adanya pusaka gaib yang dapat melebur dengan raga seseorang tanpa tampak secara kasat mata. Banyak orang tidak menyadari […]

  • Ilustrasi batu punden Joko Selining

    Misteri Punden Joko Selining: Situs Keramat Tanpa Tumbal di Tengah Kebun Tebu Mojokerto

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, tepatnya di tengah hamparan perkebunan tebu terdapat sebuah situs yang dikeramatkan oleh warga setempat. Situs tersebut berupa sebuah batu yang dibalut kain poleng hitam-putih dan dikenal dengan nama Punden Joko Selining. Batu yang berada di bawah cungkup sederhana ini tidak hanya dianggap […]

  • Makam Syekh Jangkung (Saridin)

    Wisata Religi Makam Syekh Jangkung ‘Saridin’ di Pati, Intip Kisah Karomah dan Warisan Budayanya

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Nama Syekh Jangkung, atau lebih dikenal sebagai Saridin oleh masyarakat Pati, tentunya sudah sangat akrab di telinga mereka. Beliau tidak hanya dikenal sebagai salah satu tokoh penyebar agama Islam pada masanya, tetapi juga karena perjalanan spiritualnya yang dinilai nyeleneh dan penuh karomah. Kisah-kisah tersebut justru menginspirasi banyak orang, termasuk para cendekiawan Muslim hingga […]

  • Patung Bung Karno setinggi lima meter yang menjadi ikon baru kawasan Istana Gebang, Kota Blitar.

    Renovasi Istana Gebang Rampung, Megawati Resmikan Jejak Sejarah Bung Karno di Kota Blitar

    • calendar_month Senin, 15 Jun 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Renovasi Istana Gebang, tempat kediaman Presiden Soekarno yang berada di Jalan Sultan Agung, Sananwetan, Kota Blitar, Jawa Timur, kini telah rampung. Bangunan yang didirikan pada tahun 1884 pada masa kolonial Belanda tersebut diresmikan secara langsung oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, pada Senin (15/6/2026). Sebelumnya, proses restorasi bangunan telah berlangsung selama enam […]

  • Area pesarean Candi Mleri, peninggalan Kerajaan Singosari yang berada di kaki Gunung Pegat, Blitar.

    Misteri Candi Mleri Blitar, Situs Kuno Singosari yang Dikeramatkan Warga dan Cerita Macan Putih

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Berjarak sekitar 15 kilometer dari Alun-Alun Kota Blitar, terdapat sebuah situs peninggalan masa lampau yang dikaitkan dengan Kerajaan Singosari. Situs ini diyakini sebagai tempat yang dikeramatkan oleh warga di sekitar kompleks tersebut. Candi yang dikenal dengan nama Candi Mleri ini memang belum terlalu familiar di kalangan masyarakat luas. Namun, di balik ketenangannya, candi […]

expand_less