Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Beranda » Spiritual » Padepokan Eyang Djoego Blitar: Dari Jejak Perang Diponegoro hingga Ritual Ngalap Berkah

Padepokan Eyang Djoego Blitar: Dari Jejak Perang Diponegoro hingga Ritual Ngalap Berkah

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di balik nama besar Eyang Djoego, tersimpan kisah sejarah yang erat dengan Perang Diponegoro (1825–1830). Berdasarkan berbagai penuturan dan catatan sejarah, Eyang Djoego diyakini bernama asli Kiai Zakaria II, salah satu keturunan dari trah bangsawan Jawa yang masih memiliki garis hubungan dengan Pangeran Diponegoro dan keluarga kerajaan Mataram.

Ketika Pangeran Diponegoro tertangkap oleh Belanda pada 28 Maret 1830 di Magelang dan kemudian diasingkan hingga wafat di Makassar pada 8 Januari 1855, sisa pasukan Diponegoro tercerai-berai.

Sebagian menyerah, sebagian tetap melakukan perlawanan gerilya, dan sebagian memilih jalan eskapisme: menghindari konflik terbuka sambil membangun kekuatan spiritual dan sosial di tempat persembunyian.

Kiai Zakaria II termasuk dalam kelompok terakhir ini. Menyadari kekuatan Belanda yang jauh lebih unggul dalam persenjataan dan strategi perang, ia memilih menyingkir ke wilayah Blitar.

Untuk mengaburkan identitas dan menghindari kejaran kolonial, ia mengganti namanya menjadi Sajugo, yang secara harfiah bermakna “saya sendirian”.

Dalam pengembaraannya, ia bertemu dengan RM Iman Sujono, seorang tokoh spiritual yang juga memiliki pengaruh besar di masyarakat.

Keduanya dikenal sebagai pendakwah Islam sekaligus figur spiritual yang disegani. Kehadiran mereka perlahan membentuk pusat aktivitas spiritual yang kelak berkembang menjadi padepokan.

Keterkaitan dengan Gunung Kawi dan Tradisi Tionghoa

Hubungan spiritual antara Eyang Djoego dan RM Iman Sujono tidak berhenti di Blitar. Dalam perjalanan berikutnya, RM Iman Sujono menetap di kawasan Gunung Kawi, Malang, yang hingga kini dikenal sebagai pusat ritual ngalap berkah, khususnya di kalangan etnis Tionghoa.

Karena ikatan spiritual yang kuat, ketika RM Iman Sujono wafat, ia dimakamkan dalam satu liang lahat dengan Eyang Djoego. Di kalangan peziarah Tionghoa, Eyang Djoego dikenal sebagai Taw Low She (Guru Besar Pertama), sementara RM Iman Sujono disebut Jie Low She (Guru Besar Kedua).

Kedekatan budaya ini menjelaskan mengapa banyak peziarah Tionghoa juga mengunjungi Padepokan Eyang Djoego. Tidak sedikit dari mereka yang memadukan ritual Jawa dengan tradisi Tionghoa dalam mencari keberkahan, terutama terkait kelancaran usaha dan rezeki.

Add your first comment to this post

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gerbang masuk Makam Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung dari kejauhan

    Misteri Makam Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung di Sidoarjo dengan Keajaiban dan Doa yang Terkabulkan

    • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Di Desa Terung Wetan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, terdapat sebuah makam keramat yang dikenal luas sebagai Makam Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung. Tempat ini menjadi lokasi ziarah sekaligus menyimpan sejarah, misteri, dan keajaiban yang memikat banyak orang. Nama Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung sering terdengar di masyarakat setempat, tetapi kisah di […]

  • pasangan romantis sebagai ilustrasi tanda jodoh menurut primbon Jawa

    7 Tanda Segera Menemukan Jodoh Menurut Ilmu Titen dan Primbon Jawa

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • 0Komentar

    5. Merasa Seolah Pernah Bertemu Sebelumnya Perasaan akrab saat pertama kali bertemu seseorang sering dianggap sebagai tanda jodoh mendekat. Banyak orang merasa seolah sudah lama mengenal sosok tersebut, meski baru pertama kali bertemu. Beberapa orang mengaitkan pengalaman ini dengan mimpi yang pernah dialami sebelumnya, seolah pertemuan tersebut sudah terjadi dalam alam bawah sadar. Dalam tradisi […]

  • Ilustrasi Sumur Tiban di Bulukidul, Boyolali, yang konon dijaga oleh entitas gaib Raden Ayu Sri Raharjo

    Misteri Lima Sumur Tiban di Lereng Gunung Merapi, Konon Dijaga Raden Ayu Sri Raharjo

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • 0Komentar

    Seiring waktu, banyak orang datang ke sumur tersebut untuk melakukan ritual ngalab berkah. Sebagian bahkan menginap berhari-hari dengan harapan memperoleh keberuntungan. Namun suatu hari, seorang warga yang merasa terganggu menutup sumur tersebut menggunakan ranting dan rerumputan. Beberapa hari setelah penutupan itu, orang tersebut ditemukan meninggal secara mendadak. Bersamaan dengan itu, sumur tiban tersebut juga menghilang […]

  • Area pesarean Candi Mleri, peninggalan Kerajaan Singosari yang berada di kaki Gunung Pegat, Blitar.

    Misteri Candi Mleri Blitar, Situs Kuno Singosari yang Dikeramatkan Warga dan Cerita Macan Putih

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Berjarak sekitar 15 kilometer dari Alun-Alun Kota Blitar, terdapat sebuah situs peninggalan masa lampau yang dikaitkan dengan Kerajaan Singosari. Situs ini diyakini sebagai tempat yang dikeramatkan oleh warga di sekitar kompleks tersebut. Candi yang dikenal dengan nama Candi Mleri ini memang belum terlalu familiar di kalangan masyarakat luas. Namun, di balik ketenangannya, candi […]

  • Wanita memakai mahkota sebagai simbol kenaikan derajat hidup menurut primbon Jawa

    7 Tanda Seseorang Akan Dinaikkan Derajatnya Menurut Primbon Jawa, Kenali Sejak Awal

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang berkecukupan, baik dalam hal materi maupun kebahagiaan batin. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan proses panjang yang tidak selalu mudah. Ada fase-fase sulit yang harus dilalui, bisa berupa cobaan yang datang silih berganti, bahkan kegagalan yang terkadang membuat seseorang ingin menyerah. Dalam […]

  • Ilustrasi simbol shio dalam astrologi Tionghoa. 3 Play Button

    Astrologi Tionghoa Ungkap 5 Shio yang Dinilai Paling Beruntung Secara Finansial di 2026

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Tahun 2026 dikenal sebagai Tahun Kuda Api, sebuah periode yang diyakini membawa dominasi unsur api dan sifat Yang yang kuat. Energi ini sering dikaitkan dengan semangat tinggi, dorongan untuk bergerak maju, serta keberanian mengambil langkah penting dalam hidup. Dalam pandangan astrologi Tionghoa, shio tidak berdiri sebagai ramalan mutlak, melainkan sebagai simbol karakter dan […]

expand_less