Padepokan Eyang Djoego Blitar: Dari Jejak Perang Diponegoro hingga Ritual Ngalap Berkah
- Spiritual
- calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di balik nama besar Eyang Djoego, tersimpan kisah sejarah yang erat dengan Perang Diponegoro (1825–1830). Berdasarkan berbagai penuturan dan catatan sejarah, Eyang Djoego diyakini bernama asli Kiai Zakaria II, salah satu keturunan dari trah bangsawan Jawa yang masih memiliki garis hubungan dengan Pangeran Diponegoro dan keluarga kerajaan Mataram.
Ketika Pangeran Diponegoro tertangkap oleh Belanda pada 28 Maret 1830 di Magelang dan kemudian diasingkan hingga wafat di Makassar pada 8 Januari 1855, sisa pasukan Diponegoro tercerai-berai.
Sebagian menyerah, sebagian tetap melakukan perlawanan gerilya, dan sebagian memilih jalan eskapisme: menghindari konflik terbuka sambil membangun kekuatan spiritual dan sosial di tempat persembunyian.
Kiai Zakaria II termasuk dalam kelompok terakhir ini. Menyadari kekuatan Belanda yang jauh lebih unggul dalam persenjataan dan strategi perang, ia memilih menyingkir ke wilayah Blitar.
Untuk mengaburkan identitas dan menghindari kejaran kolonial, ia mengganti namanya menjadi Sajugo, yang secara harfiah bermakna “saya sendirian”.
Dalam pengembaraannya, ia bertemu dengan RM Iman Sujono, seorang tokoh spiritual yang juga memiliki pengaruh besar di masyarakat.
Keduanya dikenal sebagai pendakwah Islam sekaligus figur spiritual yang disegani. Kehadiran mereka perlahan membentuk pusat aktivitas spiritual yang kelak berkembang menjadi padepokan.
Keterkaitan dengan Gunung Kawi dan Tradisi Tionghoa
Hubungan spiritual antara Eyang Djoego dan RM Iman Sujono tidak berhenti di Blitar. Dalam perjalanan berikutnya, RM Iman Sujono menetap di kawasan Gunung Kawi, Malang, yang hingga kini dikenal sebagai pusat ritual ngalap berkah, khususnya di kalangan etnis Tionghoa.
Karena ikatan spiritual yang kuat, ketika RM Iman Sujono wafat, ia dimakamkan dalam satu liang lahat dengan Eyang Djoego. Di kalangan peziarah Tionghoa, Eyang Djoego dikenal sebagai Taw Low She (Guru Besar Pertama), sementara RM Iman Sujono disebut Jie Low She (Guru Besar Kedua).
Kedekatan budaya ini menjelaskan mengapa banyak peziarah Tionghoa juga mengunjungi Padepokan Eyang Djoego. Tidak sedikit dari mereka yang memadukan ritual Jawa dengan tradisi Tionghoa dalam mencari keberkahan, terutama terkait kelancaran usaha dan rezeki.

Add your first comment to this post