Makam Mumbul Sidoarjo, Jejak Karomah Mbah Sayyid, Ulama Penyebar Islam yang Tak Pernah Terkubur
- Spiritual
- calendar_month Selasa, 20 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Makam yang Menjadi Tujuan Ziarah
Hingga kini, Makam Mumbul hampir tak pernah sepi dari peziarah. Mereka datang dari berbagai daerah dengan beragam latar belakang. Tujuannya pun bermacam-macam: mendoakan, mencari ketenangan batin, atau berharap keberkahan dalam hidup.
Banyak peziarah yang percaya bahwa doa yang dipanjatkan di makam ini kerap terkabul. Bentuk keberkahan yang diyakini diperoleh pun beragam, mulai dari kelancaran rezeki, kesehatan, keharmonisan keluarga, hingga kemudahan karier.
Sebagai ungkapan rasa syukur, sebagian peziarah memberikan sumbangan sukarela. Dana tersebut digunakan untuk membangun cungkup, pagar, dan musala kecil di sekitar makam.
Tradisi Sumbangan Kain Kafan dan Dirawat Lintas Generasi
Selain uang, ada pula tradisi unik berupa pemberian kain kafan. Kain tersebut diletakkan di atas pusara Mbah Sayyid sebagai simbol harapan agar karomah sang ulama terus mengalir. Seiring waktu, jumlah kain kafan yang menumpuk semakin banyak hingga bagian pusara tak lagi terlihat.
Sebagian kain kafan bahkan harus disimpan di gudang karena jumlahnya yang terus bertambah. Tradisi ini masih berlangsung hingga kini dan menjadi ciri khas Makam Mumbul.
Makam Mumbul saat ini dirawat oleh juru kunci yang telah mengabdi selama puluhan tahun. Setiap tahunnya, para keturunan Mbah Sayyid juga rutin datang untuk berziarah. Masyarakat meyakini bahwa Mbah Sayyid berasal dari keluarga terpandang dan masih memiliki garis keturunan dengan tokoh besar penyebar agama Islam.
Selain Makam Mumbul, masyarakat juga kerap mengunjungi situs spiritual lain seperti Makam Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung di Sidoarjo yang sama-sama menyimpan kisah sejarah dan kepercayaan lokal.

Add your first comment to this post