Kisah Ahmad Juri, Pria Sidoarjo yang Tolak Uang Rp1 Miliar Demi Rawat Panci Kuno
- Jejak Spiritual
- calendar_month Minggu, 24 Mei 2026

NusaSpirit.com – Sebuah kisah unik sekaligus sarat nuansa mistis datang dari kawasan Desa Keraton, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Seorang pencari rosok bernama Ahmad Juri mendadak viral setelah mengaku menyimpan sebuah panci kuno berbahan tembaga yang disebut-sebut memiliki keanehan.
Benda antik itu bahkan diklaim pernah ditawar hingga Rp1 miliar oleh orang tak dikenal yang datang menggunakan mobil mewah. Namun, tawaran fantastis tersebut justru ditolak mentah-mentah oleh Ahmad Juri karena alasan yang tak biasa.
Ia mengaku mendapat pesan melalui mimpi agar menjaga benda tersebut dan tidak melepaskannya kepada siapa pun. Cerita itu kemudian menyebar luas dari warung kopi hingga lingkungan sekitar Desa Keraton yang memang dikenal masih memegang kuat tradisi dan kepercayaan turun-temurun dari leluhur.
Desa Keraton sendiri berada di wilayah Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Kawasan ini termasuk daerah padat penduduk yang berada di jalur penghubung antara Sidoarjo dan Mojokerto.
Meski berkembang sebagai kawasan permukiman dan perdagangan, sebagian warga setempat masih memegang tradisi lama, termasuk berbagai pantangan adat yang dipercaya diwariskan nenek moyang.
Kisah mistis ini bermula saat Ahmad Juri menceritakan kesehariannya sebagai pencari dan pengumpul barang rosok.
Pria yang telah berkeluarga dan memiliki dua anak itu mengaku menemukan benda kuno tersebut tanpa sengaja saat bekerja.
“Awalnya saya cuma kerja cari rosokan seperti biasa. Terus menemukan barang antik itu,” ujar Ahmad Juri
Menurutnya, benda yang ia simpan berupa panci atau wadah kuno berbahan tembaga dengan ukuran cukup besar. Kondisinya masih utuh dan tidak berlubang meski diperkirakan telah berusia puluhan hingga ratusan tahun.
Tradisi Larangan Orkes di Desa Keraton
Di balik cerita panci kuno itu, Ahmad Juri juga mengungkap adanya tradisi unik yang dipercaya masyarakat setempat sejak lama. Ia menyebut warga Desa Keraton memiliki pantangan menggelar hiburan orkes saat hajatan karena diyakini bisa mendatangkan musibah.
“Kalau di sini ada hajatan nanggap orkes itu enggak boleh. Sudah dari dulu, turun-temurun dari nenek moyang,” katanya.
Sebaliknya, warga justru lebih memilih mengadakan pengajian ketika memiliki acara keluarga atau hajatan tertentu. Tradisi itu dipercaya membawa keberkahan dan kelancaran rezeki bagi keluarga yang menggelarnya.
“Kalau pengajian katanya rezekinya bisa nambah terus,” ujarnya.
Kepercayaan semacam itu memang masih banyak ditemukan di sejumlah desa di Jawa Timur. Tradisi lokal biasanya lahir dari cerita turun-temurun yang kemudian dipercaya sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. Meski tidak semua orang mempercayainya, sebagian warga tetap mempertahankan tradisi tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Ahmad Juri mengaku awalnya tidak terlalu memikirkan benda temuannya itu. Namun, situasi berubah setelah seseorang mendatangi rumahnya dan langsung menanyakan keberadaan panci kuno tersebut.
“Saya bingung kok orang itu tahu kalau saya punya barang antik ini,” ucapnya.
Menurut Ahmad Juri, pria yang datang tersebut bukan warga sekitar. Penampilannya disebut rapi dan datang menggunakan mobil mewah. Orang itu kemudian menawarkan uang dalam jumlah besar agar panci kuno tersebut dijual.
Ditawar Rp1 Miliar oleh Orang Misterius
Puncak keanehan terjadi ketika pria tersebut menyebut angka fantastis untuk membeli benda kuno itu. Ahmad Juri mengaku sempat terkejut mendengar nominal yang ditawarkan.
“Katanya mau menawar Rp1 miliar,” kata Ahmad Juri.
Meski mengaku sempat bimbang karena kondisi ekonomi keluarganya, ia akhirnya memilih mempertahankan benda tersebut. Keputusan itu diambil lantaran ia merasa mendapat pesan gaib melalui mimpi setelah menemukan panci kuno tersebut.
“Saya pernah mimpi disuruh menjaga dan merawat barang itu,” tuturnya.
Ia mengaku mimpi tersebut terasa sangat nyata hingga membuatnya takut menjual benda itu. Dalam mimpinya, Ahmad Juri seolah berada di sebuah alam yang menurutnya berbeda dari kehidupan sehari-hari.
Karena pengalaman itulah, ia memilih mengabaikan tawaran uang dalam jumlah besar tersebut. Ahmad Juri bahkan mengaku tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi bila nekat menjual benda itu.
Cerita semakin menarik ketika Ahmad Juri mengatakan bahwa orang yang menawar panci tersebut mengaku mengetahui keberadaan benda itu dari “bisikan gaib”.
“Saya tanya kok bisa tahu ada barang antik di sini. Dia billing katanya dapat tahu begitu saja,” ujarnya.
Pengakuan itu membuat warga sekitar semakin penasaran. Sebagian menganggap cerita tersebut hanya kebetulan, namun tak sedikit pula yang percaya bahwa benda kuno tertentu memang memiliki cerita dan aura tersendiri.
Merasa Dimudahkan saat Bekerja
Tak hanya soal mimpi dan tawaran fantastis, Ahmad Juri juga mengaku merasakan perubahan dalam hidupnya sejak menyimpan panci kuno tersebut. Ia merasa pekerjaannya menjadi lebih lancar dibanding sebelumnya.
“Kalau kerja rasanya dimudahkan. Kayak enggak ada gangguan Kurang lebih seperti itu,” katanya.
Menurutnya, selama menyimpan benda itu ia merasa lebih tenang dan nyaman saat bekerja mencari rosok. Meski demikian, ia menegaskan tidak pernah melakukan ritual tertentu terhadap panci tersebut.
Benda kuno berbahan tembaga itu kini masih disimpan di rumahnya. Dari bentuknya, wadah tersebut memang terlihat seperti peralatan dapur kuno dengan diameter besar dan permukaan yang mulai menghitam karena usia.
Ahmad Juri menduga benda tersebut berasal dari masa kolonial Belanda. Dugaan itu muncul karena model dan materialnya dianggap berbeda dengan peralatan rumah tangga modern.
Dari kacamata budaya, sikap Ahmad Juri yang menolak uang demi menjaga amanah dalam mimpi mencerminkan kuatnya prinsip masyarakat lokal dalam menghormati benda-benda yang diperoleh dari peninggalan masa lalu yang disimbolkan sebagai “pulung” atau wangsit.
- Penulis: Ferdi Diningrat
- Editor: M. Ilman Arif
- Sumber: https://youtu.be/w176jnTlE24?si=0MjLg54AOcZ_y254

Add your first comment to this post