Golok Ciomas, Pusaka Keramat dari Tanah Banten
- Spiritual
- calendar_month Minggu, 18 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bukan Senjata Biasa, Melainkan Pusaka
Secara visual, Golok Ciomas tampak sederhana tanpa ornamen mencolok. Namun di balik kesederhanaannya, golok ini diyakini memiliki daya gaib yang sangat kuat. Bahkan, dalam cerita yang beredar, unsur racun dipercaya telah menyatu dengan besi intinya.
Karena itu, Golok Ciomas tidak boleh digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Penyalahgunaan golok ini diyakini dapat membawa dampak buruk bagi pemiliknya. Fungsinya lebih menyerupai pusaka, sebagaimana keris dalam budaya Jawa.
Golok ini juga kerap dijadikan tolok ukur dalam atraksi debus Banten. Jika seseorang kebal terhadap sabetan Golok Ciomas, maka ia diyakini memiliki kekebalan tingkat tinggi.
Pesanan Terbatas dan Warisan Leluhur
Golok Ciomas hanya dibuat berdasarkan pesanan dan tidak diperjualbelikan secara bebas. Peminatnya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat hingga kolektor, termasuk dari luar negeri seperti Malaysia, Brunei, dan Singapura.
Golok ini dapat diwariskan, namun harus melalui prosesi spiritual khusus untuk memastikan kesesuaian antara pusaka dan pemilik barunya. Penyimpanannya pun tidak sembarangan, biasanya menggunakan kotak khusus dengan ramuan rahasia.
Untuk menjamin keaslian, setiap Golok Ciomas disertai sertifikat asal-usul dan pembuatnya. Mahar yang diminta tidak pernah disebutkan secara terbuka karena dianggap menyangkut nilai spiritual, bukan semata materi.
Warisan Kesultanan Banten
Kisah Golok Ciomas tidak bisa dilepaskan dari legenda Aki Cengkuk. Dalam cerita yang hidup di masyarakat, palu godam Si Denok disebut sebagai hadiah Sultan Banten atas jasanya di masa lampau. Sejak itu, tradisi pembuatan golok diwariskan secara ketat agar tidak tergerus zaman.
Hingga kini, Golok Ciomas tetap diperlakukan sebagai pusaka sakral, simbol kekuatan, spiritualitas, dan warisan luhur masyarakat Banten yang masih dijaga dengan penuh kehormatan.

Add your first comment to this post