Ritual Kungkum di Sungai Complang Jejak Dewi Kilisuci dan Tradisi Sewindu Warga Kediri
- Spiritual
- calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Endog Kelud, Batu Bertuah yang Tak Bisa Dimiliki Sembarangan
Di balik ritual Kungkum, beredar pula kepercayaan tentang Endog Kelud, batu berwarna putih yang bentuknya menyerupai telur. Batu ini dipercaya dapat membawa keberuntungan dan kelancaran finansial jika ditemukan saat ritual berlangsung.
Namun kepercayaan ini tidak dilepaskan dari unsur kepribadian si pemilik. Endog Kelud tidak boleh disalahgunakan. Warga yang meyakininya percaya bahwa batu tersebut harus dirawat dengan doa dan sesaji tertentu, serta dikembalikan ke Sungai Complang setelah dirasa manfaatnya cukup.
Dalam khazanah budaya Jawa, keyakinan terhadap benda alam bertuah semacam ini bukan hal asing. Selain Endog Kelud, masyarakat juga mengenal bambu petuk, benda langka yang kerap dimaknai sebagai simbol tuah, keberuntungan dan rezeki.
Jika disimpan terlalu lama, konon pemilik batu akan muncul keanehan yang berupa penyakit kulit. Keyakinan ini menjadi pengingat bahwa dalam budaya Jawa, keserakahan selalu memiliki konsekuensi.
Karena hanya digelar delapan tahun sekali, ritual Kungkum tergolong tradisi jarang terjadi. Namun justru di situlah nilainya. Ia tidak diproduksi untuk tontonan massal, tidak pula dikemas sebagai festival besar. Ritual ini dijaga agar tetap berada dalam koridor adat dan keyakinan masyarakat.
Di zaman sekarang, sebagian warga Gondorejo memilih untuk tetap memegang warisan leluhur ini. Bagi mereka, Kungkum bukan tradisi masa lalu, melainkan jangkar identitas yang menautkan generasi hari ini dengan jejak sejarah panjang Kediri.

Add your first comment to this post