Misteri Prapat Kurung Surabaya dan Sejarah Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok
- Spiritual
- calendar_month Jumat, 30 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NusaSpirit.com – Tak jauh dari jantung Kota Surabaya, terdapat sebuah lokasi yang sejak lama diyakini keramat oleh warga setempat, tidak hanya oleh masyarakat umum, tetapi terutama oleh komunitas Muslim keturunan Tionghoa.
Tempat itu bernama Prapat Kurung, terletak di sebuah taman kota di kawasan Prapat Tegal, Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya.
Lokasi ini tidak hanya menyimpan jejak sejarah penyebaran agama Islam, tetapi juga menyimpan kisah-kisah mistis yang diwariskan secara turun-temurun hingga kini.
Bagi warga yang melintas, Prapat Kurung mungkin terlihat biasa saja, hanya sebuah pohon tua yang dikelilingi teralis besi. Namun, bagi kalangan ahli spiritual, tempat ini bukanlah lokasi sembarangan.
Mereka percaya bahwa area Prapat Kurung menjadi titik berkumpul yang menyimpan energi dan memancarkan aura yang sangat kuat, bahkan sejak masa penjajahan Belanda. Konon, kekuatan spiritual Prapat Kurung telah menarik banyak tokoh besar di masa lalu.
Sejumlah pahlawan nusantara disebut pernah melakukan ritual pertapaan di tempat ini, seperti Karaeng Galesong dari Makasar, Trunojoyo dari Madura, dan beberapa tokoh perjuangan lainnya yang kerap berhubungan dengan lokasi ini. Selain para pejuang, beberapa tokoh spiritual dan wali juga diyakini pernah menjalani tirakatan di Prapat Kurung.
Salah satu tokoh yang sering disebut adalah Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar. Menurut cerita, Sunan Kalijaga pernah tinggal cukup lama di sekitar Prapat Kurung sebelum melanjutkan dakwah Islamnya ke berbagai wilayah di Pulau Jawa.
Latar Belakang Laksamana Cheng Ho
Di balik sejarah kekeramatan Prapat Kurung, terdapat pengaruh sosok Laksamana Muhammad Cheng Ho, atau lebih dikenal sebagai Zheng He, seorang Muslim Tionghoa asal Negeri Tirai Bambu, Tiongkok.
Menurut literatur sejarah, ia datang ke wilayah Asia Tenggara, termasuk Nusantara, pada rentang tahun 1405 hingga 1433 atas perintah Kaisar Yongle dari Dinasti Ming. Ekspedisi ini bertujuan memperkuat jalur pelayaran laut sekaligus mempererat hubungan antarnegara yang pada masa itu masih berbentuk kerajaan.
Tak hanya menjalankan misi diplomasi dan perdagangan, Cheng Ho juga berperan dalam pertukaran budaya dan penyebaran agama Islam. Beliau konon memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW melalui cucunya, Husain bin Fatimah. Selain mengemban misi diplomatik yang luas, Cheng Ho akhirnya menetap di Nusantara, tepatnya di Surabaya.
Kisah Muasal Laksamana Cheng Ho Bermukim di Surabaya
Dalam salah satu ekspedisinya di Nusantara, kapal Laksamana Cheng Ho dirumorkan hancur akibat gelombang besar saat berlayar dari Semarang menuju perairan Jawa Timur.
Cheng Ho beserta beberapa awaknya selamat dengan mengapung menggunakan puing-puing kapal yang tersisa, hingga akhirnya tiba di wilayah Tanjung Perak, Surabaya.
Akibat kehilangan kapalnya, Cheng Ho kemudian mengadakan tirakatan di lokasi yang kini dikenal sebagai Prapat Kurung, memohon petunjuk dan bermunajat kepada Tuhan agar diberikan keselamatan.
Beberapa catatan juga menyebutkan bahwa Laksamana Cheng Ho bukan sekadar seorang Muslim biasa, melainkan seorang ulama berilmu tinggi yang sederajat dengan para wali.
Kehadirannya di kawasan tersebut semakin memperkuat keyakinan warga terhadap kesucian Prapat Kurung. Lokasi ini kemudian juga menjadi tempat yang dikunjungi beberapa wali yang tergabung dalam Wali Songo.
Bahkan, menurut kepercayaan masyarakat Surabaya, jasad Cheng Ho diyakini tidak pernah dikebumikan secara umum, baik di area Prapat Kurung maupun di Tiongkok yang mengklaim makamnya berada di sana. Penduduk setempat percaya bahwa ia mengalami moksa atau menghilang secara gaib di tempat ini.

Add your first comment to this post