Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Beranda » Spiritual » Misteri Prapat Kurung Surabaya dan Sejarah Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok

Misteri Prapat Kurung Surabaya dan Sejarah Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

NusaSpirit.com – Tak jauh dari jantung Kota Surabaya, terdapat sebuah lokasi yang sejak lama diyakini keramat oleh warga setempat, tidak hanya oleh masyarakat umum, tetapi terutama oleh komunitas Muslim keturunan Tionghoa.

Tempat itu bernama Prapat Kurung, terletak di sebuah taman kota di kawasan Prapat Tegal, Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya.

Lokasi ini tidak hanya menyimpan jejak sejarah penyebaran agama Islam, tetapi juga menyimpan kisah-kisah mistis yang diwariskan secara turun-temurun hingga kini.

Bagi warga yang melintas, Prapat Kurung mungkin terlihat biasa saja, hanya sebuah pohon tua yang dikelilingi teralis besi. Namun, bagi kalangan ahli spiritual, tempat ini bukanlah lokasi sembarangan.

Mereka percaya bahwa area Prapat Kurung menjadi titik berkumpul yang menyimpan energi dan memancarkan aura yang sangat kuat, bahkan sejak masa penjajahan Belanda. Konon, kekuatan spiritual Prapat Kurung telah menarik banyak tokoh besar di masa lalu.

Sejumlah pahlawan nusantara disebut pernah melakukan ritual pertapaan di tempat ini, seperti Karaeng Galesong dari Makasar, Trunojoyo dari Madura, dan beberapa tokoh perjuangan lainnya yang kerap berhubungan dengan lokasi ini. Selain para pejuang, beberapa tokoh spiritual dan wali juga diyakini pernah menjalani tirakatan di Prapat Kurung.

Salah satu tokoh yang sering disebut adalah Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar. Menurut cerita, Sunan Kalijaga pernah tinggal cukup lama di sekitar Prapat Kurung sebelum melanjutkan dakwah Islamnya ke berbagai wilayah di Pulau Jawa.

Latar Belakang Laksamana Cheng Ho

Di balik sejarah kekeramatan Prapat Kurung, terdapat pengaruh sosok Laksamana Muhammad Cheng Ho, atau lebih dikenal sebagai Zheng He, seorang Muslim Tionghoa asal Negeri Tirai Bambu, Tiongkok.

Menurut literatur sejarah, ia datang ke wilayah Asia Tenggara, termasuk Nusantara, pada rentang tahun 1405 hingga 1433 atas perintah Kaisar Yongle dari Dinasti Ming. Ekspedisi ini bertujuan memperkuat jalur pelayaran laut sekaligus mempererat hubungan antarnegara yang pada masa itu masih berbentuk kerajaan.

Tak hanya menjalankan misi diplomasi dan perdagangan, Cheng Ho juga berperan dalam pertukaran budaya dan penyebaran agama Islam. Beliau konon memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW melalui cucunya, Husain bin Fatimah. Selain mengemban misi diplomatik yang luas, Cheng Ho akhirnya menetap di Nusantara, tepatnya di Surabaya.

Kisah Muasal Laksamana Cheng Ho Bermukim di Surabaya

Dalam salah satu ekspedisinya di Nusantara, kapal Laksamana Cheng Ho dirumorkan hancur akibat gelombang besar saat berlayar dari Semarang menuju perairan Jawa Timur.

Cheng Ho beserta beberapa awaknya selamat dengan mengapung menggunakan puing-puing kapal yang tersisa, hingga akhirnya tiba di wilayah Tanjung Perak, Surabaya.

Akibat kehilangan kapalnya, Cheng Ho kemudian mengadakan tirakatan di lokasi yang kini dikenal sebagai Prapat Kurung, memohon petunjuk dan bermunajat kepada Tuhan agar diberikan keselamatan.

Beberapa catatan juga menyebutkan bahwa Laksamana Cheng Ho bukan sekadar seorang Muslim biasa, melainkan seorang ulama berilmu tinggi yang sederajat dengan para wali.

Kehadirannya di kawasan tersebut semakin memperkuat keyakinan warga terhadap kesucian Prapat Kurung. Lokasi ini kemudian juga menjadi tempat yang dikunjungi beberapa wali yang tergabung dalam Wali Songo.

Bahkan, menurut kepercayaan masyarakat Surabaya, jasad Cheng Ho diyakini tidak pernah dikebumikan secara umum, baik di area Prapat Kurung maupun di Tiongkok yang mengklaim makamnya berada di sana. Penduduk setempat percaya bahwa ia mengalami moksa atau menghilang secara gaib di tempat ini.

Add your first comment to this post

Rekomendasi Untuk Anda

  • pasangan romantis sebagai ilustrasi tanda jodoh menurut primbon Jawa

    7 Tanda Segera Menemukan Jodoh Menurut Ilmu Titen dan Primbon Jawa

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • 0Komentar

    Nusaspirit.com – Menikahi seseorang yang dicintai merupakan impian banyak orang. Namun, bagi mereka yang masih sendiri, menantikan kehadiran sosok yang kelak dianggap sebagai jodoh bukanlah hal yang mudah dan sering kali sulit ditebak. Meski demikian, dalam tradisi Jawa dikenal salah satu warisan pengetahuan leluhur yang hingga kini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat, yaitu ilmu titen. […]

  • Replika uang kertas Indonesia emisi lama, Rp1.000 (1964) dan Rp1 (1960).

    Deretan Uang Kuno yang Diyakini Membawa Keberuntungan, dari Tiongkok hingga Nusantara

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Bagi para kolektor seni, mengoleksi barang antik merupakan hobi yang mampu memenuhi minat dan kepuasan pribadi. Tak sedikit dari mereka yang rela melakukan perjalanan jauh ke berbagai daerah atau menjelajahi platform daring demi menemukan barang yang selama ini diincar. Menurut mereka, aktivitas ini menjadi kepuasan tersendiri, sekaligus dapat berfungsi sebagai investasi jangka panjang […]

  • Ubo rampe atau sesajen dalam tradisi Jawa

    Makna Ubo Rampe atau Sesajen Dalam Tradisi Jawa beserta Macam-macamnya

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Bagi masyarakat Jawa, istilah ubo rampe masih sangat familiar di kalangan tradisional. Namun, di era modern seperti sekarang, tidak sedikit masyarakat yang belum memahami sepenuhnya makna dari ubo rampe. Ubo rampe, merujuk dari naskah klasik Jawa Serat Centhini yang disusun pada abad ke-19, dikenal sebagai rangkaian sesaji atau hasil sedekah bumi. Ubo rampe […]

  • Ilustrasi foto perempuan tidur saat senja

    Mengapa Orang Tua Jawa Melarang Tidur Saat Magrib? Inilah Alasannya Menurut Petuah Leluhur

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Tidur di siang hari pada dasarnya berfungsi untuk mengembalikan kondisi tubuh yang lelah setelah menjalani aktivitas padat. Secara medis, istirahat singkat justru dapat membantu menjaga konsentrasi dan stamina. Namun, berbeda halnya dengan tidur pada waktu menjelang malam, khususnya saat magrib. Bagi sebagian masyarakat yang masih memegang erat tradisi dan nilai budaya, terutama yang […]

  • Wanita memakai mahkota sebagai simbol kenaikan derajat hidup menurut primbon Jawa

    7 Tanda Seseorang Akan Dinaikkan Derajatnya Menurut Primbon Jawa, Kenali Sejak Awal

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang berkecukupan, baik dalam hal materi maupun kebahagiaan batin. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan proses panjang yang tidak selalu mudah. Ada fase-fase sulit yang harus dilalui, bisa berupa cobaan yang datang silih berganti, bahkan kegagalan yang terkadang membuat seseorang ingin menyerah. Dalam […]

  • Golok Ciomas, pusaka sakral asal Banten yang diyakini memiliki nilai spiritual tinggi dan hanya dibuat melalui laku adat tertentu.

    Golok Ciomas, Pusaka Keramat dari Tanah Banten

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Dalam berbagai film kolosal bertema laga era tahun 1980-an hingga 1990-an, terutama yang dibintangi oleh aktor-aktor legendaris seperti Barry Prima dan Advent Bangun, penonton tentu sudah sangat akrab dengan sosok pendekar yang membawa sebilah golok. Senjata ini kerap digunakan oleh tokoh utama maupun lawannya dalam setiap adegan perkelahian untuk menunjukkan kelihaian seni bela […]

expand_less