Makam Mumbul Sidoarjo, Jejak Karomah Mbah Sayyid, Ulama Penyebar Islam yang Tak Pernah Terkubur
- Spiritual
- calendar_month Selasa, 20 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NusaSpirit.com – Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terletak sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Sidoarjo.
Di desa ini terdapat sebuah pesarean yang sejak lama dikenal menyimpan kisah spiritual dan menjadi bagian penting dari tradisi lokal masyarakat setempat, sebagaimana sejumlah situs wisata religi di Sidoarjo yang juga menyimpan jejak sejarah dan nilai budaya.
Makam tersebut dikenal dengan sebutan Makam “Mumbul”, istilah yang merujuk pada keyakinan bahwa bagian dari pusara di tempat ini tidak dapat terkubur sepenuhnya ke dalam tanah sebagaimana pemakaman pada umumnya.
Dalam cerita yang berkembang secara turun-temurun, makam ini disebut memiliki fenomena berbeda. Beberapa versi menyebutkan bahwa bagian dari pusara, seperti kain kafan atau penutup makam, kerap kembali muncul ke permukaan setelah ditimbun. Karena kejadian itu terjadi berulang, warga akhirnya memutuskan untuk membiarkan bagian tersebut tetap berada di atas tanah.
Untuk menjaga kehormatan dan kesakralannya, pesarean ini kemudian dilindungi dengan cungkup dan pagar, yang hingga kini masih dapat disaksikan oleh para peziarah.
Bagi sebagian orang, kisah Makam Mumbul mungkin terdengar seperti legenda. Namun bagi masyarakat Klagen, keberadaan makam ini dipandang sebagai simbol penghormatan terhadap seorang ulama yang berjasa dalam dakwah Islam dan pembukaan wilayah di masa lalu.
Sosok di Balik Makam Mumbul
Tokoh yang dimakamkan di Makam Mumbul dikenal dengan nama Kyai Sayyid Ali Usman, atau oleh warga setempat lebih akrab disebut Mbah Sayyid.
Dalam tradisi lisan masyarakat, Mbah Sayyid dikenal sebagai seorang ulama yang berasal dari Baghdad, Irak, dan diyakini memiliki garis keturunan yang bersambung hingga ke Syekh Abdul Qodir Al Jailani. Ia disebut datang ke Nusantara sekitar dua abad silam untuk menyebarkan ajaran Islam.
Meski data tertulis mengenai riwayat hidupnya sangat terbatas, peran Mbah Sayyid diakui sebagai tokoh penting dalam sejarah awal masyarakat Klagen.
Berdasarkan keterangan juru kunci makam yang tercatat dalam arsip, Mbah Sayyid datang dari wilayah Semarang, Jawa Tengah, bersama beberapa santri.
Ia kemudian membuka hutan belantara untuk dijadikan pemukiman sekaligus menyebarkan ajaran Islam. Pada masa itu, kawasan Klagen masih berupa rimba lebat yang dikenal angker dan jarang didatangi penduduk.

Add your first comment to this post