Ritual Lawadan Tulungagung: Jejak Sejarah, Mitos Buaya Putih, dan Tradisi Bersih Desa yang Terus Dilestarikan
- Spiritual
- calendar_month Senin, 19 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Mitos Siluman Buaya Putih Penunggu Rawa
Saat proses pembukaan lahan berlangsung, para prajurit kerap mengalami kejadian aneh. Salah satu cerita yang paling dikenal adalah kemunculan siluman buaya putih, makhluk gaib yang diyakini sebagai penguasa rawa Lawadan. Buaya putih ini sering menampakkan diri, namun selalu menghilang setiap kali dikejar atau diserang, seolah tidak bisa disentuh oleh senjata manusia.
Hingga suatu malam, makhluk tersebut dipercaya menampakkan diri dalam wujud seorang lelaki tua. Dalam perjumpaan itu, ia mengaku sebagai lelembut penjaga rawa yang merasa terusik karena wilayah kekuasaannya berubah menjadi pemukiman. Ia menyampaikan peringatan keras agar pembangunan dihentikan.
Ancaman tersebut awalnya tidak dihiraukan. Namun tak lama berselang, serangkaian kematian misterius mulai terjadi. Warga meninggal satu per satu tanpa sebab yang jelas. Situasi ini menimbulkan ketakutan dan kegelisahan di tengah masyarakat yang baru menetap.
Kesepakatan Sakral dan Awal Ritual Lawadan
Dalam kondisi genting, para penduduk akhirnya sepakat untuk melakukan perundingan secara spiritual. Dengan bantuan seorang tokoh yang dianggap memiliki kemampuan khusus, dilakukan komunikasi dengan penguasa gaib rawa. Dalam proses tersebut, siluman buaya putih kembali menyampaikan kehendaknya.
Ia mengizinkan rawa dijadikan pemukiman dengan syarat tertentu. Penduduk diwajibkan menggelar ritual dan selamatan secara rutin setiap Bulan Suro, sebagai bentuk penghormatan dan penyeimbang hubungan antara dunia manusia dan dunia gaib.
Selain itu, setiap kali ada hajatan besar seperti pernikahan atau khitanan, warga diwajibkan mengadakan pertunjukan kesenian tayub.
Kesepakatan inilah yang menjadi dasar lahirnya Ritual Lawadan, sebuah tradisi yang terus dijaga hingga kini, meskipun pelaksanaannya telah mengalami berbagai penyesuaian.
Ragam Sajian Ritual dan Prosesi Bersih Desa
Dalam pelaksanaan Ritual Lawadan, masyarakat menyiapkan berbagai perlengkapan sesaji yang sarat makna simbolik. Di antaranya terdapat aneka jenang, nasi tumpeng, hasil bumi, bunga setaman, serta berbagai hidangan tradisional yang melambangkan doa keselamatan, kemakmuran, dan keseimbangan hidup.
Semua sajian tersebut dikumpulkan sejak pagi hari dan diarak berkeliling desa. Prosesi ini dimaknai sebagai upaya membersihkan desa dari energi negatif sekaligus memperkuat rasa kebersamaan antarwarga. Menjelang sore, rangkaian acara berlanjut dengan doa-doa adat yang dipimpin oleh sesepuh desa.

Add your first comment to this post