Ritual Lawadan Tulungagung: Jejak Sejarah, Mitos Buaya Putih, dan Tradisi Bersih Desa yang Terus Dilestarikan
- Spiritual
- calendar_month Senin, 19 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NusaSpirit.com – Tidak banyak daerah di Jawa Timur yang memiliki tradisi bersih desa dengan latar sejarah, mitos, dan ritual sekompleks Desa Wates, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung.
Dalam penuturan masyarakat setempat, Desa Wates dikenal memiliki sebuah upacara adat yang dahulu digelar pada awal Bulan Suro dan disebut sebagai Ritual Lawadan.
Bagi warga lokal, ritual ini bukan hanya tradisi turun-temurun, melainkan bentuk penghormatan untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan tak kasat mata yang diyakini pernah menguasai wilayah tersebut.
Nama Lawadan sendiri bukanlah istilah baru. Sebelum dikenal sebagai Desa Wates, wilayah ini dahulu bernama Desa Lawadan, sebuah tanah perdikan yang memiliki kedudukan istimewa pada masa Kerajaan Daha (Kediri).
Seiring berjalannya waktu, legenda tentang asal-usul desa, siluman buaya putih, hingga berbagai ritual sakral terus hidup dan diwariskan lintas generasi. Meski kini hanya sebagian warga yang masih menjalankan atau mengenangnya dalam bentuk penyesuaian dengan nilai sosial modern, makna spiritual dan historisnya tetap dijaga.
Asal-Usul Desa Lawadan dan Jejak Kerajaan Daha
Menurut kabar yang berkembang di masyarakat, Desa Lawadan merupakan hadiah langsung dari Prabu Dandanggendis, penguasa Kerajaan Daha pada awal abad ke-13 Masehi.
Tanah ini diberikan kepada sekelompok prajurit asal Campurdarat yang berjasa membantu kerajaan mengusir musuh. Konon, berkat bantuan para prajurit tersebut, nyawa sang raja terselamatkan dan kekuasaan Daha dapat dipertahankan.
Pemberian tanah perdikan ini diperkuat dengan temuan prasasti kuno bertanggal 18 November 1205, bertepatan dengan Jumat Pahing dalam kalender Jawa. Prasasti tersebut menjadi penanda penting bahwa wilayah Lawadan pernah memiliki status khusus dan dilindungi oleh kekuasaan kerajaan.
Pada masa awal, Lawadan digambarkan sebagai kawasan rawa-rawa yang luas. Kondisi alam ini belum sepenuhnya ramah untuk ditinggali, namun para prajurit tetap melakukan babat alas untuk membangun perkampungan kecil. Di sinilah kisah-kisah mistis mulai bermunculan.

Add your first comment to this post