Ritual Kungkum di Sungai Complang Jejak Dewi Kilisuci dan Tradisi Sewindu Warga Kediri
- Spiritual
- calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NusaSpirit.com – Mandi kungkum merupakan sebuah ritual tradisional dalam budaya Jawa yang dipercaya memiliki manfaat spiritual. Biasanya, ritual ini dilakukan sebagai bentuk doa untuk mewujudkan keinginan atau harapan tertentu. Namun, proses mandi kungkum tidaklah semudah yang dibayangkan.
Dalam keyakinan Jawa, mandi kungkum harus dilakukan di lokasi-lokasi khusus, salah satunya di Sungai Tempuran, tempat bertemunya empat aliran sungai. Konon, lokasi ini dipercaya memiliki energi alam yang tinggi, sehingga memudahkan pelaku kungkum untuk memperkuat doa dan membantu mewujudkan keinginan yang diharapkan.
Selain Sungai Tempuran, Sungai Complang yang berada di kaki Gunung Kelud juga dianggap memiliki kekuatan magis turun-temurun oleh warga Desa Gondorejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Setiap delapan tahun sekali, seluruh warga berkumpul untuk melaksanakan ritual Kungkum, di mana mereka mandi bersama sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan mencoba mengusir kesialan hidup.
Tradisi ini bukan acara tahunan, bukan pula agenda wisata rutin. Ia hanya hadir sewindu sekali, mengikuti penanggalan Jawa pada hari Langkir pasaran Legi.
Karena jarangnya digelar, setiap kali ritual berlangsung, Desa Gondorejo seakan memanggil pulang warganya yang sedang merantau jauh.
Mereka yang tinggal di kota lain, bahkan di luar pulau, berusaha pulang kampung demi ikut serta dalam ritual yang diyakini telah berlangsung sejak masa Kerajaan Kediri.
Sungai sebagai Ruang Sakral
Bagi masyarakat Gondorejo, Sungai Complang bukan sebatas aliran air. Ia diposisikan sebagai ruang sakral, tempat manusia menyucikan diri lahir dan batin. Dalam pandangan budaya Jawa, air adalah “tirta panguripan” atau media pembersih dan penghubung antara dunia manusia dan alam adikodrati.
Pada hari pelaksanaan Kungkum, sungai ini dipenuhi warga dari berbagai usia. Mulai dari laki-laki, perempuan, anak-anak hingga orang tua. Tidak ada rasa canggung. Semua larut dalam suasana khidmat, seolah kembali menjadi satu keluarga besar yang ditautkan oleh sejarah dan kepercayaan yang sama.

Add your first comment to this post