Misteri Prapat Kurung Surabaya dan Sejarah Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok
- Spiritual
- calendar_month Jumat, 30 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Prapat Kurung Tradisi dan Peziarah
Kendati demikian, Prapat Kurung hingga saat ini tetap menjadi lokasi yang tidak pernah sepi dari pengunjung. Dahulu, tempat ini sempat ramai dikunjungi kalangan spiritual yang ingin merasakan energi di lokasi tersebut atau sekadar ngalap berkah.
Akibat membludaknya pengunjung, lokasi akhirnya dilindungi dengan pagar besi untuk mencegah tangan-tangan jahil.
Tak hanya itu, di sana juga terdapat pohon bidara yang diyakini berusia ratusan tahun serta batu mustika seukuran ubin lantai yang disakralkan oleh penduduk setempat, menambah kesan mistis area tersebut.
Banyak pengunjung atau peziarah datang ke tempat ini untuk berbagai tujuan, seperti ingin mendapatkan jodoh, kelancaran usaha, atau kesuksesan dalam urusan pekerjaan.
Mereka biasanya membawa beragam sesaji atau ubo rampe, seperti kembang setaman, kemenyan, pisang raja, dupa, minyak srimpi, kinang lengkap, dan rokok klobot. Hari-hari paling ramai dikunjungi adalah Selasa Kliwon dan Jumat Legi.
Menurut kesaksian paranormal, batu bertuah di lokasi ini memiliki energi mirip dengan Hajar Aswad di Makkah, meski ukurannya jauh lebih kecil. Sedangkan pohon bidara yang tumbuh di area tersebut merupakan sisa dari puing-puing kayu kapal Cheng Ho yang sengaja ditanam.
Ada cerita bahwa beberapa orang yang mencoba menebang pohon atau memindahkan batu mustika pernah jatuh sakit, bahkan sebagian meninggal dunia.
Kejadian ini membuat pemerintah kota berhati-hati dan akhirnya melindungi lokasi tersebut. Seiring banyaknya pengunjung, batu mustika yang dipercaya memiliki tuah itu lambat laun tenggelam ke permukaan tanah.
Juru kunci mengingatkan pengunjung agar Prapat Kurung tidak dipakai untuk pesugihan atau hal-hal negatif.
Sebaliknya, tempat ini adalah lokasi suci yang hanya boleh digunakan untuk bermunajat dan menenangkan batin.
Para peziarah biasanya datang dengan niat baik, membawa sesaji, dan mengikuti prosedur ritual sederhana. Setelah melakukan prosesi, tidak jarang mereka mengadakan syukuran kecil bersama warga sekitar sebagai tanda terima kasih kepada danyang atau penjaga gaib setempat.
Bagi yang tertarik mengeksplorasi tempat-tempat suci dan mistis di Jawa Timur, selain Prapat Kurung, terdapat juga lokasi bersejarah lain seperti Padepokan Eyang Djoego di Blitar, yang konon memiliki aura spiritual dan banyak dikunjungi peziarah untuk bermunajat.

Add your first comment to this post