Mbah Harjo, Sesepuh Blitar yang Diyakini Menguasai Ilmu Pancasona dan Hidup hingga 215 Tahun
- Spiritual
- calendar_month Selasa, 13 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Mbah Harjo dikenal menjalani berbagai bentuk tirakat berat, salah satunya puasa rowot, yakni hanya mengonsumsi umbi-umbian tanpa nasi, ikan, maupun bumbu olahan. Laku ini dijalani secara rutin, terutama menjelang bulan Sura yang memiliki makna spiritual mendalam dalam penanggalan Jawa.
“Ilmu Pancasona itu bukan soal kesaktian. Mbah Harjo menjalani tirakat bertahun-tahun, puasa rowot, semedi, dan hidup prihatin sebagai bentuk pengendalian diri dan pasrah kepada kehendak Tuhan,” tutur Kang Suroso.
Selain itu, ia juga menjalani semedi dan tapa brata di tempat-tempat sunyi, termasuk gua-gua, terutama pada masa penjajahan. Menurut kesaksian keluarga, Mbah Harjo bahkan pernah menjalani laku ekstrem dengan tidur di atas pohon selama bertahun-tahun sebagai bagian dari proses pendalaman spiritual.
Peran dalam Pelestarian Seni Jawa
Di luar sisi spiritual, Mbah Harjo juga dikenal sebagai seniman yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian budaya Jawa. Sejak muda, ia mengenyam pendidikan seni pada masa kolonial Belanda dan menguasai berbagai kesenian tradisional, seperti wayang orang, kuda lumping, lodruk, hingga campursari.
Salah satu peninggalannya yang masih terawat hingga kini adalah barongan kepruk yang dibuat langsung oleh tangan Mbah Harjo. Kesenian tersebut menjadi bukti bahwa ia bukan hanya pelaku spiritual, tetapi juga penjaga kebudayaan yang aktif menanamkan nilai seni kepada generasi berikutnya.
Hingga bertahun-tahun setelah wafatnya, nama Mbah Harjo tetap hidup dalam ingatan masyarakat. Peziarah datang dari berbagai daerah sebagai bentuk penghormatan kepada sosok yang dianggap berjasa, baik dalam ranah spiritual maupun budaya.

Add your first comment to this post