Manfaat dan Tata Cara Puasa Mutih 7 Hari 7 Malam dalam Tradisi Kejawen
- Spiritual
- calendar_month 0 menit yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NusaSpirit.com – Jika menelisik kebudayaan Jawa dari masa ke masa, masyarakatnya dikenal memiliki beragam praktik spiritual yang berkembang secara turun-temurun. Hal ini tidak lepas dari kuatnya pengaruh tradisi leluhur yang dijalani sejak zaman nenek moyang.
Salah satu laku spiritual yang hingga kini masih dijaga adalah puasa. Berbeda dengan puasa pada umumnya, tradisi Jawa menjelaskan bahwa bentuk puasa mempunyai beragam cara dan tujuan.
Di antaranya yang paling dikenal adalah puasa mutih, yang menurut kepercayaan masyarakat Jawa dipandang sebagai sarana pembersihan diri dari unsur-unsur negatif, baik secara fisik maupun metafisik.
Dalam perspektif ajaran leluhur, puasa mutih selama tujuh hari dan tujuh malam bukan sekadar laku spiritual, melainkan bagian dari tirakat yang telah lama dikenal dalam tradisi Kejawen. Laku ini dijalani sebagai bentuk pengendalian diri, penjernihan pikiran, serta upaya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bahkan, puasa mutih kerap dilakukan oleh mereka yang ingin menata kembali kehidupan, mencari ketenangan batin, serta memperbaiki sikap hidup agar lebih selaras dengan nilai-nilai spiritual.
Artikel ini membahas pengertian puasa mutih, manfaat yang dipercaya menyertainya, serta tata cara pelaksanaannya menurut tradisi yang berkembang di masyarakat.
Apa Itu Puasa Mutih?
Puasa mutih merupakan salah satu bentuk tirakat dalam tradisi Kejawen yang dilakukan dengan membatasi konsumsi makanan dan minuman hanya pada yang berwarna putih, seperti nasi putih dan air putih.
Selain pembatasan fisik, puasa ini juga menekankan pengendalian hawa nafsu, ucapan, dan pikiran.
Puasa mutih biasanya dilakukan dalam jangka waktu tertentu, salah satunya selama tujuh hari tujuh malam. Dalam pandangan spiritual Jawa, laku ini bertujuan untuk membersihkan batin, menenangkan pikiran, serta membangun kesadaran diri agar lebih peka terhadap nilai-nilai kehidupan.
Manfaat Puasa Mutih 7 Hari 7 Malam Menurut Kepercayaan Jawa

Ilustrasi laku tirakat dan pengendalian batin dalam tradisi spiritual Jawa. Foto: Pexels
1. Meningkatkan Konsentrasi
Dalam situasi puasa dan tirakat, seseorang didorong untuk mengurangi gangguan dari dunia luar. Hal ini diyakini dapat membantu meningkatkan konsentrasi, menenangkan pikiran, serta memudahkan seseorang dalam merenungkan persoalan hidup dengan lebih bijak.
2. Memperkuat Kesadaran dan Kepercayaan Spiritual
Puasa mutih sering kali digunakan sebagai cara untuk melatih kesabaran dan keikhlasan. Dengan melaksanakan ibadah ini dengan sungguh-sungguh, seseorang diyakini dapat memperkuat kesadaran spiritual serta memperdalam hubungan batinnya dengan Tuhan.
3. Merapihkan Sikap Hidup dan Usaha Mencari Rezeki
Dalam tradisi masyarakat Jawa, keadaan batin yang lebih tenteram yang didapat dari puasa mutih diyakini dapat mempengaruhi sikap hidup seseorang. Sikap yang lebih sabar, fokus, dan rendah hati diyakini dapat membuka peluang untuk usaha yang lebih baik dalam mencari rejeki serta menjalani kehidupan.
4. Mendorong Keharmonisan dalam Rumah Tangga
Puasa mutih juga diyakini mampu membantu seseorang mengendalikan emosi dan pikiran negatif. Dengan batin yang lebih tenteram, komunikasi di dalam hubungan rumah tangga dapat menjadi lebih lancar, sehingga menciptakan hubungan yang lebih harmonis.
5. Meningkatkan Sensitivitas dan Pengendalian Emosi
Melaksanakan laku mutih dipercaya dapat melatih sensitivitas batin dan kemampuan mengendalikan emosi. Seseorang yang menjalankan puasa ini diharapkan menjadi lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan lebih mampu memahami perasaan diri sendiri serta orang lain.
Tata Cara Pelaksanaan Puasa Mutih
Persiapan Sebelum Puasa
Sebelum memulai puasa mutih, dalam tradisi Jawa dianjurkan untuk meminta izin dan restu kepada orang tua, terutama ibu. Selanjutnya, melakukan mandi bersih sebagai simbol pembersihan diri lahir dan batin.
Niat Puasa Mutih
Niat puasa mutih biasanya dibaca pada pagi hari seusai sahur. Ada pula yang membacanya pada waktu magrib, sehingga puasa dilakukan selama 24 jam sebelum berbuka. Salah satu niat yang dikenal dalam tradisi lisan masyarakat Jawa adalah:
“Niat ingsun poso mutih pitung dina pitung bengi, mangastawya mugi putih batinku, putih lakuku, masucian kakang kawah, adi ari-ari, lan sedulur papat lima pancer kanthi ikhlas lillahi Ta’ala.”
Artinya:
“Saya berniat puasa mutih selama tujuh hari tujuh malam, semoga batin dan perilaku saya menjadi bersih, sekaligus membersihkan kakang kawah, adik ari-ari, dan saudara empat serta pusat diri, dengan ikhlas karena Allah Ta’ala.”
Niat ini dibaca dengan penuh kesadaran dan ketulusan hati.
Menghormati Tradisi Sedulur Papat Limo Pancer
Dalam tradisi Kejawen, penghormatan terhadap sedulur papat limo pancer (nama sendiri) merupakan cara untuk mempertahankan keseimbangan spiritual dan kesadaran diri. Praktik ini dilakukan sebagai bagian dari ibadah dan refleksi diri selama berpuasa.
Menjaga Konsistensi dan Keseriusan
Selama menjalankan puasa mutih, sangat penting untuk menjaga perkataan, perilaku, dan pikiran. Selain menahan lapar, praktik ini membantu melatih kesabaran, kejujuran, dan ketenangan batin.
Catatan
Artikel ini disajikan sebagai informasi budaya dan tradisi spiritual masyarakat Jawa. Pengalaman dan hasil yang dirasakan setiap individu dapat berbeda-beda, tergantung keyakinan, kondisi pribadi, dan usaha masing-masing. Tradisi ini tidak dimaksudkan sebagai jaminan hasil tertentu dan tidak menggantikan ikhtiar nyata dalam kehidupan sehari-hari.
FAQ Puasa Mutih dalam Tradisi Kejawen
Apa itu puasa mutih?
Puasa mutih adalah laku tirakat dalam tradisi Kejawen yang dilakukan dengan membatasi konsumsi makanan dan minuman sederhana, umumnya nasi putih dan air putih, serta disertai pengendalian diri.
Berapa lama puasa mutih biasanya dilakukan?
Durasi puasa mutih beragam, mulai dari satu hari hingga tujuh hari tujuh malam, tergantung niat dan kemampuan pelakunya.
Apa manfaat puasa mutih menurut kepercayaan Jawa?
Dalam tradisi Jawa, puasa mutih diyakini membantu melatih kesabaran, ketenangan batin, dan pengendalian emosi.
Apakah puasa mutih wajib dilakukan?
Puasa mutih bukan ibadah wajib dan tidak mengikat. Praktik ini merupakan bagian dari tradisi budaya dan spiritual masyarakat Jawa.
Apakah puasa mutih aman untuk semua orang?
Puasa mutih tidak dianjurkan bagi semua orang, terutama yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Pertimbangan kondisi fisik sangat dianjurkan sebelum menjalankannya.

Add your first comment to this post