Ikuti Kami

light_mode
light_mode
Beranda » Spiritual » Makna Ubo Rampe atau Sesajen Dalam Tradisi Jawa beserta Macam-macamnya

Makna Ubo Rampe atau Sesajen Dalam Tradisi Jawa beserta Macam-macamnya

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

NusaSpirit.com – Bagi masyarakat Jawa, istilah ubo rampe masih sangat familiar di kalangan tradisional. Namun, di era modern seperti sekarang, tidak sedikit masyarakat yang belum memahami sepenuhnya makna dari ubo rampe.

Ubo rampe, merujuk dari naskah klasik Jawa Serat Centhini yang disusun pada abad ke-19, dikenal sebagai rangkaian sesaji atau hasil sedekah bumi. Ubo rampe biasanya digunakan dalam berbagai ritual penting pada upacara adat, seperti larung sesaji, jebol deso, selapanan bayi, mitoni atau tingkeban, pernikahan dan lainnya.

Ritual-ritual tersebut digelar sebagai simbol tolak bala, sekaligus wujud penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kelimpahan dan rezeki yang dianugerahkan kepada pemilik hajat maupun masyarakat sekitar.

Namun dalam praktiknya, ada pula yang menggunakan sajen atau ubo rampe untuk keperluan lain yang berkaitan dengan ranah spiritual, seperti persembahan kepada leluhur di area khusus yang dianggap sakral.

Selain itu, ubo rampe juga digunakan oleh kalangan paranormal sebagai media khusus yang berkaitan dengan pusaka atau ageman dalam tradisi masyarakat Jawa.

Tidak sedikit dari mereka yang masih menjalankan tradisi ini sebagai bentuk uri-uri warisan nenek moyang, agar tetap lestari dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman.

Dalam prosesinya, ubo rampe sering disajikan dalam bentuk sederhana namun sarat makna. Beberapa di antaranya seperti ingkung ayam, nasi tumpeng, jajanan pasar, kembang setaman, kemenyan, rokok klobot hingga air kendi yang disesuaikan dengan tujuan dan harapan pemilik hajat.

Setiap unsur tersebut tidak dimaknai secara sembarangan, melainkan memiliki simbol dan filosofi tersendiri menurut kepercayaan lokal.

Macam-Macam Ubo Rampe atau Sesaji dalam Tradisi Jawa

1. Ingkung Ayam

Ayam ingkung sebagai bagian dari ubo rampe dalam tradisi Jawa

Ilustrasi ayam ingkung dalam ubo rampe tradisi Jawa

Ingkung ayam melambangkan kepasrahan dan doa agar manusia selalu eling lan waspada kepada Tuhan. Di beberapa daerah, ada pula yang memberi ikatan pada kaki ingkung ayam. Bagi masyarakat setempat, hal ini dimaknai sebagai simbol agar rezeki tetap menetap bagi pemilik hajat.

2. Kembang Setaman

Kembang Setaman

Ilustrasi Kembang Setaman

Kembang setaman dimaknai sebagai simbol kesucian, doa, serta penghubung batin antara manusia, alam, dan leluhur. Kehadirannya dipercaya mampu menciptakan suasana sakral dalam setiap prosesi ritual yang dijalankan.

Umumnya, kembang setaman terdiri dari bunga mawar merah atau putih, melati, kenanga, dan kantil. Seluruh campuran bunga tersebut biasanya disiram air bersih atau air bunga, kemudian diberi minyak non alkohol, lalu disajikan dalam wadah sederhana.

3. Nasi Tumpeng

Nasi Tumpeng

Ilustrasi nasi tumpeng

Nasi tumpeng dalam ubo rampe dimaknai sebagai simbol rasa syukur atas rezeki dan kehidupan yang telah dianugerahkan. Bentuknya yang mengerucut ke atas sering diartikan sebagai harapan agar doa dan niat manusia senantiasa mengarah kepada Tuhan Yang Maha Tinggi.

Selain itu, nasi tumpeng biasanya dikelilingi oleh berbagai hidangan pelengkap, seperti ayam ingkung, sayuran urap, telur rebus, serta tujuh macam lauk pauk yang melambangkan kelimpahan dan keseimbangan hidup.

4. Bubur Merah Putih

Bubur merah putih

Ilustrasi bubur merah putih

Bubur merah putih (jenang abang putih) biasanya hadir dalam ubo rampe yang berkaitan dengan kelahiran, selapanan bayi (35 hari), atau berbagai ritual keluarga.

Menurut pitutur nenek moyang, warna merah dan putih dimaknai sebagai lambang keberanian dan kesucian, sekaligus doa serta harapan akan keselamatan dan ketenteraman hidup.

5. Jajanan Pasar

Jajanan pasar

Ilustrasi beragam jajanan pasar

Jajanan pasar menjadi bagian penting dalam ubo rampe karena melambangkan kesederhanaan dan kebersamaan. Sajian ini biasanya berupa kue cucur, nagasari, apem, dadar gulung, klepon, hingga onde-onde, yang dimaknai sebagai bentuk sedekah serta ajakan untuk berbagi rezeki kepada sesama.

6. Kemenyan

Kemenyan

Ilustrasi kemenyan sebagai unsur wewangian

Kemenyan digunakan sebagai sarana pendukung dalam ritual yang bersifat sakral. Asap kemenyan dipercaya sebagai pengantar doa dan niat, sekaligus simbol penghormatan kepada leluhur serta penanda dimulainya prosesi adat.

7. Air Kendi

Gambar kendi

Ilustrasi Kendi berisi air simbol pensucian

Air kendi melambangkan kesucian dan sumber kehidupan. Air ini biasanya dimaknai sebagai simbol pembersihan lahir dan batin sebelum atau sesudah ritual dilakukan, serta harapan agar kehidupan senantiasa mengalir dengan lancar dan penuh keberkahan.

8. Pisang Raja

Gambar pisang raja

Ilustrasi pisang raja

Pisang raja dalam ubo rampe dimaknai sebagai simbol kemuliaan, kewibawaan, dan harapan hidup yang mapan. Kata raja sendiri melambangkan derajat yang luhur, sehingga pisang raja sering dihadirkan sebagai doa agar pemilik hajat diberi kelapangan rezeki, kehormatan, serta kehidupan yang cukup dan bermartabat.

9. Kinang Lengkap

Gambar kinang lengkap

Ilustrasi kinang lengkap

Kinang lengkap atau sirih lengkap terdiri dari daun sirih, gambir, kapur, pinang, dan tembakau. Dalam tradisi Jawa, kinang dimaknai sebagai simbol persaudaraan, penghormatan, dan keterbukaan hati. Kehadirannya menjadi perlambang penyatuan niat serta sarana penghormatan kepada leluhur dan sesepuh, sekaligus pengingat agar manusia selalu menjaga tata krama dan adab.

10. Rokok Klobot

Gambar rokok klobot

Ilustrasi Rokok Klobot

Rokok klobot, yaitu rokok yang dibungkus daun jagung kering, dimaknai sebagai simbol kesederhanaan dan kedekatan dengan alam. Dalam konteks ubo rampe, rokok klobot sering dianggap sebagai sarana pelengkap sesaji yang melambangkan laku prihatin, kerendahan hati, serta penghormatan kepada leluhur yang diyakini menyukai hal-hal sederhana.

11. Minyak Non Alkohol

Gambar minyak non alkohol

Ilustrasi minyak non alkohol

Minyak non alkohol biasanya digunakan sebagai pelengkap ubo rampe. Minyak ini dimaknai sebagai simbol keharuman dan kesucian dalam prosesi ritual. Umumnya, minyak yang disuguhkan berupa jafaron, srimpi, atau fambo, dan dipakai secukupnya pada bunga setaman atau perlengkapan adat lainnya.

12. Ayam kampung hidup

Gambar ayam kampung

Ilustrasi Ayam Kampung

Ayam kampung hidup dalam ubo rampe dimaknai sebagai simbol kehidupan, ketulusan, dan kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Kehadirannya melambangkan doa agar kehidupan pemilik hajat senantiasa diberi keselamatan, kelancaran rezeki, serta dijauhkan dari mara bahaya.

Dalam beberapa tradisi, ayam kampung hidup juga dimaknai sebagai perlambang pengganti bala atau sengkala, yang kemudian dilepas atau diperlakukan sesuai adat setempat. Hal ini mencerminkan harapan agar segala hal buruk yang mengancam dapat dialihkan, sehingga kehidupan kembali aman sentosa.

Add your first comment to this post

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi perahu besar di laut saat matahari terbenam, menggambarkan perjalanan hidup dan rezeki menurut Primbon Jawa.

    7 Arti Mimpi Naik Perahu Besar Menurut Primbon Jawa, Simbol Perjalanan Hidup dan Rezeki

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Mimpi sering kali hadir tanpa undangan, muncul di sela-sela tidur, lalu meninggalkan rasa penasaran saat seseorang terbangun. Salah satu mimpi yang cukup sering dialami dan memunculkan banyak pertanyaan adalah mimpi menaiki perahu besar, baik di laut maupun di sungai. Dalam Primbon Jawa, mimpi naik perahu besar sering dikaitkan dengan perjalanan hidup, rezeki, serta […]

  • Ilustrasi tradisi Lawadan di Tulungagung: warga mengarak sesaji dan hasil bumi dalam upacara adat

    Ritual Lawadan Tulungagung: Jejak Sejarah, Mitos Buaya Putih, dan Tradisi Bersih Desa yang Terus Dilestarikan

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Tidak banyak daerah di Jawa Timur yang memiliki tradisi bersih desa dengan latar sejarah, mitos, dan ritual sekompleks Desa Wates, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Dalam penuturan masyarakat setempat, Desa Wates dikenal memiliki sebuah upacara adat yang dahulu digelar pada awal Bulan Suro dan disebut sebagai Ritual Lawadan. Bagi warga lokal, ritual ini bukan […]

  • Ilustrasi simbol shio dalam astrologi Tionghoa. 3 Play Button

    Astrologi Tionghoa Ungkap 5 Shio yang Dinilai Paling Beruntung Secara Finansial di 2026

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Tahun 2026 dikenal sebagai Tahun Kuda Api, sebuah periode yang diyakini membawa dominasi unsur api dan sifat Yang yang kuat. Energi ini sering dikaitkan dengan semangat tinggi, dorongan untuk bergerak maju, serta keberanian mengambil langkah penting dalam hidup. Dalam pandangan astrologi Tionghoa, shio tidak berdiri sebagai ramalan mutlak, melainkan sebagai simbol karakter dan […]

  • Ilustrasi lokasi Prapat Kurung Surabaya dengan pohon bidara dan teralis besi.

    Misteri Prapat Kurung Surabaya dan Sejarah Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Tak jauh dari jantung Kota Surabaya, terdapat sebuah lokasi yang sejak lama diyakini keramat oleh warga setempat, tidak hanya oleh masyarakat umum, tetapi terutama oleh komunitas Muslim keturunan Tionghoa. Tempat itu bernama Prapat Kurung, terletak di sebuah taman kota di kawasan Prapat Tegal, Kelurahan Perak Utara, Kecamatan Pabean Cantikan, Surabaya. Lokasi ini tidak […]

  • gambar zodiak lengkap

    Ramalan Zodiak Besok Kamis, 5 Februari 2026: Asmara, Keuangan, dan Karier Lengkap

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Besok, Kamis, 5 Februari 2026, bintang-bintang membawa energi yang berbeda untuk setiap zodiak. Ada yang terdorong untuk lebih banyak berpikir dan merenung, ada pula yang mendapat peluang keberuntungan tak terduga. Beberapa zodiak akan merasakan emosi yang lebih kuat dari biasanya, sementara yang lain mulai melihat sinyal positif dalam urusan keuangan. Namun, sebagian orang […]

  • Ilustrasi foto perempuan tidur saat senja

    Mengapa Orang Tua Jawa Melarang Tidur Saat Magrib? Inilah Alasannya Menurut Petuah Leluhur

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • 0Komentar

    NusaSpirit.com – Tidur di siang hari pada dasarnya berfungsi untuk mengembalikan kondisi tubuh yang lelah setelah menjalani aktivitas padat. Secara medis, istirahat singkat justru dapat membantu menjaga konsentrasi dan stamina. Namun, berbeda halnya dengan tidur pada waktu menjelang malam, khususnya saat magrib. Bagi sebagian masyarakat yang masih memegang erat tradisi dan nilai budaya, terutama yang […]

expand_less