Makam Mumbul Sidoarjo, Jejak Karomah Mbah Sayyid, Ulama Penyebar Islam yang Tak Pernah Terkubur
- Spiritual
- calendar_month Selasa, 20 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Wilayah Angker yang Tak Berani Dijamah
Sebelum kedatangan Mbah Sayyid, Klagen dikenal sebagai kawasan yang jarang didatangi manusia. Hutan lebat dengan pepohonan besar menjadi habitat binatang buas, sementara kepercayaan lokal menyebut tempat tersebut sebagai pusat berkumpulnya makhluk halus. Banyak orang meyakini bahwa siapa pun yang nekat masuk ke wilayah itu tak akan pernah kembali.
Namun kehadiran Mbah Sayyid mengubah segalanya. Dengan keyakinan dan ilmu agama yang dimilikinya, ia bersama para santri mulai membuka lahan, menetap, dan perlahan mengikis ketakutan masyarakat. Seiring waktu, penduduk dari berbagai daerah mulai berdatangan dan menetap, hingga terbentuklah sebuah kampung yang kemudian berkembang menjadi Dusun Klagen.
Di tengah proses itulah, Mbah Sayyid menjalankan perannya sebagai pendakwah. Ia mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat yang sebelumnya belum mengenal agama tersebut. Dakwah dilakukan secara perlahan, menyatu dengan kehidupan sehari-hari warga, hingga akhirnya Islam diterima dan dianut oleh sebagian besar penduduk.
Wafatnya Sang Ulama dan Keanehan yang Terjadi
Setelah bertahun-tahun menetap dan berdakwah, Mbah Sayyid wafat di wilayah Klagen. Prosesi pemakaman dilakukan sesuai ajaran Islam seperti dimandikan, dishalatkan, dan dikafani. Tidak ada yang janggal hingga jasad dimakamkan ke dalam liang lahat. Namun keesokan harinya, warga dikejutkan oleh pemandangan yang sulit dijelaskan nalar.
Bagian dari pusara, seperti kain kafan atau penutup makam, terlihat kembali berada di atas gundukan tanah makamnya. Mengira ada tangan jahil, warga kembali menimbunnya. Anehnya, kejadian serupa kembali terulang. Setiap kali ditimbun, bagian tersebut selalu muncul ke permukaan.
Peristiwa itu terjadi berulang kali hingga akhirnya para santri dan tokoh masyarakat memutuskan untuk bermunajat memohon petunjuk. Dari hasil doa dan perenungan, mereka meyakini bahwa bagian pusara tersebut memang tidak berkehendak untuk terkubur sepenuhnya ke dalam tanah. Keyakinan itu pun diterima dengan lapang dada.
Kain kafan dan penutup makam kemudian hanya ditata kembali dan dibiarkan berada di atas permukaan tanah, dilindungi keranda bambu sederhana. Sejak saat itu, pusara ini dikenal dengan sebutan Makam Mumbul, istilah dalam bahasa Jawa yang berarti “muncul”.
Kisah-Kisah Aneh di Sekitar Makam
Seiring waktu, Makam Mumbul tidak hanya dikenal karena keunikan bagian pusaranya, tetapi juga berbagai peristiwa ganjil yang dipercaya berkaitan dengan karomah Mbah Sayyid. Beberapa kejadian dialami oleh orang-orang yang bersikap tidak hormat terhadap lokasi ini.
Salah satu kisah yang paling sering diceritakan adalah tentang seseorang yang nekat mengambil tali kafan dari pusara Mbah Sayyid untuk dijadikan jimat. Tak lama setelah itu, orang tersebut mengalami gangguan kejiwaan hingga akhir hayatnya.
Selain itu, pada masa penjajahan Belanda, makam ini sempat hendak dipindahkan karena rencana pembangunan pabrik. Namun upaya tersebut urung dilakukan setelah para pekerja yang ditugaskan mengalami sakit misterius.
Ada pula cerita tentang sekelompok orang yang pernah menggunakan area sekitar makam untuk pesta minuman keras. Tak lama berselang, satu per satu dari mereka jatuh sakit dan meninggal dunia. Peristiwa-peristiwa inilah yang membuat warga semakin menjaga kesakralan Makam Mumbul.

Add your first comment to this post