Makam Joko Tingkir: Sukoharjo, Sragen, atau Lamongan?
- Spiritual
- calendar_month Kamis, 5 Feb 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NusaSpirit.com – Mas Karebet, yang lebih dikenal dengan nama Joko Tingkir, adalah tokoh sentral yang dianggap berjasa sebagai pendiri sekaligus Raja Kesultanan Pajang. Kesultanan ini berada di sekitar wilayah Surakarta (Solo) pada abad ke-16, tepatnya antara tahun 1549 hingga 1582 M.
Keberadaan makam Mas Karebet sejak lama memunculkan perdebatan di kalangan sejarawan dan masyarakat. Sebagian meyakini makamnya berada di Lamongan, Jawa Timur, sementara yang lain bersikeras lokasinya ada di Sragen, Jawa Tengah.
Namun, keyakinan yang paling banyak diterima muncul dari Sukoharjo, di mana kompleks yang dikenal sebagai Benowo-Benawi diyakini sebagai pesarean Joko Tingkir. Berdasarkan arsip kebudayaan, kompleks ini terletak di Dusun Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.
Tempat ini tidak hanya menjadi tujuan peziarah untuk menjalankan ritual spiritual, tetapi juga dikenal sebagai lokasi untuk meminta berkah. Beberapa versi sejarah menyebut bahwa Joko Tingkir memiliki peristirahatan terpisah dengan sang istri, sehingga terdapat dua kuburan utama di kompleks Benowo-Benawi.
Untuk melindungi identitasnya dari kerusakan politik dan persaingan kekuasaan di masa lalu, nama asli dan identitas makam sengaja disembunyikan, sehingga hanya dikenal sebagai Benowo-Benawi oleh masyarakat sekitar.
Dahulu, area ini dikelilingi pagar tembok setinggi sekitar tiga meter, memberi kesan seperti benteng keraton. Kini, sebagian pagar telah hilang akibat kerusakan.
Di dalam kompleks terdapat lima bangunan pemakaman utama, yaitu dua untuk Joko Tingkir dan istrinya, serta tiga lainnya yang diyakini milik Kyai Sanggar, Kyai Kandang, dan beberapa tokoh bangsawan lainnya. Panjang dan tinggi bangunan ini lebih besar dibanding makam biasa, menandakan status sosial dan spiritual pemiliknya di masa lampau.
Selain itu, di lokasi tersebut juga terdapat batu-batuan kotak kuno berbentuk cekung, yang konon digunakan sebagai alas duduk bagi sejumlah pejabat Kerajaan Mataram. Saat ini, batu-batu itu disimpan di salah satu rumah warga, dan hanya dapat dilihat serta dipelajari oleh sejarawan atau pihak yang berkompeten.

Add your first comment to this post