7 Tanda Seseorang Akan Dinaikkan Derajatnya Menurut Primbon Jawa, Kenali Sejak Awal
- Primbon
- calendar_month Kamis, 29 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NusaSpirit.com – Setiap orang tentu menginginkan kehidupan yang berkecukupan, baik dalam hal materi maupun kebahagiaan batin. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa untuk mencapai kondisi tersebut diperlukan proses panjang yang tidak selalu mudah.
Ada fase-fase sulit yang harus dilalui, bisa berupa cobaan yang datang silih berganti, bahkan kegagalan yang terkadang membuat seseorang ingin menyerah.
Dalam tradisi Jawa, perjalanan hidup manusia tidak hanya dipandang dari sudut pandang logika, tetapi juga dari sisi spiritual dan filosofi leluhur.
Salah satu rujukan yang masih dipercaya sebagian masyarakat hingga kini adalah primbon Jawa. Di dalamnya terdapat berbagai tanda yang dipercaya menunjukkan bahwa seseorang sedang berada dalam fase menuju kenaikan derajat hidup.
Kenaikan derajat dalam pandangan Jawa tidak selalu berarti kaya raya atau memiliki jabatan tinggi. Lebih dari itu, derajat juga dimaknai sebagai ketenangan batin, kesejahteraan hidup, serta rasa cukup dan syukur dalam menjalani kehidupan.
Berikut ini tujuh tanda seseorang akan naik derajat menurut primbon Jawa yang masih dipercaya hingga sekarang.
1. Ujian Hidup Datang Bertubi-tubi
Dalam Primbon, cobaan hidup sering dimaknai sebagai tahapan proses penempaan batin. Seseorang yang dipercaya akan naik ke tingkat yang lebih tinggi diyakini akan diuji melalui berbagai masalah, baik yang berkaitan dengan ekonomi, keluarga, asmara, maupun pekerjaan.
Ujian tersebut dipercaya sebagai cara alam dan Tuhan untuk membentuk kekuatan mental, kesabaran, serta kebijaksanaan seseorang sebelum diberikan keberkahan yang lebih besar.
Tidak hanya itu, Primbon juga menyebutkan bahwa orang yang mampu melalui ujian tersebut dengan sabar dan tidak putus asa, diyakini impian yang selama ini diharapkan akan lebih mudah tercapai dan menjadi kenyataan.
2. Mimpi sebagai Isyarat Perubahan Nasib
Tidak hanya ujian hidup yang mengindikasikan kenaikan derajat seseorang, namun peringatan melalui mimpi yang hadir dalam diri juga dipercaya memiliki petunjuk penting.
Dalam Primbon Jawa disebutkan bahwa beberapa fenomena mimpi tertentu berkaitan erat sebagai pertanda perubahan nasib seseorang, seperti mimpi melihat cahaya terang, mimpi kejatuhan bulan, atau mimpi berada di tempat suci.
Selain itu, mimpi bertemu dengan para nabi atau tokoh suci , mimpi memakai mahkota emas, hingga melihat diri sendiri dalam kondisi yang lebih baik sering dimaknai sebagai simbol akan datangnya peningkatan derajat hidup.
3. Kejatuhan Pulung/ Lintang Andaru
Istilah kejatuhan pulung cukup populer dalam tradisi Jawa. Pulung dipercaya sebagai energi keberuntungan atau restu takdir alam yang turun kepada seseorang.
Dalam cerita rakyat, pulung atau yang lebih dikenal sebagai Lintang Andaru sering digambarkan sebagai cahaya berwarna kehijauan yang melesat jatuh ke rumah seseorang. Konon, peristiwa langka ini menjadi simbol keberkahan bagi orang yang kelak akan menjadi pemimpin atau orang terpandang.
Meskipun di zaman sekarang fenomena tersebut sangat jarang terjadi, di berbagai daerah, khususnya wilayah pelosok, kejadian mistis ini masih dipercaya bisa berlangsung.
Secara simbolis, kejatuhan pulung dimaknai sebagai datangnya rezeki besar, perubahan nasib, atau peningkatan kedudukan sosial. Namun, pulung juga diyakini datang kepada mereka yang siap secara batin dan moral.
4. Mendapat Pituduh atau Wangsit dalam Hidup
Dalam primbon Jawa, seseorang yang akan naik derajat sering mendapatkan pituduh atau wangsit. Pituduh ini bisa berupa melalui mimpi, firasat batin, atau nasihat dari orang bijak yang dianggap sebagai petunjuk arah hidup.
Wangsit tidak selalu berkaitan dengan kekayaan materi. Lebih dari itu, wangsit dipercaya membantu seseorang menemukan tujuan hidup, mengambil keputusan penting, dan hidup selaras dengan keadaan. Dalam pandangan Jawa, orang yang mendapat pituduh biasanya memiliki batin yang lebih tenang dan tidak mudah goyah oleh keadaan.
5. Dipertemukan dengan Guru atau Orang yang Membimbing
Tanda lain yang dipercaya dalam tradisi Jawa adalah dipertemukan dengan sosok guru atau pembimbing. Sosok ini bisa berupa orang tua, tokoh agama, guru spiritual, atau orang yang memberi nasihat dan inspirasi.
Pertemuan dengan pembimbing dipercaya sebagai petunjuk bahwa seseorang sedang diarahkan menuju kehidupan yang lebih baik. Dalam filosofi Jawa, guru dianggap sebagai perantara ilmu dan kebijaksanaan yang membantu seseorang naik ke tingkat kehidupan yang lebih luhur.
6. Hati Menjadi Lebih Tenang dan Ikhlas
Primbon Jawa juga menekankan pentingnya kebersihan batin. Seseorang yang akan naik derajat dipercaya mengalami perubahan batin, seperti lebih tenang, tidak mudah iri, dan lebih ikhlas menerima keadaan.
Ketenangan batin dianggap sebagai pintu datangnya pulung dan keberkahan rezeki. Dalam falsafah Jawa, orang yang mampu menata batin diyakini akan lebih mudah mencapai kesejahteraan hidup.
7. Perubahan Nasib Terjadi Secara Perlahan Tanpa Disadari
Kenaikan derajat dalam pandangan Jawa tidak selalu datang secara drastis. Banyak orang mengalami perubahan nasib secara perlahan melalui kebiasaan baru, peluang yang muncul, dan kemudahan hidup yang datang sedikit demi sedikit.
Seseorang sering tidak menyadari bahwa dirinya sedang naik derajat, karena perubahan terjadi secara bertahap. Dalam primbon, hal ini dianggap sebagai tanda bahwa seseorang sedang berada di jalur yang tepat dalam kehidupan.
Dalam filosofi Jawa, derajat hidup tidak hanya diukur dari harta dan jabatan. Derajat yang luhur juga mencakup ketenangan batin, kesejahteraan hidup, serta rasa cukup dan syukur. Orang yang merasa cukup dengan rezeki yang dimiliki dan hidup selaras dengan keadaan dianggap telah mencapai kemuliaan sejati.
Pepatah Jawa bahkan menyebutkan, “sugih tanpa banda, mulya tanpa drajat”, yang berarti seseorang bisa merasa kaya tanpa harta dan mulia tanpa jabatan. Inilah pandangan hidup yang menempatkan kebahagiaan batin sebagai puncak derajat manusia.
Tujuh tanda naik derajat menurut primbon Jawa di atas merupakan bagian dari kepercayaan dan warisan budaya yang telah hidup turun-temurun. Meski tidak bersifat mutlak, banyak orang masih menjadikannya sebagai bahan renungan dan pengingat untuk memperbaiki diri.

Add your first comment to this post