Ritual Kungkum di Sungai Complang Jejak Dewi Kilisuci dan Tradisi Sewindu Warga Kediri
- Spiritual
- calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jejak Legenda Dewi Kilisuci
Akar ritual Kungkum tidak bisa dilepaskan dari legenda Dewi Kilisuci, putri Raja Kediri yang dikenal memiliki kecantikan seolah bak bidadari. Dalam cerita tutur yang diwariskan dari generasi ke generasi, Dewi Kilisuci menjadi simbol keteguhan sikap dan kecerdikan seorang perempuan bangsawan Jawa.
Konon, paras indah Dewi Kilisuci mampu menarik perhatian banyak pangeran. Di antara para pelamar, dua sosok bersaudara Lembu Suro dan Mahesa Suro datang dengan niat meminang disertai ancaman. Jika lamaran mereka ditolak, Kerajaan Kediri akan diserbu.
Menghadapi tekanan itu, Dewi Kilisuci tidak memilih jalan perselisihan. Namun, ia mengajukan sebuah sayembara di mana kedua pangeran diminta untuk membuat sumur di sebuah gunung batu. Bagi siapa yang berhasil lebih dulu sebelum ayam jantan berkokok, maka dialah yang akan dipilih menjadi suaminya.
Dengan kesaktian mereka, penggalian berlangsung cepat. Namun pada akhirnya, kecerdikan Dewi Kilisuci membuat kedua pangeran itu terjebak oleh keserakahan dan ambisi sendiri. Keduanya dikisahkan tertimbun di dalam sumur, menandai berakhirnya ancaman bagi Kerajaan Kediri.
Peristiwa inilah yang dipercaya menjadi penanda waktu ritual Kungkum, sekaligus asal muasal laku berendam sebagai simbol penyucian dan penolak bala.
Tahapan Ritual yang Tidak Sederhana
Ritual Kungkum tidak dilakukan secara sembarangan. Ada tahapan khusus yang harus dilalui dengan tertib. Prosesi diawali dengan semedi dan pemberian sesaji di pertapaan Dewi Kilisuci yang berada di kawasan Goa Selomangkleng.
Para sesepuh desa memimpin laku batin ini, memanjatkan doa agar ritual berjalan lancar dan membawa berkah bagi seluruh warga.
Semedi berakhir saat terdengar suara ayam jantan berkokok, penanda pergantian malam menuju pagi.
Sebelum menuju sungai, warga menggelar kenduri bersama. Makanan yang disajikan berupa tumpeng nasi gurih, ayam panggang, jamur goreng, terong, tempe, sambal bajak, hingga urap daun melinjo. Setiap jenis makanan memiliki makna simbolik dan disiapkan oleh warga perempuan yang telah ditunjuk sebelumnya.
Puncak ritual adalah saat warga turun ke Sungai Complang untuk melakukan Kungkum. Mereka berendam, sebagian sambil memejamkan mata, sebagian melafalkan doa dalam hati.
Harapan yang dipanjatkan beragam mulai kesembuhan dari penyakit, kelancaran rezeki, jodoh, keturunan, hingga ketentraman batin.
Tidak sedikit warga yang datang dengan membawa niat pribadi yang telah lama dipendam. Dalam suasana alam yang hening, gemericik air sungai menjadi saksi bisu dialog batin antara manusia dan Sang Pencipta.
Bagi masyarakat setempat, Kungkum bukan praktik mistis kosong. Ia adalah laku spiritual, sarana refleksi diri, dan pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam serta leluhur.

Add your first comment to this post