Misteri Gunung Slamet: Mengapa Banyak Pendaki Tersesat?
- Spiritual
- calendar_month Kamis, 15 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NusaSpirit.com – Dalam beberapa tahun terakhir, Gunung Slamet di Jawa Tengah kembali menjadi perbincangan. Bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena berbagai kabar tentang pendaki yang tersesat, menghilang, bahkan ditemukan meninggal dunia.
Cerita-cerita tersebut menyebar dari mulut ke mulut, dari unggahan media sosial, hingga percakapan warga di sekitar lereng gunung.
Setiap kisah menghadirkan potongan pengalaman yang berbeda, namun semuanya bermuara pada satu hal yakni Gunung Slamet bukan gunung yang bisa dipandang sebelah mata.
Pertanyaan pun muncul di benak banyak orang, apa yang sebenarnya terjadi di Gunung Slamet?
Apakah semua peristiwa ini murni akibat kelalaian manusia dan faktor alam, ataukah ada unsur lain yang belum sepenuhnya dapat dipahami?
Gunung Slamet dan Daya Tariknya

Ilustrasi kawasan Gunung Slamet yang dikenal dengan jalur panjang dan hutan lebat.
Gunung Slamet terletak di wilayah Jawa Tengah dan dikelilingi oleh beberapa kabupaten, seperti Pemalang, Brebes, Tegal, Banyumas, dan Purbalingga.
Letaknya yang strategis membuat gunung ini mudah diakses dari berbagai arah, sekaligus menjadi salah satu tujuan favorit para pendaki.
Dengan ketinggian sekitar 3.428–3.432 meter di atas permukaan laut (mdpl), Gunung Slamet dikenal memiliki jalur pendakian yang panjang dan medan yang cukup menantang. Setiap tahun, ribuan pendaki datang, mulai dari pemula hingga mereka yang sudah berpengalaman.
Bagi sebagian orang, Gunung Slamet menawarkan tantangan fisik dan mental. Jalurnya yang panjang, hutan lebat, serta perubahan cuaca yang cepat menjadi daya tarik tersendiri. Namun di balik keindahannya, gunung ini juga dikenal sebagai medan yang menuntut kesiapan ekstra.
Warga sekitar sering menyebut Gunung Slamet sebagai gunung yang “tenang”. Maksudnya bukan sepi atau kosong, melainkan gunung yang jarang memberikan tanda bahaya secara jelas. Justru karena ketenangannya itulah, siapa pun yang lengah bisa dengan mudah kehilangan arah.
Kabar Pendaki Tersesat yang Terus Terulang
Kasus pendaki tersesat di Gunung Slamet bukanlah hal baru. Sejak dulu, cerita tentang orang yang salah jalur atau tidak kunjung turun sudah sering terdengar. Ada yang berhasil ditemukan selamat setelah berhari-hari bertahan di hutan, namun ada pula yang akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.
Dalam beberapa waktu terakhir, termasuk pada Januari 2026, kabar duka kembali muncul dan mengingatkan banyak orang bahwa risiko di Gunung Slamet selalu nyata. Setiap kejadian seakan mengulang pola yang hampir serupa.
Sebagian besar kasus sebenarnya dapat dijelaskan secara logis. Medan Gunung Slamet dikenal cukup seragam, dengan hutan rapat dan jalur yang tampak mirip satu sama lain. Kondisi ini membuat orientasi mudah terganggu, terutama saat kabut turun.
Dalam keadaan lelah, konsentrasi menurun, dan keputusan yang diambil sering kali tidak lagi ideal. Kesalahan kecil bisa berdampak besar, apalagi jika pendaki memaksakan diri untuk terus berjalan.
Namun yang menarik, banyak cerita menyebutkan bahwa sebelum tersesat, para pendaki merasa yakin berada di jalur yang benar. Mereka merasa tidak salah arah, bahkan mengaku sudah sering mendaki gunung. Inilah yang membuat kisah-kisah dari Gunung Slamet terasa berbeda dan terus menjadi bahan pembicaraan.
Lokasi-Lokasi yang Dikabarkan Seram di Gunung Slamet
Selain faktor manusia dan alam, Gunung Slamet juga memiliki beberapa titik yang sejak lama dikenal memiliki suasana berbeda. Tempat-tempat ini kerap disebut dalam cerita pendaki maupun kisah warga sekitar.
Pos Samarantu (Pos 4) – Jalur Bambangan

Pos 4 Pondok Samarantu, area hutan rapat di jalur Bambangan yang kerap disebut memiliki suasana berbeda oleh pendaki
Pos Samarantu merupakan salah satu lokasi yang paling sering dikaitkan dengan kisah misteri. Pos ini berada di jalur Bambangan dan dikenal memiliki suasana yang sangat sunyi.
Beberapa pendaki mengaku merasakan perubahan atmosfer saat melewati area ini, terutama menjelang malam. Hutan terasa lebih rapat, suara alam terdengar berbeda, dan tidak sedikit pendaki yang memilih untuk tidak bermalam di sekitar pos tersebut. Warga setempat menyebut Samarantu sebagai titik pengingat agar pendaki menjaga sikap dan tidak bertindak sembarangan.
Pos 2 dan Area Sekitarnya

Pos 2 Pondok Walang, salah satu titik istirahat awal di jalur pendakian Gunung Slamet.
Pos 2 juga sering muncul dalam cerita pendaki yang mengalami kebingungan arah. Kabut yang cepat turun membuat jarak pandang sangat terbatas. Jalur yang tampak sama dapat menipu persepsi, sehingga pendaki merasa sudah berjalan jauh, padahal berputar di area yang sama.
Pengalaman semacam ini kemudian berkembang menjadi cerita misteri, meskipun banyak yang memahami bahwa kondisi fisik, kelelahan, dan cuaca berperan besar.
Pos 9 dan Pelawangan

Pos 9 Pelawangan, area terbuka sebelum puncak Gunung Slamet dengan kondisi angin dan cuaca yang ekstrem.
Di jalur menuju pelawangan, Pos 9 kerap dikaitkan dengan cerita suara-suara tak biasa pada malam hari. Beberapa pendaki mengaku mendengar suara langkah atau percakapan samar, meski tidak ada kelompok lain di sekitar mereka.
Jalur Bercabang dan Area Terlarang
Gunung Slamet memiliki beberapa jalur bercabang yang tidak direkomendasikan, terutama bagi pendaki pemula. Jalur ini curam, rawan longsor, dan sangat berbahaya saat hujan.
Beberapa kasus hilangnya pendaki sering dikaitkan dengan pilihan jalur yang keliru atau terlalu memaksakan diri. Dalam kepercayaan lokal, jalur-jalur tersebut dianggap bukan untuk dilalui sembarangan.
Masyarakat Jawa sejak lama memandang gunung sebagai ruang yang harus dihormati. Bukan untuk dipuja, tetapi dijaga adabnya. Nasihat seperti menjaga ucapan, menahan emosi, dan tidak meremehkan jalur bukanlah mitos kosong.

Add your first comment to this post