Menelusuri Jejak Sejarah Jakarta: Dari Sunda Kelapa hingga Jakarta Modern
- Berita Budaya
- calendar_month 20 jam yang lalu

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NusaSpirit.com – Jakarta, dengan luas wilayah sekitar 664 km², merupakan salah satu kawasan di Indonesia yang memiliki jumlah penduduk sekitar 11 juta jiwa pada 2025–2026.
Secara geografis, Jakarta terletak di pantai utara Pulau Jawa, berbatasan langsung dengan Provinsi Banten di barat, Jawa Barat di selatan dan timur, serta Laut Jawa di utara.
Populasi masyarakat Jakarta tersebar dari wilayah pesisir hingga kawasan perkotaan, menjadikannya daerah dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia saat ini.
Di balik perannya sebagai pusat aktivitas nasional dan wajah modern yang ditandai gedung-gedung pencakar langit serta hiruk-pikuk penduduknya, Jakarta menyimpan perjalanan sejarah panjang.
Sebelum dikenal dengan nama Jakarta dan berstatus sebagai ibu kota Indonesia, wilayah ini beberapa kali mengalami pergantian nama.
Sunda Kelapa, Awal Mula Jakarta
Jauh sebelum bernama Jakarta, kawasan ini dikenal sebagai Sunda Kelapa. Nama ini merujuk pada Sunda (Kerajaan Sunda) dan Kelapa (pelabuhan atau lumbung rempah), terutama pada era abad ke-16 Masehi, saat sistem perdagangan berkembang pesat.
Pada masa itu, pemerintahan berbentuk kerajaan dan dipimpin oleh Prabu Surawisesa, raja terakhir Kerajaan Sunda.
Letak strategis di pesisir utara Pulau Jawa menjadikan Sunda Kelapa pusat transaksi jual-beli se-Nusantara.
Pedagang dari negeri seberang seperti Tiongkok, India, Arab, hingga berbagai wilayah di kawasan Teluk pun menjadikan pelabuhan ini sebagai titik temu penting untuk aktivitas ekonomi dan pertukaran budaya.
Kondisi tersebut mendorong pembaruan dalam bidang perdagangan, teknologi, hingga kesenian. Keberadaan Sunda Kelapa sebagai pusat perdagangan rempah-rempah juga memengaruhi perkembangan sosial dan politik di wilayah sekitarnya.
Pada tahun 1527, Sunda Kelapa jatuh ke tangan Kesultanan Demak dan berganti nama menjadi Jayakarta.
Jayakarta dan Perubahan Kekuasaan
Tahun 1527 menjadi titik balik signifikan ketika pasukan Fatahillah berhasil merebut Sunda Kelapa dari pengaruh Portugis.
Wilayah ini kemudian diberi nama Jayakarta, yang berarti “kemenangan yang total”. Perubahan nama ini menandai awal kekuasaan Islam di pesisir utara Jawa.
Jayakarta berkembang sebagai kota pelabuhan ramai, namun posisinya juga menjadikannya target bangsa Eropa, terutama Belanda melalui VOC pada awal abad ke-17.
Pada tahun 1619, Jayakarta dihancurkan dan digantikan dengan kota baru bernama Batavia. Di bawah pemerintahan kolonial Belanda, Batavia dirancang sebagai pusat administrasi dan perdagangan dengan tata kota bergaya Eropa.
Meskipun pesat berkembang, Batavia menyimpan sisi gelap kolonialisme. Sistem kerja paksa, segregasi rasial, dan ketidaksetaraan sosial menjadi bagian kehidupan kota ini, menjadikannya simbol kekuasaan sekaligus ruang ketidakadilan bagi masyarakat pribumi.
Pendudukan Jepang dan Lahirnya Nama Jakarta
Pada tahun 1942, Jepang membubarkan Hindia Belanda dan mengambil alih wilayah tersebut. Batavia kemudian berganti nama menjadi Jakarta, singkatan dari Jayakarta, sebagai upaya menghapus jejak kolonial Belanda.
Meskipun periode pendudukan Jepang singkat, hal ini mendorong tumbuhnya semangat nasionalisme. Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, nama Jakarta resmi digunakan, dan kota ini ditetapkan sebagai ibu kota negara Republik Indonesia.
Jakarta Pasca-Kemerdekaan hingga Era Modern
Setelah kemerdekaan, Jakarta berkembang pesat. Pembangunan infrastruktur, urbanisasi, dan perluasan wilayah menarik penduduk dari berbagai daerah, dari Sabang hingga Merauke.
Jakarta kini menjadi kota multikultural dengan beragam etnis, bahasa, dan tradisi. Pertumbuhan cepat juga membawa tantangan, mulai dari kepadatan penduduk, kemacetan, banjir, hingga kesenjangan sosial. Jakarta tetap menjadi kota yang penuh aspirasi sekaligus tantangan bagi jutaan penduduknya.

Add your first comment to this post