Kesaktian Kyai Brojohanilo, Tokoh Sakral Klaten, Jawa Tengah yang Makamnya Tak Pernah Sepi Peziarah
- Spiritual
- calendar_month Senin, 12 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tradisi Wayang Kulit yang Sakral

Ilustrasi pagelaran wayang kulit dalam rangka tradisi Suroan di makam Kyai Brojohanilo, Trucuk, Klaten.
Salah satu tradisi unik yang masih dijaga adalah pagelaran wayang kulit sehari semalam di makam Kyai Brojo Anila.
Tradisi ini digelar setiap tahun, tepatnya pada minggu kedua Bulan Suro menurut penanggalan Jawa. Konon, jika tradisi ini absen digelar, desa diyakini akan mengalami musibah atau pagebluk.
Keyakinan tersebut bukan tanpa dasar. Pada tahun 1990-an, selama tiga tahun berturut-turut, pagelaran wayang kulit sempat tidak digelar. Awalnya, tidak ada firasat apa pun. Namun, setelah tiga tahun absen, mulai muncul kematian mendadak warga satu per satu, tanpa tanda-tanda sakit.
Total sekitar puluhan orang meninggal secara misterius, bahkan ada yang jatuh saat berjalan atau tidak bangun lagi saat tidur.
Kejadian tersebut membuat warga resah dan mencari bantuan paranormal, namun tidak ada yang mampu menjelaskan penyebabnya.
Akhirnya, juru kunci makam Mbah Sastro bersama para sesepuh desa bersepakat untuk kembali menggelar wayang kulit secara sederhana.
“Setelah wayang kembali digelar, kejadian aneh itu berhenti. Sejak saat itu, tradisi ini tidak pernah ditinggalkan lagi,” ujar Mbah Sastro, sebagai bentuk penghormatan kepada Kyai Brojo Anila.
Dalang yang mementaskan wayang kulit di makam ini pun percaya, siapa pun yang ikut pentas akan mendapatkan keberuntungan dan kemampuan, bahkan dipercaya dapat menjadi dalang yang dikenal luas.
Batu Megantoro (Jaran Toleh) yang Sakral

Batu Megantoro atau Jaran Toleh yang berada di kompleks makam Kyai Brojohanilo dan dipercaya memiliki nilai kesakralan tersendiri.
Kepercayaan terhadap kesaktian Kyai Brojohanilo juga tidak dapat dilepaskan dari keberadaan Batu Megantoro, atau yang dikenal masyarakat sebagai Jaran Toleh.
Selain makam, terdapat Batu Megantoro yang dianggap sakral. Batu ini diyakini jatuh dari langit dan menyerupai kepala kuda yang berpaling ke samping. Dalam penafsiran masyarakat setempat, nama Megantoro dimaknai sebagai benda yang berasal dari angkasa.
Legenda setempat menyebutkan, Kyai Brojo Anila bersama istrinya pernah melakukan semedi atau topo broto, hingga menyaksikan sebuah benda jatuh dari langit dengan bentuk menyerupai jaran toleh.
Batu inilah yang kemudian dipercaya sebagai peliharaan rohani Kyai Brojohanilo dan menjadi bagian penting dari kesakralan makam.
Fisik Batu Megantoro yang keras dan menyerupai logam yang biasa digunakan untuk membuat keris kuno semakin menambah keyakinan masyarakat akan kekuatan spiritual yang dikandungnya.
Dalam cerita yang berkembang, kekuatan spiritual Jaran Toleh diyakini dapat menampakkan tanda-tanda tertentu, terutama pada malam-malam khusus, sebagai isyarat akan terjadinya peristiwa besar di desa.
Keanehan Batu Megantoro juga dipercaya terbukti dari beberapa kejadian. Salah satunya, seorang remaja yang meremehkan batu ini mengalami pembengkakan parah pada alat kelaminnya, menyerupai lengan orang dewasa, dan baru sembuh setelah keluarganya memohon di makam Kyai Brojo Anila.
Akibat seringnya orang mengambil batu tersebut, masyarakat akhirnya memagarinya dengan tembok dan pintu besi agar tetap dihormati dan tidak disalahgunakan.

Terima kasih informasinya sangat membantu