Mengapa Orang Tua Jawa Melarang Tidur Saat Magrib? Inilah Alasannya Menurut Petuah Leluhur
- Spiritual
- calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NusaSpirit.com – Tidur di siang hari pada dasarnya berfungsi untuk mengembalikan kondisi tubuh yang lelah setelah menjalani aktivitas padat. Secara medis, istirahat singkat justru dapat membantu menjaga konsentrasi dan stamina.
Namun, berbeda halnya dengan tidur pada waktu menjelang malam, khususnya saat magrib.
Bagi sebagian masyarakat yang masih memegang erat tradisi dan nilai budaya, terutama yang berkaitan dengan ajaran agama, tidur menjelang magrib dipercaya dapat berdampak pada kondisi psikologis seseorang, bahkan sering dikaitkan dengan hal-hal mistis.
Kepercayaan ini bukanlah hal yang dianggap tabu, melainkan keyakinan yang telah hidup sejak zaman dahulu dan terus diwariskan hingga sekarang.
Dalam tradisi Jawa, nasihat orang tua kepada anaknya agar tidak tidur saat magrib merupakan petuah yang sangat umum.
Ungkapan “ora ilok turu wayah magrib” bukan sebuah larangan tanpa makna. Secara harfiah, ungkapan ini menunjukkan perilaku yang dianggap tidak pantas menurut norma dan ajaran leluhur, dengan tujuan mendidik seseorang agar lebih memahami etika dan kesadaran diri.
Selain itu, waktu magrib juga dipandang sebagai masa peralihan, saat siang beranjak ke malam, terang berganti gelap. Dalam fase ini, seseorang dianjurkan untuk tetap sadar, waspada, dan menjaga batin.
Secara analogi, tidur di waktu magrib diibaratkan seperti mematikan lampu ketika senja mulai turun. Tubuh memang beristirahat, tetapi kesadaran ikut meredup.
Inilah sebabnya orang-orang terdahulu melarang anak-anak mereka tidur saat magrib. Ada keyakinan bahwa kebiasaan tersebut dapat membuat pikiran lebih mudah kosong, melamun, bahkan rentan mengalami gangguan psikis, seperti gelisah tanpa sebab, mimpi buruk, atau perasaan tidak nyaman setelah bangun.
Meskipun demikian, fenomena ini bukanlah sekadar mitos kosong. Banyak orang mengaku mengalami kejadian-kejadian aneh yang sulit dijelaskan secara nalar ketika tertidur di waktu senja, baik disengaja maupun tidak.
Sebagian di antaranya merasa kesadarannya seolah keluar dari tubuh, menjalani aktivitas tertentu, atau melihat hal-hal menakutkan hingga akhirnya terbangun.
Menurut cerita nenek moyang, waktu magrib dipercaya sebagai momen yang tepat bagi entitas astral untuk keluar dan menjalankan aktivitasnya.
Selain itu, dari sisi religius, waktu magrib merupakan waktu yang sakral, saat yang dianjurkan untuk berdoa, berzikir, dan berkumpul bersama keluarga.
Karena itulah, tidur pada waktu tersebut dianggap menghilangkan kesempatan untuk mengisi diri secara spiritual.
Bahkan, banyak yang mengaitkan larangan tidur saat magrib dengan ajaran para wali dalam proses penyebaran Islam di tanah Jawa, yang dikenal sebagai Wali Songo.
Dugaan ini diperkuat dengan munculnya tembang Jawa berjudul “Padang Bulan”, yang konon merupakan salah satu metode dakwah dari Sunan Giri, secara tersirat memuat pesan agar tidak tidur menjelang malam.
Lirik Tembang Padang Bulan
Yo pra kanca dolanan ing njaba
Padhang wulan padhange kaya rina
Rembulane sing awe-awe
Ngelingake aja padha turu sore
Lirik tersebut secara jelas memuat ajakan dan peringatan, terutama pada bagian “ngelingake aja padha turu sore”, yang berarti mengingatkan agar tidak tidur di waktu sore atau menjelang malam.
Pesan ini menunjukkan bahwa larangan tidur saat magrib tidak hanya disampaikan melalui nasihat lisan, tetapi juga ditanamkan lewat tembang dan budaya populer pada masanya, agar mudah diterima oleh masyarakat, terutama anak-anak.

Add your first comment to this post