Misteri Makam Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung di Sidoarjo dengan Keajaiban dan Doa yang Terkabulkan
- Spiritual
- calendar_month Rabu, 14 Jan 2026

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NusaSpirit.com – Di Desa Terung Wetan, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, terdapat sebuah makam keramat yang dikenal luas sebagai Makam Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung. Tempat ini menjadi lokasi ziarah sekaligus menyimpan sejarah, misteri, dan keajaiban yang memikat banyak orang.
Nama Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung sering terdengar di masyarakat setempat, tetapi kisah di balik sosok putri cantik ini jarang diketahui. Ia berasal dari garis keturunan kerajaan Majapahit dan memiliki peran penting dalam sejarah awal perkembangan Kadipaten Terung.
Makam ini menjadi saksi bisu perjalanan hidup Raden Ayu, yang dikenal cantik, cerdas, dan gemar berdagang. Keajaiban yang terjadi di makamnya membuat banyak pengunjung percaya bahwa doa yang dipanjatkan di tempat ini bisa dikabulkan, mulai dari urusan jodoh, karier, hingga kesuksesan usaha.
Asal Usul Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung
Sejarah mencatat bahwa Raden Ayu adalah putri dari adipati Adipati Kusen, yang hidup pada akhir masa Kerajaan Majapahit. Wilayah ini dulunya merupakan kadipaten, yang kemudian dikenal sebagai Kadipaten Terung, karena pusat pemerintahannya berada di lokasi makam sekarang.
Nama aslinya adalah Raden Ayu Putri Sundari Cempokowati, sedangkan sebutan “Ontjat Tondo Wurung” diberikan kemudian untuk menggambarkan akhir hidupnya.
Raden Ayu dihukum mati oleh ayahnya sendiri karena dituduh berzinah, meskipun sebenarnya ia tidak bersalah. Dalam bahasa setempat, istilah Tondo Wurung berarti “belum berainah” atau belum melakukan dosa yang dituduhkan padanya.
Tuduhan ini terjadi pada masa kekuasaan Prabu Brawijaya V, raja terakhir Majapahit, yang menerima hadiah persahabatan dari Tiongkok berupa seorang perempuan cantik bernama Putri Campa.
Putri Campa menjadi istri selir Prabu Brawijaya V dan melahirkan seorang putra bernama Husen, kelak dikenal sebagai Raden Patah, pendiri Kerajaan Islam Demak. Raden Patah dan saudaranya, Hasan, dikirim ke Surabaya untuk menimba ilmu agama dan kanuragan dari Sunan Ampel, sebelum akhirnya kembali mengabdi di Majapahit.
Hasan menikah dengan putri Sunan Ampel, Nyai Wilis, dan dari pernikahan inilah lahir Raden Ayu Putri Sundari Cempokowati.
Kehidupan dan Kejayaan Raden Ayu
Raden Ayu mewarisi kecantikan dan sifat-sifat Putri Campa, termasuk kegemaran berdagang. Ia membuka usaha bunga yang berkembang pesat berkat ketekunan dan kepandaiannya. Usahanya menjadi salah satu yang paling sukses di Kadipaten Terung, menarik perhatian pejabat dan tokoh kadipaten.
Suatu hari, saat hendak memotong ranting bunga yang layu, Raden Ayu lupa membawa pangot (pisau khas). Kebetulan, datang seorang pemuda bernama Makdum Ibrahim atau Sunan Bonang, yang hendak membeli bunga.
Raden Ayu meminjam pangot milik Sunan Bonang dengan syarat pangot tidak boleh diletakkan di atas paha saat digunakan. Namun, saat memotong bunga, ia secara tak sengaja meletakkan pangot di pangkuannya. Kejadian ini memunculkan keajaiban pangot lenyap begitu menyentuh pahanya, bersamaan dengan hilangnya sosok Sunan Bonang.
Beberapa bulan kemudian, Raden Ayu, yang masih perawan, mengalami kehamilan misterius. Peristiwa ini menjadi awal tuduhan tak berdasar dari ayahnya.
Tuduhan, Hukuman, dan Keajaiban
Berita tentang kehamilan Raden Ayu tersebar hingga istana, membuat Adipati Terung murka dan menuntut penjelasan. Meski Raden Ayu menjelaskan kebenarannya, Adipati tetap menegakkan hukum dan menjatuhkan hukuman mati.
Eksekusi dilakukan pada Hari Anggoro Kasih atau Selasa Kliwon, di hadapan seluruh petinggi istana dan rakyat. Sebelum dieksekusi, Raden Ayu berwasiat agar jasadnya dilarung di Sungai Bengawan Terung, anak sungai dari Brantas.
Keajaiban terjadi saat perutnya ditusuk dengan keris Korolawang: darah yang keluar beraroma wangi, membuktikan ia tidak bersalah. Ketika perahu yang mengangkut jasadnya dilarung, air sungai mengering dan perahu terdampar, menandai fenomena supranatural yang dipercaya sebagai tanda berkah.
Sejak itu, siapa pun yang berziarah ke makam Raden Ayu diyakini akan mendapatkan berkah. Banyak pengunjung melaporkan keinginan mereka terkabul, mulai dari urusan jodoh, karier, pangkat, hingga kesuksesan usaha.

Makam Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung di dalam ruangan, tempat ribuan pengunjung datang berdoa dan memohon berkah setiap tahunnya.
Bukti Fisik dan Penemuan Arkeologis
Di sekitar makam terdapat bukti fisik yang memperkuat kisah Raden Ayu:
a) Tumpukan batu bata tersusun memanjang seperti tanggul → diyakini bagian tanggul kuno
b) Batu cadas bulat dengan lubang di atasnya → pemberat perahu untuk melarungkan jasad
Artefak ini menunjukkan bahwa kisah Raden Ayu bukan sekadar legenda, melainkan terkait sejarah dan tradisi lokal yang berlangsung turun-temurun.

Dua arca singa di halaman luar makam seolah ‘menjaga’ Makam Raden Ayu Putri Ontjat Tondo Wurung.
Makam Raden Ayu sebagai Tempat Ziarah dan Doa
Kini makam ini menjadi pusat kegiatan spiritual. Ribuan pengunjung datang setiap tahun untuk berdoa dan memohon berkah. Banyak yang percaya doa mereka terkabul, mulai dari urusan jodoh, karier, hingga usaha.
Tradisi ziarah ini melestarikan sejarah sekaligus memperkuat nilai spiritual masyarakat, sama seperti yang terlihat di Makam Kyai Brojo Anila di Trucuk, Klaten

Add your first comment to this post